Menlu Filipina kepada China: Keluar dari Laut China Selatan!
Selasa, 04 Mei 2021 - 14:53 WIB
loading...
A
A
A
Deplu Filipina mengatakan kehadiran kapal China itu merupakan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Filipina".
Menanggapi pernyataan Locsin, Kementerian luar negeri China mengatakan "diplomasi megafon" akan "merusak rasa saling percaya" dan mendesak Locsin untuk menyesuaikan diri dengan etiket diplomatik.
Baca juga: Menlu AS: China Bertindak Lebih Represif dan Lebih Agresif!
Setelah pernyataannya menggegerkan jagad media sosial, Locsin mengeluarkan pernyataan lebih lanjut pada hari ini.
"Jika Wang Yi mengikuti Twitter maka saya minta maaf karena telah menyakiti perasaannya tetapi hanya untuk dirinya sendiri," katanya mengacu pada koleganya dari China.
Scarborough Shoal berada 240 kilometer sebelah barat pulau utama Luzon di Filipina.
China merebutnya pada 2012 dan kemudian mengabaikan keputusan pengadilan internasional 2016 yang menyatakan klaim historisnya atas sebagian besar Laut China Selatan tidak berdasar.
Hubungan yang pernah membeku antara kedua negara telah menghangat di bawah Duterte, yang mengesampingkan putusan itu dengan imbalan janji perdagangan dan investasi yang menurut para kritikus sebagian besar belum terwujud.
Baca juga: Kapal Induk China Rampungkan Latihan Perang di Laut China Selatan
Menanggapi pernyataan Locsin, Kementerian luar negeri China mengatakan "diplomasi megafon" akan "merusak rasa saling percaya" dan mendesak Locsin untuk menyesuaikan diri dengan etiket diplomatik.
Baca juga: Menlu AS: China Bertindak Lebih Represif dan Lebih Agresif!
Setelah pernyataannya menggegerkan jagad media sosial, Locsin mengeluarkan pernyataan lebih lanjut pada hari ini.
"Jika Wang Yi mengikuti Twitter maka saya minta maaf karena telah menyakiti perasaannya tetapi hanya untuk dirinya sendiri," katanya mengacu pada koleganya dari China.
Scarborough Shoal berada 240 kilometer sebelah barat pulau utama Luzon di Filipina.
China merebutnya pada 2012 dan kemudian mengabaikan keputusan pengadilan internasional 2016 yang menyatakan klaim historisnya atas sebagian besar Laut China Selatan tidak berdasar.
Hubungan yang pernah membeku antara kedua negara telah menghangat di bawah Duterte, yang mengesampingkan putusan itu dengan imbalan janji perdagangan dan investasi yang menurut para kritikus sebagian besar belum terwujud.
Baca juga: Kapal Induk China Rampungkan Latihan Perang di Laut China Selatan
Lihat Juga :