Filipina Marah, 220 Kapal AL China Masuk Wilayah Sengketa Laut China Selatan

loading...
Filipina Marah, 220 Kapal AL China Masuk Wilayah Sengketa Laut China Selatan
Para personel Angkatan Laut Filipina saat patroli di sekitar perairan Filipina. Foto/REUTERS/Erik De Castro/File Photo
MANILA - Pemerintah Filipina marah atas pengerahan 220 kapal Angkatan Laut (AL) China di wilayah sengketa di Laut China Selatan . Manila mengatakan pengerahan ratusan kapal itu sebagai tindakan provokatif dan meminta Beijing untuk segera menariknya.

Beberapa dari 220 kapal China terlihat tertambat di Whitsun Reef, area terumbu yang oleh Filipina dinyatakan sebagai Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE)-nya. Satuan Tugas Nasional Filipina untuk Laut Filipina Barat telah merilis foto-foto ratusan kapal tersebut.

Baca juga: Biden 3 Kali Jatuh di Tangga Air Force One, Miller: Musuh Melihat, Itu Memalukan!

Pada hari Minggu, kepala pertahanan Filipina menuntut agar lebih dari 200 kapal China yang katanya diawaki oleh milisi meninggalkan terumbu di Laut China Selatan tersebut yang diklaim oleh Manila dan Beijing.

"Kami menyerukan kepada China untuk menghentikan serangan ini dan segera menarik kembali kapal-kapal ini yang melanggar hak maritim kami dan melanggar batas wilayah kedaulatan kami," kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana dalam sebuah pernyataan seperti dikutip DW.com, Senin (23/3/2021).



Dia memperingatkan bahwa Filipina akan menjunjung tinggi hak kedaulatannya.

Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin kemudian men-tweet bahwa Manila telah mengajukan protes diplomatik atas kehadiran ratusan kapal China.

Pejabat Kedutaan Besar China di Manila belum bersedia mengeluarkan komentar.

Badan pemerintah Filipina yang mengawasi daerah yang disengketakan mengatakan kapal-kapal China itu terlihat ditambatkan di Whitsun Reef, yang disebut Manila sebagai Julian Felipe, sejak 7 Maret.

Satuan Tugas Nasional Filipina untuk Laut Filipina Barat menduga kapal-kapal itu diawaki oleh personel militer maritim China.



"Meskipun cuaca cerah pada saat itu, kapal-kapal China yang berkumpul di terumbu karang tidak menunjukkan aktivitas penangkapan ikan yang sebenarnya dan lampu putih penuh mereka menyala pada malam hari," kata satuan tugas itu dalam sebuah pernyataan.

"Kehadiran kapal-kapal itu menjadi perhatian karena kemungkinan penangkapan ikan berlebihan dan kerusakan lingkungan laut, serta risiko keselamatan navigasi," imbuh satuan tugas tersebut.

Baca juga: Shahab-3, Rudal Iran Paling Menakutkan Penjangkau Seluruh Timur Tengah Termasuk Israel
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top