Malaysia Geram dengan Respons Lemah Dunia atas Norwegia Batalkan Sepihak Penjualan Rudal Canggih

Senin, 01 Juni 2026 - 07:11 WIB
loading...
Malaysia Geram dengan...
Malaysia geram dengan respons lemah dunia internasional terkait keputusan Norwegia yang secara sepihak membatalkan penjualan rudal canggih untuk kapal perang Kuala Lumpur. Foto/US Navy
A A A
SINGAPURA - Menteri Pertahanan Malaysia Mohamed Khaled Nordin mengecam respons lemah dari komunitas internasional terkait keputusan sepihak Norwegia membatalkan kesepakatan penjualan rudal dengan Kuala Lumpur. Sikap geram Khaled disampaikan dalam pidato di Shangri-La Dialogue, Singapura.

Dalam pidato yang penuh emosi, Khaled mengatakan "keheningan yang memekakkan telinga" atas pembatalan perjanjian Oslo mengirimkan pesan bahwa negara-negara tertentu "sama sekali di atas pengawasan", mempertanyakan apakah aturan global tunduk pada kehendak kekuatan yang lebih besar.

Baca Juga: Imbas Norwegia Larang Jual Rudal Canggih, Kapal Perang Malaysia seperti Harimau Tanpa Taring

Awal bulan ini, Norwegia—yang merupakan negara anggota NATO—tiba-tiba menghentikan perusahaannya; Kongsberg Defence & Aerospace (KDA), untuk menyelesaikan pengiriman Naval Strike Missiles (NSM) ke Malaysia.

Malaysia mengatakan telah membayar 95 persen dari kontrak tersebut, senilai USD146,4 juta, untuk sistem senjata yang dimaksudkan untuk melengkapi armada kapal tempur pesisirnya.

Khaled mengatakan negara-negara berkembang menghadapi kecaman dan tekanan ketika melanggar perjanjian, tetapi ketika negara-negara kuat atau sekutu mereka melakukan hal yang sama, respons internasional menjadi sangat lemah.

Dia mengatakan kerangka kerja internasional sekarang diabaikan dan "diinterpretasikan secara selektif" ketika tidak selaras dengan kepentingan geopolitik.

"Kemunafikan yang terang-terangan ini sangat merusak legitimasi dan kredibilitas tatanan internasional berbasis aturan," katanya, seperti dikutip dari South China Morning Post, Senin (1/6/2026).

Langkah Oslo juga memicu perselisihan diplomatik, di mana Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengkritiknya sebagai langkah "sepihak dan tidak dapat diterima". Kuala Lumpur sekarang menuntut ganti rugi lebih dari 1 miliar ringgit (USD251,5 juta) dari KDA atas pembatalan kontrak yang ditandatangani pada tahun 2018.

Norwegia membela keputusannya, dengan mengatakan bahwa mereka membatasi ekspor beberapa teknologi pertahanan yang paling sensitif yang dikembangkan Norwegia kepada sekutu dan mitra terdekatnya.

Khaled mengatakan pembatalan kontrak tersebut menimbulkan pertanyaan yang sangat mengkhawatirkan tentang apakah perjanjian internasional dapat dipercaya jika bahkan sebuah negara yang terkenal karena memberikan Hadiah Nobel Perdamaian dapat meninggalkan komitmen tanpa konsekuensi.

Dia mengatakan hubungan internasional tidak lagi diatur oleh prinsip-prinsip, tetapi oleh kehendak dan keinginan pribadi. "Ini adalah lintasan yang sangat berbahaya bagi sistem internasional, terutama jika melibatkan kekuatan besar," katanya.

Sebelumnya, sebuah laporan sejumlah media asing mengatakan bahwa penjualan rudal, yang berisi komponen buatan Amerika, mungkin telah diblokir karena pembatasan ekspor Washington. Tetapi AS menolak klaim tersebut, mengatakan bahwa mereka tidak memiliki peran dalam keputusan Norwegia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
8 Fakta Menarik tentang...
8 Fakta Menarik tentang Norwegia, Negara Paling Bahagia dan Matahari Tak Terbenam di Musim Panas
Iran Ungkap Kelompok...
Iran Ungkap Kelompok Garis Keras yang Sesat Tembaki Kapal untuk Rusak Negosiasi dengan AS
Trump Ungkap 1.000 Rudal...
Trump Ungkap 1.000 Rudal Diarahkan ke Iran Jika Dia Dibunuh
Rusia Terbuka Jika Turki...
Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
Iran Tegaskan Siap untuk...
Iran Tegaskan Siap untuk Pertahanan Skala Penuh, Trump Sebut Gencatan Senjata Berakhir
Bicara dengan Presiden...
Bicara dengan Presiden Iran, PM Pakistan Desak AS dan Iran Komitmen pada Pakta Perdamaian
Inggris vs Norwegia:...
Inggris vs Norwegia: Cuaca Jadi Musuh Utama
Keseleo Lidah, Trump...
Keseleo Lidah, Trump Sebut Kapal Induk AS Diserang Rudal "Republik Islam Jepang"
Usia Tembus Seabad,...
Usia Tembus Seabad, Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad Ulang Tahun Ke-101
Rekomendasi
Kasus Febrie Adriansyah...
Kasus Febrie Adriansyah Dilimpahkan ke Kejagung, Pakar: Proses Hukum Harus Transparan
Prabowo Panggil Menhan,...
Prabowo Panggil Menhan, Kapolri, hingga Jaksa Agung di Istana Malam Ini, Ada Apa?
Rapor Merah Lionel Messi...
Rapor Merah Lionel Messi saat Jadi Algojo Penalti
Berita Terkini
Ukraina Tidak Akan Produksi...
Ukraina Tidak Akan Produksi Rudal Patriot meski Trump Beri Lisensi, Ini 3 Alasannya
8 Fakta Menarik tentang...
8 Fakta Menarik tentang Norwegia, Negara Paling Bahagia dan Matahari Tak Terbenam di Musim Panas
Deretan 66 Negara yang...
Deretan 66 Negara yang Memiliki UU Melarang LGBT
Mojtaba Janji Balas...
Mojtaba Janji Balas Dendam atas Darah Tak Bersalah Ayahnya
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved