Gara-gara Satu Suara, Tamat Sudah Rezim Netanyahu di Israel
Senin, 14 Juni 2021 - 07:14 WIB
loading...
A
A
A
Sekutu kunci Bennett, Yair Lapid, memutuskan untuk melupakan pidatonya sepenuhnya, karena perilaku lawan-lawannya, yang beberapa di antaranya harus dikeluarkan dari ruang Parlemen oleh aparat keamanan.
Ketika Netanyahu berbicara, dia mengeklaim bahwa Israel akan mendapatkan "pemerintahan yang lemah" dengan koalisi "perubahan".
Dia bersikeras bahwa Bennett, yang akan menjadi PM berikutnya, tidak memiliki kedudukan global dan kredibilitas untuk melawan musuh bebuyutan negara Yahudi, Iran. Menurut Netanyahu, Teheran akan merayakannya setelah pemungutan suara yang menamatkan rezimnya.
Perdana menteri terlama di negara itu juga menuduh Bennett melakukan penipuan terbesar dalam sejarah Israel, mengingat bahwa pemimpin aliansi Yamina telah dengan tegas mengesampingkan kemitraan dengan Lapid menjelang pemilu. Namun kini, sesuai kesepakatan yang melibatkan delapan pihak anti-Netanyahu, Lapid akan memilih pengganti Bennett sebagai PM Israel pada 2023.
Baca juga: Bennett, Calon PM Israel Pengganti Netanyahu yang Sebut Tak Ada Negara Palestina
Ketika Netanyahu berbicara, dia mengeklaim bahwa Israel akan mendapatkan "pemerintahan yang lemah" dengan koalisi "perubahan".
Dia bersikeras bahwa Bennett, yang akan menjadi PM berikutnya, tidak memiliki kedudukan global dan kredibilitas untuk melawan musuh bebuyutan negara Yahudi, Iran. Menurut Netanyahu, Teheran akan merayakannya setelah pemungutan suara yang menamatkan rezimnya.
Perdana menteri terlama di negara itu juga menuduh Bennett melakukan penipuan terbesar dalam sejarah Israel, mengingat bahwa pemimpin aliansi Yamina telah dengan tegas mengesampingkan kemitraan dengan Lapid menjelang pemilu. Namun kini, sesuai kesepakatan yang melibatkan delapan pihak anti-Netanyahu, Lapid akan memilih pengganti Bennett sebagai PM Israel pada 2023.
Baca juga: Bennett, Calon PM Israel Pengganti Netanyahu yang Sebut Tak Ada Negara Palestina
Lihat Juga :