Tarik Rem Darurat, Pemerintah Dapat Belajar dari Pembatasan Sosial di New Delhi
Kamis, 01 Juli 2021 - 13:18 WIB
loading...
A
A
A
"Anggota diplomat juga dikecualikan, sehingga tahun yang lalu waktu saya masih di New Delhi maka saya dapat keluar rumah menggunakan mobil saya yang memang menggunakan plat nomor resmi WHO. Yang juga dikecualikan adalah Wanita hamil yang akan mendapat pertolongan kesehatan (beserta pengantarnya) dan mereka yang harus melakukan tes COVID-19 dan atau vaksinasi," ungkapProf Tjandra yang ketika itu berkantor di New Delhi dalam rilis yang diterima Sindonews, Kamis (1/7/2021).
Dalam masa ini, kata Prof Tjandra, kegiatan perkawinan sampai 50 orang dan pemakaman sampai 20 orang tetap diperkenankan, tempat ibadah berbagai agama juga boleh dibuka tetapi tidak boleh ada pengunjung yang datang.
Baca juga: PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 di Jawa-Bali, Ini Aturan Lengkapnya
Praktis semua aktifitas sosial, politik, olahraga, hiburan, budaya, perkantoran, restoran, taman dll. didalam kota New Delhi praktis semua ditutup, dengan beberapa pengecualian yang tetap dapat beroperasi, yaitu antara lain toko yang menjual makanan, obat dan kebutuhan dasar lainnya (tentu saja tidak dalam mall karena malldll. ditutup semua), bank dan ATM nya, pelayanan internet dan telekomunikasi lainnya, pom bensin dan sejenisnya, seperti penjual LPG dll, pelayanan antar makanan ke rumah-rumah.
"Kebijakan “lockdown” ini berlangsung di beberapa negara bagian dan juga kota-kota besar di India. Dengan upaya keras dan pembatasan sosial amat ketat ini maka kasus di New Delhi dan di India turun dengan amat drastis," kata Prof Tjandra.
"Dalam waktu satu bulan saja angka kasus baru per hari turun delapan kali lipat, dari lebih dari 400 ribu sehari pada awal Mei 2021 menjadi hanya 50 ribu sehari pada Juni 2021. Angka kepositifan India pun turun amat tajam, dari sekitar 22% sebelum ada “curfew” menjadi hanya sekitar 3% saja," sambungnya.
Pada 31 Mei 2021 pemerintah New Delhi mulai melakukan pelonggararan dalam bentuk “unlocking process”, dimana pekerjaan konstruksi bangunandan pabrik mulai dibuka sehingga buruh harian mulai dapat bekerja kembali.
Dalam masa ini, kata Prof Tjandra, kegiatan perkawinan sampai 50 orang dan pemakaman sampai 20 orang tetap diperkenankan, tempat ibadah berbagai agama juga boleh dibuka tetapi tidak boleh ada pengunjung yang datang.
Baca juga: PPKM Darurat 3-20 Juli 2021 di Jawa-Bali, Ini Aturan Lengkapnya
Praktis semua aktifitas sosial, politik, olahraga, hiburan, budaya, perkantoran, restoran, taman dll. didalam kota New Delhi praktis semua ditutup, dengan beberapa pengecualian yang tetap dapat beroperasi, yaitu antara lain toko yang menjual makanan, obat dan kebutuhan dasar lainnya (tentu saja tidak dalam mall karena malldll. ditutup semua), bank dan ATM nya, pelayanan internet dan telekomunikasi lainnya, pom bensin dan sejenisnya, seperti penjual LPG dll, pelayanan antar makanan ke rumah-rumah.
"Kebijakan “lockdown” ini berlangsung di beberapa negara bagian dan juga kota-kota besar di India. Dengan upaya keras dan pembatasan sosial amat ketat ini maka kasus di New Delhi dan di India turun dengan amat drastis," kata Prof Tjandra.
"Dalam waktu satu bulan saja angka kasus baru per hari turun delapan kali lipat, dari lebih dari 400 ribu sehari pada awal Mei 2021 menjadi hanya 50 ribu sehari pada Juni 2021. Angka kepositifan India pun turun amat tajam, dari sekitar 22% sebelum ada “curfew” menjadi hanya sekitar 3% saja," sambungnya.
Pada 31 Mei 2021 pemerintah New Delhi mulai melakukan pelonggararan dalam bentuk “unlocking process”, dimana pekerjaan konstruksi bangunandan pabrik mulai dibuka sehingga buruh harian mulai dapat bekerja kembali.
Lihat Juga :