Taliban Peringatkan NATO untuk Tidak Perpanjang Perang

Minggu, 14 Februari 2021 - 15:39 WIB
loading...
Taliban Peringatkan...
Taliban peringatkan NATO untuk tidak memperpanjang perang. Foto/Politico
A A A
KABUL - Kelompok Taliban memperingatkan NATO agar tidak mengupayakan perang berlanjut, karena aliansi itu mempertimbangkan penarikan pasukan dari Afghanistan .

Para menteri pertahanan dari sekutu yang didukung Washington itu akan bertemu pada minggu depan untuk membahas apakah misi NATO yang berkekuatan 10.000 orang - sebagian besar menjalankan peran dukungan - harus tetap atau pergi dari Afghanistan, karena Taliban mengamuk.

"Pesan kami untuk pertemuan tingkat menteri NATO yang akan datang adalah bahwa kelanjutan pendudukan dan perang bukanlah untuk kepentingan Anda maupun untuk kepentingan Anda dan rakyat kami," kata Taliban dalam sebuah pernyataan.



"Siapa pun yang mencari perpanjangan perang dan pendudukan akan dimintai pertanggungjawaban seperti dua dekade sebelumnya," sambung pernyataan itu seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (14/2/2021).

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg telah berulang kali menegaskan bahwa anggota aliansi harus memutuskan "bersama" tentang masa depan misi mereka di Afghanistan. Dia berharap Biden akan berkoordinasi lebih erat dengan sekutunya.

"Jika kami memutuskan untuk pergi, kami berisiko membahayakan proses perdamaian, kami berisiko kehilangan keuntungan yang telah kami buat dalam perang melawan terorisme internasional selama beberapa tahun terakhir," kata kepala NATO itu awal bulan ini.

Baca juga: Taliban Minta Biden Hormati Kesepakatan Trump Tarik Pasukan AS

"Jika kami memutuskan untuk tinggal, kami berisiko terus berada dalam operasi militer yang sulit di Afghanistan dan kami berisiko meningkatkan kekerasan juga terhadap pasukan NATO," imbuhnya.

Mantan presiden Donald Trump telah mencapai kesepakatan dengan Taliban tahun lalu di mana Amerika Serikat (AS) menyetujui pasukan asing akan meninggalkan Afghanistan pada Mei 2021 dengan imbalan persyaratan termasuk memutuskan hubungan dengan al-Qaeda dan membuka pembicaraan damai dengan pemerintah Kabul.

Di hari-hari terakhirnya menjabat, Trump secara sepihak mengurangi pasukan AS di Afghanistan menjadi hanya 2.500 - terendah sejak dimulainya perang pada tahun 2001.

Namun pemerintahan presiden AS yang baru Joe Biden mengatakan akan meninjau kembali kesepakatan itu, dengan Pentagon menuduh kelompok pemberontak Afghanistan tidak memenuhi komitmennya untuk mengurangi kekerasan.

Taliban pada gilirannya menuduh AS melanggar perjanjian dan bersikeras mereka akan melanjutkan pertempuran dan jihad mereka jika pasukan asing tidak pergi pada Mei mendatang.

Baca juga: Taliban-AS Saling Tuding Langgar Perjanjian Damai

Taliban mengatakan sangat berkomitmen dengan kesepakatan AS, mengklaim telah secara signifikan menurunkan tingkat operasinya.

Taliban telah melancarkan serangkaian serangan yang mengancam setidaknya pada dua Ibu Kota provinsi strategis di Afghanistan selatan dalam beberapa bulan terakhir.

AS dan pemerintah Afghanistan menyalahkan mereka atas gelombang serangan mematikan terhadap jurnalis, politisi, hakim, dan aktivis.

Pihak yang bertikai telah meluncurkan pembicaraan damai pada bulan September, tetapi kemajuannya berjalan lambat dan dibayangi oleh aksi kekerasan.

Baca juga: Laporan Kongres: AS Harus Tunda Penarikan Pasukan di Afghanistan
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
Perlombaan Senjata Nuklir...
Perlombaan Senjata Nuklir Baru Telah Tiba, AS dan China Paling Ugal-ugalan
Inggris Makin Tak Berdaya!...
Inggris Makin Tak Berdaya! Seluruh Armada Kapal Selam Serang Tak Bisa Beroperasi
Eropa Memanas! Jet tempur...
Eropa Memanas! Jet tempur Prancis Tembak Jatuh Drone Rusia di Latvia
Torpedo Super Poseidon,...
Torpedo Super Poseidon, Senjata Pencegah Nuklir Rusia Picu Ketakutan NATO
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat M 7,8 di Filipina Bertambah Jadi 53 Orang
Kenapa Orang Amerika...
Kenapa Orang Amerika Menyebut Sepak Bola dengan Soccer? Ini Asal-Usulnya
Rekomendasi
Diperiksa Terkait Kasus...
Diperiksa Terkait Kasus Hanania Travel, Cut Meyriska dan Roger Danuarta Serahkan Bukti ke Polisi
Cut Meyriska Syok Hanania...
Cut Meyriska Syok Hanania Travel Bermasalah, Padahal Sudah Kantongi Akreditasi dan Rekor MURI
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Berita Terkini
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Infografis
Ukraina Mengharapkan...
Ukraina Mengharapkan 3 Juta Peluru Sekutu untuk Akhiri Perang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved