China Gagal Jual Jet Tempurnya Diduga karena Kerap Ribut dengan Negara Lain
Senin, 05 Juli 2021 - 15:34 WIB
loading...
A
A
A
Sebuah laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa sejak 2010, 63,4 persen dari penjualan senjata konvensional China telah pergi ke Pakistan, Bangladesh, dan Myanmar.
Penjelasan terbaik untuk kegagalan China ini adalah kebijakan luar negeri China. Menurut Aboulafia, Filipina adalah ilustrasi sempurna mengapa ambisi ekspor pesawat tempur China terhenti.
Selama lima tahun, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mencoba menjauhkan negara itu dari Amerika Serikat dan menuju China. Juga, hingga beberapa tahun lalu, negara tersebut belum pernah membeli jet tempur baru, anggaran pertahanan yang terbatas hanya mampu membeli jet hand-me-down dari Amerika Serikat.
Aboulafia menjelaskan bahwa Filipina yang kekurangan uang, non-blok, dan bersemangat untuk menegaskan jalur pro-China, "ramun resep" sempurna untuk terobosan pasar ekspor pesawat tempur China di negara regional utama. Tapi, China juga tidak bisa menjual pesawat tempurnya ke negara itu.
Bulan lalu, ketegangan antara kedua negara di Laut Cina Selatan memanas hingga mendidih, di mana Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin Jr men-tweet: "Anda seperti orang bodoh yang memaksa perhatian Anda pada pria tampan yang ingin menjadi teman; bukan untuk menjadi ayah dari provinsi China."
Filipina malah menemukan jalan lain untuk kebutuhan pesawat tempurnya. Pada tahun 2015, negara itu berminat untuk membeli Korea Aerospace Industries (KAI) FA-50 Fighting Eagle. Bukan hanya Filipina. Tetangga China lainnya tidak menyukai China, dengan konsekuensi yang dapat diprediksi untuk bisnis penjualan pesawat tempur.
Penjelasan terbaik untuk kegagalan China ini adalah kebijakan luar negeri China. Menurut Aboulafia, Filipina adalah ilustrasi sempurna mengapa ambisi ekspor pesawat tempur China terhenti.
Selama lima tahun, Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah mencoba menjauhkan negara itu dari Amerika Serikat dan menuju China. Juga, hingga beberapa tahun lalu, negara tersebut belum pernah membeli jet tempur baru, anggaran pertahanan yang terbatas hanya mampu membeli jet hand-me-down dari Amerika Serikat.
Aboulafia menjelaskan bahwa Filipina yang kekurangan uang, non-blok, dan bersemangat untuk menegaskan jalur pro-China, "ramun resep" sempurna untuk terobosan pasar ekspor pesawat tempur China di negara regional utama. Tapi, China juga tidak bisa menjual pesawat tempurnya ke negara itu.
Bulan lalu, ketegangan antara kedua negara di Laut Cina Selatan memanas hingga mendidih, di mana Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin Jr men-tweet: "Anda seperti orang bodoh yang memaksa perhatian Anda pada pria tampan yang ingin menjadi teman; bukan untuk menjadi ayah dari provinsi China."
Filipina malah menemukan jalan lain untuk kebutuhan pesawat tempurnya. Pada tahun 2015, negara itu berminat untuk membeli Korea Aerospace Industries (KAI) FA-50 Fighting Eagle. Bukan hanya Filipina. Tetangga China lainnya tidak menyukai China, dengan konsekuensi yang dapat diprediksi untuk bisnis penjualan pesawat tempur.
(min)
Lihat Juga :