China Naik Darah Dituding Lakukan Intimidasi di LCS

loading...
China Naik Darah Dituding Lakukan Intimidasi di LCS
China mengecam pernyataan Wapres AS Kamala Harris yang menudinya melakukan intimadasi dan pemaksaan atas klaim kedaulatannya di Laut China Selatan. Foto/India.com
BEIJING - China mengecam pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris yang menudingnya melakukan intimidasi dan pemaksaan atas klaimnya terhadap Laut China Selatan (LCS). Sebagai balasan, China menyebut AS menggunakan retorika tatanan global berbasis aturan untuk mempertahankan penindasan dan perilaku hegemoniknya.

Hal itu diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin dalam sebuah pernyataan.

"Untuk mempertahankan 'Amerika pertama', AS dapat secara sewenang-wenang mencoreng, menekan, memaksa, dan menggertak negara lain tanpa membayar harga apa pun. Ini adalah perintah yang diinginkan AS. Tapi siapa yang akan mempercayai mereka sekarang?," kata Wang seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (24/8/2021).

Dia juga menyinggung penarikan pasukan AS yang sedang berlangsung dari Afghanistan sebagai contoh kebijakan luar negeri "egois" Washington. Penarikan itu menyebabkan Taliban secara signifikan meningkatkan kegiatan militernya di negara itu, yang memuncak jatuhnya ibu kota Kabul ke tangan kelompok pemberontak itu pada 15 Agustus dan tak lama kemudian mendeklarasikan Imarah Islam Afghanistan.



Baca juga: China Sentil AS: Afghanistan Contoh Kegagalan Intervensi Militer

Pernyataan Wang muncul setelah Wakil Presiden AS Kamala Harris mengecam Beijing atas upayanya untuk mengklaim lebih banyak wilayah Laut China Selatan. Ia juga menjanjikan dukungan Washington untuk sekutunya di wilayah tersebut.

Dalam pidato kebijakan luar negeri utama di Singapura, Harris berpendapat bahwa Beijing terus memaksa, mengintimidasi, dan membuat klaim atas sebagian besar Laut China Selatan.

"Tindakan Beijing terus merusak tatanan berbasis aturan dan mengancam kedaulatan bangsa," ujarnya.

"Klaim yang melanggar hukum ini telah ditolak oleh keputusan pengadilan arbitrase 2016, dan tindakan Beijing terus merusak tatanan berdasarkan aturan dan mengancam kedaulatan negara," Wakil Presiden AS itu menambahkan.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top