Arab Saudi Tekan Iran Terlibat dalam Perundingan Nuklir Wina
Rabu, 21 April 2021 - 12:30 WIB
loading...
Raja Arab Saudi Salman. Foto/REUTERS
A
A
A
RIYADH - Arab Saudi mendesak Iran terlibat dalam perundingan Wina untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir.
Saudi juga menyerukan kesepakatan yang lebih ketat, seperti terungkap dalam pernyataan Kabinet Kerajaan Arab Saudi.
"Kabinet memperbarui seruan Kerajaan agar Iran terlibat dalam negosiasi yang sedang berlangsung, menghindari eskalasi dan tidak mengekspos keamanan dan stabilitas kawasan ke lebih banyak ketegangan," ungkap laporan kantor berita negara SPA.
Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Dukung Rencana Israel Gulingkan Raja Yordania
Kabinet Kerajaan juga menekankan, "Perlunya komunitas internasional mencapai kesepakatan dengan elemen yang lebih kuat dan lebih lama, sambil menerapkan langkah-langkah pemantauan dan pengendalian, untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk itu."
Baca juga: Presiden Iran Rouhani Desak Para Jenderal Menjauh dari Politik
Para diplomat dari Inggris, China, Prancis, Jerman, Iran dan Rusia telah bertemu secara teratur sejak awal bulan ini untuk membahas menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.
Baca juga: Pejabat Arab Saudi Membantah Gelar Perundingan Rahasia dengan Iran
Adapun diplomat Amerika Serikat (AS) berpartisipasi secara tidak langsung dalam pembicaraan dari hotel terdekat.
Kesepakatan itu dipertanyakan ketika AS menarik diri pada 2018 dan memberi sanksi kepada Iran, yang pada gilirannya mulai meningkatkan aktivitas nuklirnya.
Dalam kesepakatan 2015, Iran setuju mengekang program nuklirnya dengan imbalan bantuan dari AS dan sanksi lainnya.
Kesepakatan itu mencakup opsi snapback sanksi PBB jika Iran melanggar kesepakatan, yang mengharuskan Teheran menangguhkan semua kegiatan terkait pengayaan nuklir, termasuk pengembangan penelitian.
Pemerintah Iran mengatakan pekan ini mulai memperkaya uranium hingga kemurnian 60% untuk menunjukkan kapasitas teknisnya setelah serangan sabotase di pabrik nuklir, dan menambahkan langkah itu dengan cepat dapat dibatalkan jika AS mencabut sanksi.
Saudi juga menyerukan kesepakatan yang lebih ketat, seperti terungkap dalam pernyataan Kabinet Kerajaan Arab Saudi.
"Kabinet memperbarui seruan Kerajaan agar Iran terlibat dalam negosiasi yang sedang berlangsung, menghindari eskalasi dan tidak mengekspos keamanan dan stabilitas kawasan ke lebih banyak ketegangan," ungkap laporan kantor berita negara SPA.
Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Dukung Rencana Israel Gulingkan Raja Yordania
Kabinet Kerajaan juga menekankan, "Perlunya komunitas internasional mencapai kesepakatan dengan elemen yang lebih kuat dan lebih lama, sambil menerapkan langkah-langkah pemantauan dan pengendalian, untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk itu."
Baca juga: Presiden Iran Rouhani Desak Para Jenderal Menjauh dari Politik
Para diplomat dari Inggris, China, Prancis, Jerman, Iran dan Rusia telah bertemu secara teratur sejak awal bulan ini untuk membahas menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.
Baca juga: Pejabat Arab Saudi Membantah Gelar Perundingan Rahasia dengan Iran
Adapun diplomat Amerika Serikat (AS) berpartisipasi secara tidak langsung dalam pembicaraan dari hotel terdekat.
Kesepakatan itu dipertanyakan ketika AS menarik diri pada 2018 dan memberi sanksi kepada Iran, yang pada gilirannya mulai meningkatkan aktivitas nuklirnya.
Dalam kesepakatan 2015, Iran setuju mengekang program nuklirnya dengan imbalan bantuan dari AS dan sanksi lainnya.
Kesepakatan itu mencakup opsi snapback sanksi PBB jika Iran melanggar kesepakatan, yang mengharuskan Teheran menangguhkan semua kegiatan terkait pengayaan nuklir, termasuk pengembangan penelitian.
Pemerintah Iran mengatakan pekan ini mulai memperkaya uranium hingga kemurnian 60% untuk menunjukkan kapasitas teknisnya setelah serangan sabotase di pabrik nuklir, dan menambahkan langkah itu dengan cepat dapat dibatalkan jika AS mencabut sanksi.
(sya)
Lihat Juga :