Kubu PM Muhyiddin Menolak Lengser, Raja Malaysia Bakal Tunjuk PM Baru?

Jum'at, 13 Agustus 2021 - 09:12 WIB
loading...
Kubu PM Muhyiddin Menolak...
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin saat pidato seusai menemui Raja Malaysia pada 4 Agustus 2021. Foto/The Star
A A A
KUALA LUMPUR - Para pendukung menolak desakan agar Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin mengundurkan diri setelah kehilangan suara mayoritas di Parlemen. Bahkan, pemimpin Malaysia itu dirumorkan akan membubarkan Parlemen sebagai bentuk perlawanan.

Wakil Presiden Partai Persatuan Pribumi Malaysia (Bersatu), Ronald Kiandee membantah rumor pengunduran diri PM Muhyiddin dalam waktu dekat.

Baca juga: Temui Raja Malaysia, PM Muhyiddin Menolak Lengser

Bahkan, menurut dia, sidang Parlemen untuk menentukan keabsahan Muhyiddin sebagai PM melalui mosi percaya akan digelar sesuai jadwal yang ditentukan pada 6 September.

"Saya tidak terlibat dalam pertemuan dengan Perdana Menteri tadi malam, itu pertemuan antara para pemimpin partai di Perikatan Nasional (PN), saya tidak punya detail," ujarnya.

"Untuk saat ini, sesuai jadwal, sidang Parlemen akan diadakan pada 6 September untuk menentukan keabsahan Perdana Menteri. Jika ada perubahan tanggal akan kami informasikan kemudian,” ujarnya, yang dilansir Utusan, Jumat (13/8/2021).

Ronald yang juga Menteri Pertanian dan Industri Pangan yakin pihak-pihak di komponen PN akan tetap mempercayakan Muhyiddin sebagai PM Malaysia.

“Saya kira secara umum sikap partai-partai PN akan terus memberikan dukungan kuat kepada Muhyiddin untuk terus memimpin negara sebagai Perdana Menteri dalam pemerintahan koalisi PN yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Free Malaysia Today, melaporkan ada spekulasi yang beredar bahwa Kabinet Pemerintah Muhyiddin akan membahas pembubaran Parlemen. Spekulasi muncul setelah PM Muhyiddin kehilangan mayoritas suara pendukung di Parlemen.

Jika pembubaran Parlemen terjadi, maka itu akan membuka jalan untuk pelaksanaan Pemilu ke-15.

Para pengacara konstitusi mengatakan tidak ada kewajiban bagi Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah untuk menerima nasihat apa pun tentang apa yang harus dilakukan setelahnya.

Baca juga: Taliban Mengamuk, AS Kerahkan 3.000 Tentara untuk Evakuasi Staf Kedutaan

Dominic Puthucheary dan Bastian Pius Vendargon keduanya setuju bahwa pembubaran Parlemen adalah kebijaksanaan Raja di bawah Konstitusi Federal. Dia dapat memutuskan tindakan selanjutnya jika Pemilu dianggap tidak bijaksana selama pandemi.

"Konstitusi kemudian memungkinkan Raja untuk memilih kandidat yang paling 'mungkin' untuk mendapat dukungan mayoritas," kata Puthucheary kepada Free Malaysia Today.

“Kata 'mungkin' digunakan karena Raja tidak tahu apakah mereka mendapat kepercayaan dari rakyat dan Dewan Rakyat [Parlemen]. Langkah selanjutnya, sebagai tugas konstitusional, adalah pergi ke Dewan Rakyat dan mendapatkan mosi percaya.”

Dia mengatakan bahwa karena PM Muhyiddin Yassin sampai sekarang belum menguji mayoritasnya di Parlemen, akan adil untuk memanggilnya "perdana menteri de facto, bukan yang konstitusional".

“Sejauh dia diangkat oleh Raja, dia belum mendapatkan dukungan dari Dewan Rakyat seperti yang dipersyaratkan dalam demokrasi parlementer konstitusional.”

Vendargon mengatakan bahwa jika perdana menteri tidak mengundurkan diri, Raja kemudian dapat menginstruksikan dia untuk segera duduk di Parlemen untuk menentukan siapa yang mendapat dukungan mayoritas anggota Parlemen.

“Perdana menteri dapat diinstruksikan untuk meminta Parlemen duduk sehingga anggota Parlemen dapat memutuskan di antara mereka sendiri siapa yang mendapat dukungan mayoritas," katanya.

“Orang itu kemudian dapat kembali kepada Raja dengan mandat Dewan Rakyat dan Raja dapat mengangkatnya sebagai perdana menteri baru.”
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Viral! 3 PRT Indonesia...
Viral! 3 PRT Indonesia Dianiaya di Malaysia, 4 Majikan Ditangkap
5 Kapal Selam Tercanggih...
5 Kapal Selam Tercanggih ASEAN: Hebat Mana Invincible Singapura vs Nagapasa Indonesia?
Kunjungi Indonesia,...
Kunjungi Indonesia, Menlu Malaysia Fokus Kerja Sama Atasi Guncangan Eksternal
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN, Termasuk Kapal Malaysia yang Batal Miliki NSM
3 Alasan Norwegia Batalkan...
3 Alasan Norwegia Batalkan Penjualan Rudal rudal Anti-kapal NSM ke Malaysia
Malaysia Geram dengan...
Malaysia Geram dengan Respons Lemah Dunia atas Norwegia Batalkan Sepihak Penjualan Rudal Canggih
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Harga Minyak Dunia Naik,...
Harga Minyak Dunia Naik, Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Belum Pulih
Rekomendasi
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang,...
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang, Golkar: Entah Apa yang Diseimbangkan, Nanti Rakyat yang Menilai
Vinicius Moncer, Brasil...
Vinicius Moncer, Brasil Gunduli Haiti 3-0
Berita Terkini
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
Batalyon Israel Pembunuh...
Batalyon Israel Pembunuh Hind Rajab Dapat Pukulan Keras di Lebanon Selatan
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Infografis
Deretan Pasal Kontroversial...
Deretan Pasal Kontroversial dalam KUHP Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved