Krisis Afghanistan Ciptakan Geopolitik Baru

Jum'at, 20 Agustus 2021 - 08:20 WIB
loading...
A A A
Para ahli mengatakan Pakistan sebelumnya kurang senang dengan penguatan hubungan antara Afghanistan, AS, dan India. Apalagi, dengan ekonomi yang terpuruk, mereka merasa rawan. Saat ini, Pakistan patut senang karena pemerintah Afghanistan tertekan Taliban dan AS mundur.

Selain itu, China tidak lagi malu untuk menunjukkan ketertarikannya terhadap Afghanistan, terutama di bidang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan mineral. “China kini akan memainkan peran penting di Afghanistan. Mereka juga dapat meminta Taliban menekan militan di Xinjiang,” kata Misra.

Mukhopadhaya mengatakan Pakistan dan China akan saling mendukung satu sama lain di Afghanistan. Namun, dia meminta China berhati-hati dan tidak terjatuh ke dalam jebakan seperti yang menimpa AS. Rusia dan Iran juga tampak tertarik. Faktanya, diplomat keduanya masih bekerja di Kabul.

Sejak dulu, India tidak pernah memainkan peran sebesar Pakistan, AS, atau Rusia di Afghanistan. Namun, New Delhi selalu terlibat dalam kerja sama keamanan dan budaya. Saat ini, ribuan warga Afghanistan juga berada di India untuk mengenyam pendidikan, bekerja, atau menjalani perawatan.

Tantangan terbesar yang dihadapi India, termasuk negara Asia lainnya, ialah pengakuan pemerintahan Taliban. Keputusan itu akan sulit, khususnya jika Rusia dan China memutuskan mengakui Taliban. Para ahli juga menduga Pakistan akan mengakui Taliban secara resmi seperti pada 1999.

Profesor Politik dari Lancaster University, Amalendu Misra, mengatakan situasi ini memang sulit bagi India. Namun, India dapat menjalin komunikasi terbuka dengan Taliban untuk menjaga stabilitas kawasan. Sebab, India sangat rawan konflik dengan kelompok militan akibat adanya perbedaan pemahaman.

Sebaliknya, India juga dapat bergabung sepenuhnya dengan Eropa dan AS yang terus memberikan tekanan terhadap Taliban. Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson telah memanggil rapat gabungan untuk merespon pemerintahan Taliban di Afghanistan. Namun, konsekwensinya akan lebih besar.

Sementara itu, dengan jatuhnya Kota Kabul, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kabur menuju Uni Emirates Arab (UEA). Kementerian Luar Negeri (Kemlu) UEA menyambut Ghani dan keluarganya atas dasar kemanusiaan. Namun, dalam siaran persnya, Ghani membantah kabur dan meninggalkan negaranya.

“Saya kini berada di UEA untuk mencegah bencana hebat, pertumpahan darah, dan kekacauan,” ujar Ghani. “Saya sedang mencoba melakukan perundingan untuk pulang kembali ke Afghanistan. Berita bahwa saya membawa tumpukan uang adalah kebohongan besar dan tuduhan yang keji.”

Namun, keputusan Ghani pergi ke UEA di tengah krisis membuka ruang kritikan. Bahkan, para pejabat dan politisi elite Afghanistan kecewa dengan Ghani. “Tuhan akan membalas semua perbuatannya, begitupun dengan negara,” kata Kepala Dewan Tinggi Rekonsiliasi Nasional, Abdullah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Transaksi Olein di JFX...
Transaksi Olein di JFX Naik Tembus Rp7,3 Triliun, Timah Ikut Menguat
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Meningkat Jadi 5.208 Orang, 16.740 Luka-Luka
PM Jepang Takaichi:...
PM Jepang Takaichi: Akhirnya Saya Bisa Tidur 5 Jam, Nyetrika dan Jahit!
Rekomendasi
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Mahfud MD Ungkap Alasan...
Mahfud MD Ungkap Alasan KPK Harus Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Singgung Asas Konflik Kepentingan
Mutasi Kejagung, Dirdik...
Mutasi Kejagung, Dirdik Jampidsus hingga Dirdik III Jamintel Diganti
Berita Terkini
Jika Arab Saudi Punya...
Jika Arab Saudi Punya Senjata Nuklir, Kenapa Banyak Negara Khawatir?
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
Siapa Khalil al-Hayya?...
Siapa Khalil al-Hayya? Pemimpin Baru Hamas yang Dikenal sebagai Tangan Kanan Iran di Gaza
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
Serangan AS ke Iran...
Serangan AS ke Iran Tak Punya Strategi, Apakah Trump Sudah Putus Asa?
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved