Korut Miliki 10.000 Artileri, Alasan Korsel Bikin Senjata ala Iron Dome Israel?

Sabtu, 17 Juli 2021 - 12:23 WIB
loading...
A A A
Namun, para ahli tampaknya yakin Korea Selatan akan mampu mengembangkan pertahanan rudal yang efektif terhadap tembakan artileri dan roket Korea Utara. Pertanyaannya adalah harga.

"Tidak ada pilihan untuk Korea Selatan, mau bagaimana lagi," kata Jo Dong Joon, direktur Pusat Studi Korea Utara di Universitas Nasional Seoul. “Korea Selatan khawatir bahwa Korea Utara dapat menembakkan artileri jarak jauhnya tanpa banyak rasa takut akan pembalasan.”

Dorongan untuk mengembangkan sistem pertahanan ala Iron Dome Israel itu datang pada 2010, ketika Korea Utara menembaki pulau perbatasan Yeonpyeong dan menewaskan empat orang.

Menurut surat kabar Hankyoreh, setelah insiden Yeonpyeong, pihak berwenang Korea Selatan mempertimbangkan untuk memperkenalkan sistem Iron Dome, tetapi akhirnya menganggapnya tidak pantas. Fokus mereka saat itu adalah menghancurkan sumber tembakan yang masuk.

Untuk itu, kata Jo, Korea Selatan tahun lalu mengerahkan Korea Tactical Surface to Surface Missiles (KTSSMs) yang disebut "pembunuh artileri" dengan jangkauan 100 km (62 mil) dan dirancang khusus untuk menghancurkan artileri Korea Utara.

Menurut Jo, yang juga berspesialisasi dalam strategi nuklir, KTSSM Korea Selatan akan membutuhkan waktu untuk menargetkan dan menghancurkan sumber tembakan—artileri dan peluncur roket—yang dapat memberikan cukup waktu bagi Pyongyang untuk menyerang dan menghancurkan fasilitas utama di Seoul.

Sistem pertahanan baru ala Iron Dome Israel yang dikembangkan Korea Selatan akan bertahan melawan ancaman itu, dengan pertahanan anti-rudal Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) sudah dikerahkan untuk bertahan melawan rudal balistik Korea Utara.

Dengan bertahan melawan artileri dan roket Korea Utara di sepanjang DMZ, beberapa ahli percaya provokasi terbatas akan terhalang, dan kecil kemungkinannya untuk meningkat menjadi konflik yang lebih besar yang melibatkan senjata nuklir Korea Utara.

“Tingkat eskalasi Korea Utara sekarang mencapai sangat tinggi—hingga senjata nuklir,” jelas Jo, yang menambahkan bahwa Korea Selatan harus mampu merespons secara khusus ancaman artileri, atau memaksakan risiko yang lebih besar untuk memprovokasi eskalasi.

Pencegah Nuklir

Pengembangan senjata nuklir Korea Utara menciptakan sejumlah tantangan strategis di luar senjata itu sendiri. Ancaman penggunaannya memberanikan Pyongyang, dan menempatkan Seoul pada posisi yang kurang menguntungkan meskipun kekuatan konvensionalnya jauh lebih unggul, dan aliansi dengan Amerika Serikat.

“Kepemilikan senjata nuklir Korea Utara adalah penyebab rusaknya keseimbangan strategis pertahanan rudal sedikit menyesuaikan ketidakseimbangan itu,” jelas Go Myung-hyun, seorang peneliti di Asan Institute for Policy Studies.

Tetapi pertahanan anti-rudal dan anti-artileri dipandang sebagai usaha yang relatif mahal, yang melibatkan penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun, untuk keuntungan yang dapat diperdebatkan. Pengeluaran untuk sistem pertahanan dapat dikompensasikan dengan penyebaran rudal yang lebih ofensif untuk mengatasi sistem pertahanan, dan biayanya akan lebih murah.

“Akan selalu lebih murah bagi penyerang mana pun, baik itu Korea Utara, baik itu Hamas, untuk memperoleh lebih banyak rudal ofensif, daripada bagi para defenders untuk terus membeli pencegat defensif,” kata Panda dari Carnegie.

“Sumber daya yang akan dihabiskan Korea Selatan memiliki biaya peluang di tempat lain, pada apa yang dapat dibelanjakan oleh Korea Selatan untuk senjata ofensif.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Kasus Penganiayaan,...
Kasus Penganiayaan, Dewi Soekarno Jalani Sidang di Pengadilan Jepang
Rekomendasi
Ini Penampakan Taufik...
Ini Penampakan Taufik Hidayat usai Ditangkap Polisi, Tangan Diborgol Tali Ties
Warga Jakarta Bangun...
Warga Jakarta Bangun Gerakan Bersama Perangi Polusi Udara
Mengapa Harga Beras...
Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
3 Alasan AS Beri Donasi...
3 Alasan AS Beri Donasi Senjata Miliaran Dolar ke Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved