Horor, 40 Mayat Diduga Korban COVID-19 Dibuang di Sungai Gangga India
Selasa, 11 Mei 2021 - 09:18 WIB
loading...
A
A
A
“Rumah sakit swasta menjarah orang. Orang biasa tidak memiliki uang untuk membayar pendeta dan menghabiskan lebih banyak untuk kremasi di tepi sungai," kata warga setempat, Chandra Mohan.
"Mereka meminta 2.000 rupee hanya untuk mengeluarkan jenazah dari ambulans. Sungai telah menjadi jalan terakhir mereka sehingga orang-orang membenamkan mayat ke sungai."
India saat ini telah mencatat lebih dari 22,6 juta kasus COVID-19 dan 246.116 kematian sejak dimulainya pandemi.
Gelombang infeksi COVID-19 di India saat ini menyumbang separuh dari angka kasus COVID-19 harian dunia selama lebih dari seminggu. Kondisi itu telah membuat pemerintah bertekuk lutut saat dunia mencari solusi.
WHO telah menyatakan gelombang kedua COVID-19 di India sebagai krisis, mengirimkan ribuan pekerja tambahan untuk membantu sistem perawatan kesehatan mereka, yang telah berjuang dengan kekurangan oksigen dan ICU yang tidak cukup selama berminggu-minggu.
Mungkin yang lebih mengkhawatirkan, para pejabat sekarang memperingatkan gelombang ketiga "tak terhindarkan". Pada Rabu pekan lalu, penasihat ilmiah utama India K. Vijay Raghavan mengatakan negara berpenduduk 1,3 miliar itu harus siap menghadapi gelombang infeksi lain setelah gelombang saat ini.
“Fase 3 tidak bisa dihindari mengingat tingginya tingkat virus yang bersirkulasi. Tetapi tidak jelas pada skala waktu apa fase 3 ini akan terjadi. Kita harus mempersiapkan gelombang baru," kata Raghavan dalam konferensi pers.
"Mereka meminta 2.000 rupee hanya untuk mengeluarkan jenazah dari ambulans. Sungai telah menjadi jalan terakhir mereka sehingga orang-orang membenamkan mayat ke sungai."
India saat ini telah mencatat lebih dari 22,6 juta kasus COVID-19 dan 246.116 kematian sejak dimulainya pandemi.
Gelombang infeksi COVID-19 di India saat ini menyumbang separuh dari angka kasus COVID-19 harian dunia selama lebih dari seminggu. Kondisi itu telah membuat pemerintah bertekuk lutut saat dunia mencari solusi.
WHO telah menyatakan gelombang kedua COVID-19 di India sebagai krisis, mengirimkan ribuan pekerja tambahan untuk membantu sistem perawatan kesehatan mereka, yang telah berjuang dengan kekurangan oksigen dan ICU yang tidak cukup selama berminggu-minggu.
Mungkin yang lebih mengkhawatirkan, para pejabat sekarang memperingatkan gelombang ketiga "tak terhindarkan". Pada Rabu pekan lalu, penasihat ilmiah utama India K. Vijay Raghavan mengatakan negara berpenduduk 1,3 miliar itu harus siap menghadapi gelombang infeksi lain setelah gelombang saat ini.
“Fase 3 tidak bisa dihindari mengingat tingginya tingkat virus yang bersirkulasi. Tetapi tidak jelas pada skala waktu apa fase 3 ini akan terjadi. Kita harus mempersiapkan gelombang baru," kata Raghavan dalam konferensi pers.
Lihat Juga :