Ironi Macron: Bela Kartun Nabi Muhammad, tapi Marah Dikartunkan sebagai Hitler
Sabtu, 31 Juli 2021 - 03:02 WIB
loading...
Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto/REUTERS/Gonzalo Fuentes
A
A
A
PARIS - Presiden Prancis Emmanuel Macron marah dan menggugat pemilik bisnis billboard setelah dirinya dikartunkan sebagai diktator Nazi Adolf Hitler. Ini menjadi ironi ketika dia membela media Prancis yang menerbitkan kartun Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi.
Michel-Ange Flori, pemilik bisnis periklanan jalanan Prancis, memutuskan untuk menggunakan beberapa billboard-nya untuk apa yang disebutnya sebagai latihan sindiran politik; mem-posting gambar yang menunjukkan Presiden Emmanuel Macron berpakaian seperti Adolf Hitler.
Baca juga: Setelah Menyangkal, Taliban Akui Bunuh Komedian Afghanistan Secara Brutal
Pengacara pribadi Macron dan partainya kini telah mengajukan gugatan hukum yang menuduh bahwa penggambaran itu adalah penghinaan publik. Flori mengatakan dia telah dihubungi oleh polisi yang bertindak atas pengaduan tersebut.
Kasus ini telah berubah menjadi ujian di mana Prancis menarik garis antara kebebasan berekspresi dan bersikap ofensif.
Itu bergema terutama di negara di mana majalah satire Charlie Hebdo menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, awalnya pada tahun 2006, yang dipandang sebagian besar Muslim sebagai penistaan. Negara Prancis membela hak majalah itu untuk menerbitkannya.
Michel-Ange Flori, pemilik bisnis periklanan jalanan Prancis, memutuskan untuk menggunakan beberapa billboard-nya untuk apa yang disebutnya sebagai latihan sindiran politik; mem-posting gambar yang menunjukkan Presiden Emmanuel Macron berpakaian seperti Adolf Hitler.
Baca juga: Setelah Menyangkal, Taliban Akui Bunuh Komedian Afghanistan Secara Brutal
Pengacara pribadi Macron dan partainya kini telah mengajukan gugatan hukum yang menuduh bahwa penggambaran itu adalah penghinaan publik. Flori mengatakan dia telah dihubungi oleh polisi yang bertindak atas pengaduan tersebut.
Kasus ini telah berubah menjadi ujian di mana Prancis menarik garis antara kebebasan berekspresi dan bersikap ofensif.
Itu bergema terutama di negara di mana majalah satire Charlie Hebdo menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, awalnya pada tahun 2006, yang dipandang sebagian besar Muslim sebagai penistaan. Negara Prancis membela hak majalah itu untuk menerbitkannya.
Lihat Juga :