Turki-AS Kerja Sama Pelajari Sistem Rudal Pantsir S-1 Rusia
Sabtu, 27 Februari 2021 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Washington dan Ankara kemudian berdebat tentang siapa yang harus menjaga sistem pertahanan rudal itu. Untuk diketahui, sistem pertahanan rudal itu masih utuh daripada dihancurkan oleh drone Bayraktar TB2 buatan Turki seperti banyak baterai Pantsir lainnya di Libya.
Sementara AS mengatakan bahwa mereka harus mengekstrak sistem itu agar tidak jatuh ke tangan ekstremis, Turki bersikeras bahwa mereka harus memiliki hak untuk mempelajarinya secara rinci.
Baca juga: Demi Dapatkan 100 Jet Tempur F-35, Turki Sewa Firma Hukum AS
Kedua anggota NATO tersebut diperkirakan memiliki tujuan yang sama untuk mempelajari sistem Pantsir Rusia dan meretas teknologinya. Pada akhirnya, mereka setuju untuk mempelajari sistem bersama-sama, dengan AS menggunakan pesawat kargo untuk mengirimkannya ke Turki Juni lalu di mana kedua belah pihak dapat mengerjakannya bersama-sama, menurut para pejabat yang dikutip oleh Africa Report seperti dinukil dari Middle East Monitor, Sabtu (27/2/2021).
Kesepakatan itu melegakan para tokoh senior di pemerintahan Libya seperti Perdana Menteri Fayez Al-Sarraj dan Menteri Dalam Negeri Fathi Bashagha. Seorang pejabat mengatakan bahwa mereka merasa seperti anak-anak dalam perceraian karena diseret ke dalam perselisihan tersebut.
Sementara AS mengatakan bahwa mereka harus mengekstrak sistem itu agar tidak jatuh ke tangan ekstremis, Turki bersikeras bahwa mereka harus memiliki hak untuk mempelajarinya secara rinci.
Baca juga: Demi Dapatkan 100 Jet Tempur F-35, Turki Sewa Firma Hukum AS
Kedua anggota NATO tersebut diperkirakan memiliki tujuan yang sama untuk mempelajari sistem Pantsir Rusia dan meretas teknologinya. Pada akhirnya, mereka setuju untuk mempelajari sistem bersama-sama, dengan AS menggunakan pesawat kargo untuk mengirimkannya ke Turki Juni lalu di mana kedua belah pihak dapat mengerjakannya bersama-sama, menurut para pejabat yang dikutip oleh Africa Report seperti dinukil dari Middle East Monitor, Sabtu (27/2/2021).
Kesepakatan itu melegakan para tokoh senior di pemerintahan Libya seperti Perdana Menteri Fayez Al-Sarraj dan Menteri Dalam Negeri Fathi Bashagha. Seorang pejabat mengatakan bahwa mereka merasa seperti anak-anak dalam perceraian karena diseret ke dalam perselisihan tersebut.
Lihat Juga :