Taliban Rebut Kandahar dan Herat, Pukulan Telak bagi Afghanistan

Jum'at, 13 Agustus 2021 - 10:28 WIB
loading...
Taliban Rebut Kandahar...
Tank-tank tiba di medan perang, di Kunduz, Afghanistan 7 Juli 2021, saat perang antara pasukan Afghanistan dan Taliban berkecamuk. Foto/REUTERS TV via REUTERS
A A A
KANDAHAR - Taliban mengeklaim telah merebut Kandahar, kota terbesar kedua di Afghanistan, yang akan menjadi pukulan telak bagi pasukan pemerintah Afghanistan. Kelompok itu juga dilaporkan telah merebut Herat, Ibu Kota Provinsi Herat.

Mengutip para saksi, Associated Press melaporkan bahwa Taliban telah merebut kantor gubernur dan bangunan lainnya di Kandahar. Kandahar adalah Ibu Kota Provinsi Kandahar.

Baca juga: Taliban Mengamuk, AS Kerahkan 3.000 Tentara untuk Evakuasi Staf Kedutaan

Para saksi menolak disebutkan namanya secara terbuka karena pemerintah belum mengakui kekalahan tersebut.

“Kandahar benar-benar ditaklukkan. Mujahidin mencapai Lapangan Martir di kota,” tulis seorang juru bicara Taliban di Twitter yang dikutip AFP, Jumat (13/8/2021).

Seorang penduduk kota Kandahar juga mengonfirmasi bahwa Taliban mengendalikan memang kota itu.

Sebelumnya, warga dan jurnalis lokal melaporkan bahwa Herat, kota terbesar ketiga di negara itu, telah jatuh ke tangan kelompok bersenjata Taliban.

Jika jatuhnya dua kota itu terkonfirmasi, maka Taliban sudah merebut 12 ibu kota provinsi di Afghanistan hanya dalam hitungan hari.

Pada hari Kamis, Ibu Kota Provinsi Ghazni; Ghazni, yang berjarak sekitar 130km (80 mil) barat daya ibu kota nasional, Kabul, menjadi ibu kota provinsi ke-10 yang jatuh ke tangan Taliban.

Dari 34 ibu kota provinsi, sudah 10 yang terkonfirmasi jatuh ke tangan kelompok bersenjata tersebut.

Jurnalis Al Jazeera, Charlotte Bellis, yang melaporkan dari Kabul, mengatakan bahwa direbutnya Herat adalah “keuntungan besar” bagi Taliban, dan “kerugian besar” bagi pasukan pemerintah, ketika kelompok bersenjata itu melanjutkan kemajuan militernya di Afghanistan di tengah penarikan pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS) setelah 20 tahun perang.

Sementara itu, sebuah sumber pemerintah mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pemerintah Afghanistan telah menawarkan Taliban bagian kekuasaan selama kekerasan yang meningkat di negara itu berhenti.

Baca juga: Warga Afghanistan: Seolah-olah Domba, Taliban Penggal Anak Saya dan Membuangnya

Sedangkan Dewan Keamanan PBB sedang membahas rancangan pernyataan yang akan mengutuk serangan Taliban di kota-kota besar dan kecil yang menyebabkan korban sipil yang tinggi.

Pernyataan itu juga akan mengancam sanksi atas pelanggaran dan tindakan yang membahayakan perdamaian dan stabilitas Afghanistan.

Pernyataan resmi, yang disusun oleh Estonia dan Norwegia dan dilihat oleh Reuters, harus disetujui secara konsensus oleh 15 anggota Dewan Keamanan PBB.

"Sangat menegaskan bahwa Imarah Islam Afghanistan tidak diakui di PBB dan menyatakan bahwa ia [PBB] tidak dan tidak akan mendukung pembentukan pemerintah mana pun di Afghanistan yang dipaksakan melalui kekuatan militer atau pemulihan Imarah Islam Afghanistan," bunyi rancangan pernyataan itu merujuk pada nama asali Taliban, yakni Imarah Islam Afghanistan.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Brutal! Siswa Ngamuk...
Brutal! Siswa Ngamuk Tembaki SMA di Filipina, 3 Orang Tewas 5 Luka
Rekomendasi
Widyawati Pantau Tio...
Widyawati Pantau Tio Pakusadewo dari Grup WA, Bersyukur Kondisinya Kini Membaik
Hasil Munas Alim Ulama...
Hasil Munas Alim Ulama dan Konbes NU Disambut Positif PWNU Aceh
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
Berita Terkini
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Keir Starmer, PM yang...
Keir Starmer, PM yang Baik, tapi Kenapa Dibenci?
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved