Bencana Besar Dampak Corona, Ekonomi China Tenggelam
Sabtu, 18 April 2020 - 08:13 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah China berupaya meredam kekacauan ekonomi dengan menggelontorkan dan melonggarkan berbagai kebijakan, termasuk paket stimulus. Partai Komunis China berharap ekonomi China akan dapat kembali stabil dan pulih seperti sediakala.
Para ahli mengatakan China tidak akan mampu bangkit dalam waktu dekat, sebab wabah Covid-19 juga menghantam negara lain dan menyebabkan ekonomi dunia melambat. Artinya, China yang menggantungkan pendapatan utama dari ekspor juga terdampak oleh kondisi ekonomi dunia yang pincang.
Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan China berpeluang menghindari resesi, tapi pertumbuhannya hanya sekitar 1,2% jika China mampu menormalisasi perputaran ekonomi dalam sisa tahun ini. Selain itu, angka pengangguran meningkat tajam, terutama di perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan sistem ekspor.
"Kami melihat China mencoba menambal setiap lubang dengan paket stimulus, tapi tampaknya tidak akan sebesar di negara Barat. Jadi, kami kira China sudah pasrah dan akan menerima apa adanya dengan hasil tahun ini. Mereka lebih fokus membangun kekuatan baru pada tahun mendatang," kata Louis Kuijs dari Oxford Economics.
Sejak awal Maret, China telah mengizinkan sebagian perusahaan untuk memulihkan produksi dan pabrik untuk kembali beroperasi. Namun, hal itu baru awal dari pembukaan lockdown yang akan diproses secara bertahap tergantung perkembangan situasi di lapangan.
Pabrik dan manufaktur merupakan jantung ekonomi China. Karena itu, pemulihannya menjadi sangat vital bagi kesejahteraan rakyatnya. Atas laporan ini, bursa saham China hanya naik sekitar 0,9%. Adapun Nikkei 225 Jepang naik 2,5% karena AS berencana membuka lockdown.
Para ahli mengatakan China tidak akan mampu bangkit dalam waktu dekat, sebab wabah Covid-19 juga menghantam negara lain dan menyebabkan ekonomi dunia melambat. Artinya, China yang menggantungkan pendapatan utama dari ekspor juga terdampak oleh kondisi ekonomi dunia yang pincang.
Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan China berpeluang menghindari resesi, tapi pertumbuhannya hanya sekitar 1,2% jika China mampu menormalisasi perputaran ekonomi dalam sisa tahun ini. Selain itu, angka pengangguran meningkat tajam, terutama di perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan sistem ekspor.
"Kami melihat China mencoba menambal setiap lubang dengan paket stimulus, tapi tampaknya tidak akan sebesar di negara Barat. Jadi, kami kira China sudah pasrah dan akan menerima apa adanya dengan hasil tahun ini. Mereka lebih fokus membangun kekuatan baru pada tahun mendatang," kata Louis Kuijs dari Oxford Economics.
Sejak awal Maret, China telah mengizinkan sebagian perusahaan untuk memulihkan produksi dan pabrik untuk kembali beroperasi. Namun, hal itu baru awal dari pembukaan lockdown yang akan diproses secara bertahap tergantung perkembangan situasi di lapangan.
Pabrik dan manufaktur merupakan jantung ekonomi China. Karena itu, pemulihannya menjadi sangat vital bagi kesejahteraan rakyatnya. Atas laporan ini, bursa saham China hanya naik sekitar 0,9%. Adapun Nikkei 225 Jepang naik 2,5% karena AS berencana membuka lockdown.
Lihat Juga :