Kisah Pengabdian Rohaniwan Indonesia dalam Melayani Masyarakat Miskin di Kenya
Senin, 14 Juni 2021 - 22:01 WIB
loading...
A
A
A
Tanpa pamrih, mereka mengabdikan diri untuk melayani masyarakat. “Banyak orang yang datang berobat ke sini tapi tidak bisa membayar, tapi tetap kami usahakan untuk layani,” ungkap suster yang sudah berada di Kenya selama 20 tahun tersebut. Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh Suster Yulia Oyen.
“Suster, saya bayar dengan jagung atau arang ya,” ujar Suster Yulia menirukan ucapan salah satu pasien yang tidak sanggup membayar biaya pengobatan.
Suster asal Pontianak tersebut telah 25 tahun mengabdi di Kehancha, desa di pelosok barat Kenya.
“Tantangan terberat kami adalah masalah finansial,” ujar Suster Yoseftine ketika ditanya mengenai kesulitan utama yang dihadapinya.
Dia menuturkan sulitnya menjalankan rumah sakit di tengah keterbatasan biaya. Biaya yang dibebankan kepada pasien sudah diupayakan serendah mungkin, namun sebagian pasien masih saja tetap tidak mampu membayar.
Di sisi lain, dukungan dari donor yang umumnya datang dari negara maju, telah banyak berkurang jika dibandingkan dengan tahun 1990-an dan awal 2000.
Tanpa banyak diketahui oleh publik di Indonesia, saat ini terdapat sekitar 23 suster dan rohaniwan Katolik yang telah mengabdi untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat di Kenya.
Mereka tersebar di sekitar 8 komunitas di wilayah yang berbeda. Tidak hanya di bidang kesehatan dan pelayanan keagamaan, mereka juga ada yang mendirikan sekolah, bahkan pusat rehabilitasi anak jalanan.
“Suster, saya bayar dengan jagung atau arang ya,” ujar Suster Yulia menirukan ucapan salah satu pasien yang tidak sanggup membayar biaya pengobatan.
Suster asal Pontianak tersebut telah 25 tahun mengabdi di Kehancha, desa di pelosok barat Kenya.
“Tantangan terberat kami adalah masalah finansial,” ujar Suster Yoseftine ketika ditanya mengenai kesulitan utama yang dihadapinya.
Dia menuturkan sulitnya menjalankan rumah sakit di tengah keterbatasan biaya. Biaya yang dibebankan kepada pasien sudah diupayakan serendah mungkin, namun sebagian pasien masih saja tetap tidak mampu membayar.
Di sisi lain, dukungan dari donor yang umumnya datang dari negara maju, telah banyak berkurang jika dibandingkan dengan tahun 1990-an dan awal 2000.
Tanpa banyak diketahui oleh publik di Indonesia, saat ini terdapat sekitar 23 suster dan rohaniwan Katolik yang telah mengabdi untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat di Kenya.
Mereka tersebar di sekitar 8 komunitas di wilayah yang berbeda. Tidak hanya di bidang kesehatan dan pelayanan keagamaan, mereka juga ada yang mendirikan sekolah, bahkan pusat rehabilitasi anak jalanan.
Lihat Juga :