Bikin Geger, Ilmuwan AS Ciptakan Makhluk Campuran Manusia-Monyet

Jum'at, 16 April 2021 - 11:07 WIB
loading...
Bikin Geger, Ilmuwan...
Monyet-monyet yang jadi objek penelitian di laboratorium di China. Para ilmuwan AS menghasilkan makhluk campuran manusia-monyet yang menuai kritik soal etika. Foto/REUTERS
A A A
CALIFORNIA - Para ilmuwan dari Salk Institute di California, Amerika Serikat (AS), telah menghasilkan mahkhluk campuran manusia-monyet dengan selinduk manusia. Pekerjaan itu dikritik para pakar yang mempertanyakan soal etika.

Kelompok ilmuwan Amerika telah menghasilkan chimera manusia-monyet setelah menumbuhkan sel manusia dalam embrio monyet. Pekerjaan itu dalam upaya untuk lebih memahami tentang bagaimana sel berkembang dan berkomunikasi satu sama lain.

Baca juga: Ukraina Ketir-ketir dengan 100.000 Tentara dan Senjata Nuklir Rusia

Istilah chimera sebenarnya adalah mahluk fiktif dari mitologi Yunani yang digambarkan sebagai campuran dari berbagai mahluk hidup. Saat ini, istilah itu kerap digunakan untuk menggambarkan makhluk yang dibuat dari gabungan dua genetik yang berbeda.

Beberapa ahli etika di Inggris telah menyuarakan keprihatinan, dengan mengatakan pekerjaan itu menimbulkan tantangan etika dan hukum yang signifikan dan membuka kotak pandora untuk chimera "manusia-bukan manusia".

Mereka menyerukan diskusi publik tentang tantangan etika dan peraturan yang terkait dengan chimera manusia-hewan.

Dalam pekerjaannya, para peneliti dari Salk Institute di California memasukkan selinduk manusia—sel khusus yang memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel—ke dalam embrio monyet di cawan petri di laboratorium.

Para ilmuwan, yang dipimpin oleh Profesor Juan Carlos Izpisua Belmonte, mengatakan pekerjaan mereka dapat membuka jalan untuk mengatasi kekurangan organ yang dapat ditransplantasikan serta membantu memahami lebih banyak tentang perkembangan awal manusia, perkembangan penyakit, dan penuaan.

"Pendekatan chimeric ini bisa sangat berguna untuk memajukan penelitian biomedis tidak hanya pada tahap paling awal kehidupan, tetapi juga tahap kehidupan terbaru," kata Belmonte, seperti dikutip The Mirror, Jumat (16/4/2021).

Pada 2017, Belmonte dan timnya menciptakan hibrida manusia-babi pertama, di mana mereka memasukkan sel manusia ke dalam jaringan babi tahap awal tetapi menemukan bahwa sel manusia di lingkungan ini memiliki komunikasi molekuler yang buruk.

Jadi tim memutuskan untuk menyelidiki chimera yang tumbuh di laboratorium menggunakan spesies yang lebih dekat hubungannya, yakni monyet.

Embrio chimeric manusia-monyet dipantau di laboratorium selama 19 hari sebelum dihancurkan.

Menurut para ilmuwan, hasil yang dipublikasikan di jurnal Cell, menunjukkan bahwa sel induk manusia "bertahan dan terintegrasi dengan efisiensi relatif yang lebih baik daripada percobaan sebelumnya pada jaringan babi".

Tim tersebut mengatakan pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana sel dari spesies yang berbeda berkomunikasi satu sama lain dapat memberikan pandangan sekilas yang belum pernah terjadi sebelumnya ke tahap awal perkembangan manusia serta menawarkan para ilmuwan "alat yang ampuh" untuk penelitian tentang pengobatan regeneratif.

Belmonte menyatakan bahwa pekerjaan mereka telah memenuhi pedoman etika dan hukum saat ini. "Sama pentingnya bagi kesehatan dan penelitian seperti yang kami pikirkan tentang hasil ini, cara kami melakukan pekerjaan ini, dengan perhatian penuh pada pertimbangan etika dan dengan berkoordinasi erat dengan regulator, sama pentingnya," ujarnya.

"Pada akhirnya, kami melakukan studi ini untuk memahami dan meningkatkan kesehatan manusia."

Baca juga: Israel Halangi Azan di Masjid Al-Aqsa, Palestina Sebut Bisa Picu Perang Agama

Mengomentari penelitian tersebut, Dr Anna Smajdor, dosen dan peneliti dalam etika biomedis di Norwich Medical School, University of East Anglia, mengatakan: "Terobosan ini memperkuat fakta yang semakin tak terhindarkan: kategori biologis tidak tetap—kategori tersebut berubah-ubah."

"Ini menimbulkan tantangan etika dan hukum yang signifikan," ujarnya.

"Para ilmuwan di balik penelitian ini menyatakan bahwa embrio chimeric ini menawarkan peluang baru, karena 'kami tidak dapat melakukan jenis eksperimen tertentu pada manusia'," imbuh dia.

"Tapi apakah embrio ini adalah manusia atau bukan, masih dipertanyakan."

Profesor Julian Savulescu, direktur Oxford Uehiro Center for Practical Ethics dan co-director dari Wellcome Center for Ethics and Humanities, University of Oxford, mengatakan: "Penelitian ini membuka kotak pandora untuk chimera manusia-bukan manusia."

"Embrio-embrio ini dihancurkan pada 20 hari perkembangannya tetapi hanya masalah waktu sebelum chimera manusia-bukan manusia berhasil berkembang, mungkin sebagai sumber organ bagi manusia. Itulah salah satu tujuan jangka panjang penelitian ini," katanya.

"Pertanyaan etika kuncinya adalah: apa status moral makhluk-makhluk baru ini? Sebelum eksperimen apa pun dilakukan pada chimera yang lahir hidup, atau organ mereka diekstraksi, penting agar kapasitas mental dan kehidupan mereka dinilai dengan benar."

Sarah Norcross, direktur Progress Educational Trust, mengatakan bahwa sementara "kemajuan substansial" sedang dibuat dalam penelitian embrio dan sel induk, yang dapat membawa manfaat yang sama substansial, terdapat kebutuhan yang jelas untuk diskusi publik dan debat tentang tantangan etika dan peraturan diangkat.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Zionis Israel Ratapi...
Zionis Israel Ratapi Kesepakatan Damai AS-Iran: Kami Ditinggalkan Sendirian!
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh Tewaskan 8 Awak, Harganya Rp1,5 Triliun
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Skandal Kerajaan, Putra...
Skandal Kerajaan, Putra dari Putri Mahkota Norwegia Divonis Penjara atas Tuduhan Pemerkosaan
Tak Hanya Melarang Medsos,...
Tak Hanya Melarang Medsos, Inggris Perketat Penggunaan AI bagi Anak dan Remaja
Rekomendasi
Reuni Harmoni Lintas...
Reuni Harmoni Lintas Generasi
Peringati Tahun Baru...
Peringati Tahun Baru Islam, DPP PSI Santuni 100 Anak Yatim dan Duafa
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Berita Terkini
Selat Hormuz Tak Akan...
Selat Hormuz Tak Akan Lagi seperti Dulu, Ini 3 Alasannya
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved