230 Anak Kena Penyakit Langka Terkait Covid-19 di Eropa, Dua Meninggal
Minggu, 17 Mei 2020 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
“Saya menyeru semua dokter di penjuru dunia bekerja sama dengan otoritas nasional kalian dan WHO untuk memperingatkan dan memahami lebih baik sindrom ini pada anak,” papar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
WHO telah mengeluarkan definisi awal untuk sindrom itu. Menurut WHO, sindrom itu menjadi lebih sering muncul selama pandemi corona tapi juga muncul pada anak yang dites negatif Covid-19.
Kondisi itu dialami anak dan remaja yang menunjukkan demam selama lebih dari tiga hari, dengan tanda radang.
Anak-anak juga menunjukkan minimal dua gejala lanjutan yakni ruam atau tanda radang di sekitar mulus, tangan atau kaki, syok atau tekanan darah rendah, masalah jantung, kelainan pendarahan, dan masalah pencernaan akut.
Definisi kasus itu tergolong pada anak yang terjangkit Covid-19 atau diduga memiliki kontak dengan pasien Covid-19, dan tidak memiliki mikroba penyebab radang.
“Kita sejauh ini hanya sangat sedikit tahu tentang sindrom radang ini,” ujar epidemiologis WHO Maria Van Kerkhove.
WHO telah mengeluarkan definisi awal untuk sindrom itu. Menurut WHO, sindrom itu menjadi lebih sering muncul selama pandemi corona tapi juga muncul pada anak yang dites negatif Covid-19.
Kondisi itu dialami anak dan remaja yang menunjukkan demam selama lebih dari tiga hari, dengan tanda radang.
Anak-anak juga menunjukkan minimal dua gejala lanjutan yakni ruam atau tanda radang di sekitar mulus, tangan atau kaki, syok atau tekanan darah rendah, masalah jantung, kelainan pendarahan, dan masalah pencernaan akut.
Definisi kasus itu tergolong pada anak yang terjangkit Covid-19 atau diduga memiliki kontak dengan pasien Covid-19, dan tidak memiliki mikroba penyebab radang.
“Kita sejauh ini hanya sangat sedikit tahu tentang sindrom radang ini,” ujar epidemiologis WHO Maria Van Kerkhove.
Lihat Juga :