Terbongkar, Kasus COVID Pertama Muncul di China Dua Bulan Sebelum Wuhan
Jum'at, 25 Juni 2021 - 20:01 WIB
loading...
A
A
A
Studi lain oleh para ilmuwan Australia, yang diterbitkan pada Kamis di jurnal Scientific Reports, menggunakan data genom untuk menunjukkan SARS-CoV-2 mengikat reseptor manusia jauh lebih mudah daripada spesies lain, menunjukkan virus itu sudah beradaptasi dengan manusia ketika pertama kali muncul.
Disebutkan, mungkin ada hewan tak dikenal lain dengan afinitas yang lebih kuat yang berfungsi sebagai spesies perantara, tetapi hipotesis bahwa virus itu bocor dari laboratorium tidak dapat dikesampingkan.
“Meskipun jelas virus awal memiliki kecenderungan tinggi untuk reseptor manusia, itu tidak berarti mereka buatan manusia,” papar Dominic Dwyer, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Westmead Australia yang merupakan bagian dari tim WHO yang menyelidiki COVID-19 di Wuhan tahun ini.
"Kesimpulan seperti itu tetap spekulatif," ujar dia.
“Sampel serum masih perlu diuji untuk membuat kasus yang lebih kuat tentang asal-usul COVID-19,” papar Stuart Turville, profesor di Kirby Institute, organisasi penelitian medis Australia yang menanggapi studi Universitas Kent.
“Sayangnya dengan tekanan hipotesis kebocoran laboratorium saat ini dan kepekaan dalam melakukan penelitian lanjutan ini di China, mungkin perlu waktu sampai kita melihat laporan seperti itu,” ungkap dia.
Disebutkan, mungkin ada hewan tak dikenal lain dengan afinitas yang lebih kuat yang berfungsi sebagai spesies perantara, tetapi hipotesis bahwa virus itu bocor dari laboratorium tidak dapat dikesampingkan.
“Meskipun jelas virus awal memiliki kecenderungan tinggi untuk reseptor manusia, itu tidak berarti mereka buatan manusia,” papar Dominic Dwyer, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Westmead Australia yang merupakan bagian dari tim WHO yang menyelidiki COVID-19 di Wuhan tahun ini.
"Kesimpulan seperti itu tetap spekulatif," ujar dia.
“Sampel serum masih perlu diuji untuk membuat kasus yang lebih kuat tentang asal-usul COVID-19,” papar Stuart Turville, profesor di Kirby Institute, organisasi penelitian medis Australia yang menanggapi studi Universitas Kent.
“Sayangnya dengan tekanan hipotesis kebocoran laboratorium saat ini dan kepekaan dalam melakukan penelitian lanjutan ini di China, mungkin perlu waktu sampai kita melihat laporan seperti itu,” ungkap dia.
(sya)
Lihat Juga :