Redam Demonstran, Junta Myanmar Gunakan Spyware dan Peralatan Militer Israel

loading...
Redam Demonstran, Junta Myanmar Gunakan Spyware dan Peralatan Militer Israel
Militer Myanmar kedapatan menggunakan kendaraan lapis baja buatan Israel. Foto/i24news.tv
NAYPYITAW - Perusahaan Israel dilaporkan telah menjual peralatan militer dan spyware canggih ke Myanmar , meskipun ada larangan ekspor ke negara itu. Spyware yang dibeli oleh pasukan Myanmar itu sekarang digunakan untuk menindak perbedaan pendapat menyusul kudeta militer awal bulan ini.

Begitu bunyi laporan The New York Times (NYT) awal pekan ini yang dikutip dari Al Araby, Rabu (3/3/2021).

Perangkat lunak peretasan dan teknologi militer masuk ke Myanmar meskipun ada embargo senjata dan teknologi penggunaan ganda yang diberlakukan di beberapa negara atas dugaan pembersihan etnis Muslim Rohingya .



Israel termasuk di antara negara-negara yang melarang ekspor teknologi semacam itu ke Myanmar setelah diketahui persenjataannya digunakan untuk memerangi etnis minoritas Rohingya.



Tidak jelas, kemudian, bagaimana kendaraan lapis baja buatan Israel yang tidak memasuki produksi massal sampai pelarangan berakhir bisa berada di jalan-jalan Naypyidaw pada 1 Februari lalu ketika para jenderal militer merebut kekuasaan.

Pakar militer mengidentifikasi kendaraan lapis baja sebagai model yang diproduksi oleh Industri Otomotif Gaia Israel.

Kepala perusahaan, Shlomi Shraga, mengatakan kepada NYT bahwa dia belum melihat gambar kendaraan yang digunakan di Myanmar dan bersikeras bahwa semua ekspor Gaia Automative memiliki izin yang diperlukan dari Kementerian Pertahanan Israel.

"Mari berharap rakyat Myanmar hidup damai dan di bawah rezim demokrasi," kata Shraga.

Baca juga: Perusahaan Israel Diam-diam Jual Senjata ke China, 20 Orang Ditangkap



Teknologi yang diproduksi oleh produsen senjata Israel Elbit Systems dan perusahaan intelijen digital Israel Cellebrite juga telah dibeli oleh Myanmar, menurut tinjauan NYT atas alokasi anggaran Burma.

Terkait hal itu, Elbit mengklaim tidak memiliki kesepakatan dengan Myanmar sejak 2015 atau 2016 tetapi suku cadang untuk drone pengintai tingkat militer yang diproduksi oleh perusahaan tersebut dijual kepada pasukan Myanmar pada 2019.

Penjualan suku cadang termasuk dalam embargo senjata. Suku cadang tersebut dijual ke Myanmar Future Science, sebuah perusahaan yang mengklaim sebagai pemasok alat bantu pendidikan dan pengajaran.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top