Israel dan Hamas Berlomba Mengeklaim Kemenangan Perang Gaza
Sabtu, 15 Mei 2021 - 12:20 WIB
loading...
A
A
A
"Kematian dan kehancuran akibat serangan udara itu mengerikan," kata Tareq Baconi, seorang analis Crisis Group, sebuah wadah pemikir internasional, seperti dikutip AP, Sabtu (15/5/2021).
"Tetapi bagi Hamas, penderitaan seperti itu tidak bisa dihindari ketika orang-orang Palestina melawan pendudukan Israel."
Roket-roket juga memungkinkan Hamas untuk menggalang dukungan dengan menggambarkan dirinya sebagai gerakan pembebasan yang memperjuangkan hak-hak Palestina dan membela klaim atas Yerusalem, pusat emosional dari konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Spanduk Hamas sekarang tergantung di luar Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, di mana bentrokan hebat antara polisi Israel dan pengunjuk rasa Palestina awal bulan ini—bersama dengan upaya pemukim Yahudi untuk mengusir keluarga Palestina—memicu kekerasan terbaru.
Hamas juga dapat menikmati pecahnya kekerasan Arab-Yahudi di Israel, yang dalam beberapa hal mirip dengan pemberontakan Palestina yang telah lama diserukan oleh kelompok militan tersebut.
"Saya rasa kedua belah pihak ingin mengakhiri ini dan pulang," kata Amos Harel, koresponden militer lama untuk surat kabar Israel; Haaretz.
"Hamas mencapai lebih dari yang diimpikan dengan meluncurkan roket jarak jauh di Yerusalem dan Tel Aviv dan membantu memicu kekerasan di kota-kota Israel," kata Harel.
"Jika terus berlanjut, maka mereka akan mengambil risiko lebih banyak korban, lebih banyak kerusakan dan kesulitan di Gaza," ujarnya.
Ron Ben-Yishai, seorang veteran koresponden perang Israel, juga berpikir Israel tidak mungkin mengirim pasukan darat kecuali Hamas melakukan serangan yang menimbulkan "bencana".
"Jika, misalnya, mereka mengirim rudal besar dan rudal ini menghantam taman kanak-kanak di Israel, maka akan terjadi serangan darat," kata Yishai.
Hamas juga telah mencetak kemenangan besar melawan para pesaingnya di Otoritas Palestina yang semakin tidak populer dan otokratis, yang otoritasnya terbatas pada bagian Tepi Barat yang diduduki Israel dan yang selama bertahun-tahun tidak banyak menunjukkan hubungan keamanan yang erat dengan Israel dan tidak menikmati bantuan internasional.
Bulan lalu, Presiden Mahmoud Abbas membatalkan pemilihan umum Palestina pertama dalam 15 tahun di tengah tanda-tanda bahwa Partai Fatah yang terpecah akan mengalami kekalahan yang memalukan dari Hamas. Status kelompok militan di Gaza tersebut telah tumbuh sejak itu, dengan Abbas sebagian besar tersingkir oleh konflik.
"Tetapi bagi Hamas, penderitaan seperti itu tidak bisa dihindari ketika orang-orang Palestina melawan pendudukan Israel."
Roket-roket juga memungkinkan Hamas untuk menggalang dukungan dengan menggambarkan dirinya sebagai gerakan pembebasan yang memperjuangkan hak-hak Palestina dan membela klaim atas Yerusalem, pusat emosional dari konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Spanduk Hamas sekarang tergantung di luar Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, di mana bentrokan hebat antara polisi Israel dan pengunjuk rasa Palestina awal bulan ini—bersama dengan upaya pemukim Yahudi untuk mengusir keluarga Palestina—memicu kekerasan terbaru.
Hamas juga dapat menikmati pecahnya kekerasan Arab-Yahudi di Israel, yang dalam beberapa hal mirip dengan pemberontakan Palestina yang telah lama diserukan oleh kelompok militan tersebut.
"Saya rasa kedua belah pihak ingin mengakhiri ini dan pulang," kata Amos Harel, koresponden militer lama untuk surat kabar Israel; Haaretz.
"Hamas mencapai lebih dari yang diimpikan dengan meluncurkan roket jarak jauh di Yerusalem dan Tel Aviv dan membantu memicu kekerasan di kota-kota Israel," kata Harel.
"Jika terus berlanjut, maka mereka akan mengambil risiko lebih banyak korban, lebih banyak kerusakan dan kesulitan di Gaza," ujarnya.
Ron Ben-Yishai, seorang veteran koresponden perang Israel, juga berpikir Israel tidak mungkin mengirim pasukan darat kecuali Hamas melakukan serangan yang menimbulkan "bencana".
"Jika, misalnya, mereka mengirim rudal besar dan rudal ini menghantam taman kanak-kanak di Israel, maka akan terjadi serangan darat," kata Yishai.
Hamas juga telah mencetak kemenangan besar melawan para pesaingnya di Otoritas Palestina yang semakin tidak populer dan otokratis, yang otoritasnya terbatas pada bagian Tepi Barat yang diduduki Israel dan yang selama bertahun-tahun tidak banyak menunjukkan hubungan keamanan yang erat dengan Israel dan tidak menikmati bantuan internasional.
Bulan lalu, Presiden Mahmoud Abbas membatalkan pemilihan umum Palestina pertama dalam 15 tahun di tengah tanda-tanda bahwa Partai Fatah yang terpecah akan mengalami kekalahan yang memalukan dari Hamas. Status kelompok militan di Gaza tersebut telah tumbuh sejak itu, dengan Abbas sebagian besar tersingkir oleh konflik.
Lihat Juga :