China Diduga Bakal Buat Pangkalan Udara Baru di Kiribati
Jum'at, 07 Mei 2021 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
Seorang penasihat pemerintah Pasifik mengatakan kepada Reuters bahwa jika diperbaiki, Kanton akan menjadi kapal induk tetap. Namun, landasan tersebut akan membutuhkan konstruksi yang jauh lebih banyak untuk mengubahnya menjadi fasilitas militer apa pun, termasuk hanggar, fasilitas perbaikan, penyimpanan, dan, tentu saja, perumahan.
Pada panjangnya saat ini,Kanton dapat menampung beberapa jet tempur dengan jarak lepas landas yang lebih pendek, tetapi pesawat transportasi atau pembom yang lebih besar - yang memiliki tangki bensin untuk terbang jauh - tidak akan dapat menggunakan landasan pacunya bahkan jika sudahdiperbaiki hingga ukuran penuhnya.
Baca juga: Pria China Membelot ke Taiwan dengan Menyeberangi Laut 11 Jam
Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI), sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Canberra yang sebagian didanai oleh Departemen Pertahanan Australia, merasa cemas dengan hal ini. Dalam artikel September 2020 mereka menyebut Beijing kemungkinan akan merebut kembali dasar laut dan memperluas instalasi pulau di Kiribati serta membentenginya, seperti yang terjadi di beberapa pulau Laut China Selatan.
Badan ini juga menuduh China bergerak untuk mencapai kendali atas jalur komunikasi laut trans-Pasifik yang vital dengan kedok membantu pembangunan ekonomi dan adaptasi perubahan iklim.
Lembaga pemikir itu mencatat bahwa pulau-pulau Pasifik "rentan" terhadap pengaruh China karena ketergantungan mereka pada negara lain untuk mendapatkan dukungan keuangan, tetapi hal yang sama juga dapat dikatakan tentang pemerintah di Taiwan, yang sebagian besar tetap bertahan oleh militer informal dan kesepakatan perdagangan dengan AS, meskipun Washington telah mengalihkan pengakuannya dari Taipei ke Beijing pada 1979.
War Zone mencatat bahwa landasan tersebut, jika menjadi fasilitas militer, kemungkinan besar akan digunakan sebagai pangkalan untuk sejumlah besar drone pengintai tak berawak yang digunakan oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Pada panjangnya saat ini,Kanton dapat menampung beberapa jet tempur dengan jarak lepas landas yang lebih pendek, tetapi pesawat transportasi atau pembom yang lebih besar - yang memiliki tangki bensin untuk terbang jauh - tidak akan dapat menggunakan landasan pacunya bahkan jika sudahdiperbaiki hingga ukuran penuhnya.
Baca juga: Pria China Membelot ke Taiwan dengan Menyeberangi Laut 11 Jam
Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI), sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Canberra yang sebagian didanai oleh Departemen Pertahanan Australia, merasa cemas dengan hal ini. Dalam artikel September 2020 mereka menyebut Beijing kemungkinan akan merebut kembali dasar laut dan memperluas instalasi pulau di Kiribati serta membentenginya, seperti yang terjadi di beberapa pulau Laut China Selatan.
Badan ini juga menuduh China bergerak untuk mencapai kendali atas jalur komunikasi laut trans-Pasifik yang vital dengan kedok membantu pembangunan ekonomi dan adaptasi perubahan iklim.
Lembaga pemikir itu mencatat bahwa pulau-pulau Pasifik "rentan" terhadap pengaruh China karena ketergantungan mereka pada negara lain untuk mendapatkan dukungan keuangan, tetapi hal yang sama juga dapat dikatakan tentang pemerintah di Taiwan, yang sebagian besar tetap bertahan oleh militer informal dan kesepakatan perdagangan dengan AS, meskipun Washington telah mengalihkan pengakuannya dari Taipei ke Beijing pada 1979.
War Zone mencatat bahwa landasan tersebut, jika menjadi fasilitas militer, kemungkinan besar akan digunakan sebagai pangkalan untuk sejumlah besar drone pengintai tak berawak yang digunakan oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Lihat Juga :