Jelang Demo Rusia, Adik dan Ajudan Navalny Jadi Tahanan Rumah
Sabtu, 30 Januari 2021 - 07:01 WIB
loading...
A
A
A
Tekanan pada keluarga dan rekan Navalny meningkat setelah puluhan ribu orang Rusia berkumpul akhir pekan lalu untuk mendukung kritikus paling vokal terhadap Presiden Vladimir Putin tersebut.
Lebih dari 4.000 pengunjuk rasa ditahan akhir pekan lalu dan pihak berwenang meluncurkan sejumlah penyelidikan kriminal. Beberapa rekan Navalny, termasuk Sobol, ditahan menyusul penggerebekan polisi di apartemen dan kantor mereka.
Komite Investigasi kemarin mengumumkan bahwa Leonid Volkov, kepala jaringan regional Navalny yang berbasis di Ibu Kota Lithuania; Vilnius, dicari dengan tuduhan menyerukan anak di bawah umur untuk bergabung dengan demonstrasi yang tidak sah.
Seorang juru bicara kepolisian Moskow menolak memberikan rincian lebih lanjut tentang pembatasan pergerakan yang direncanakan hari ini ketika dihubungi oleh AFP.
Moskow melonggarkan pembatasan terkait pencegahan virus corona minggu ini tetapi para pejabat menahan diri untuk tidak mencabut larangan pertemuan massal.
Peringatan 'Kerusuhan Massal'
Jaksa dan polisi telah berulang kali memperingatkan orang Rusia agar tidak berpartisipasi dalam acara "tidak sah". Kemarin, Kejaksaan Agung mengatakan bahwa para demonstran dapat menghadapi tuduhan kerusuhan massal jika protes berubah menjadi kekerasan.
Baca juga: Putin Bantah Memiliki Istana Mewah Senilai Miliaran Dollar
Dalam pesan dari penjara, Navalny pada hari Kamis mendesak orang-orang Rusia untuk menggelar aksi unjuk rasa baru.
“Mayoritas ada di pihak kami. Ayo bangunkan mereka," tulis dia.
Polisi menahan juru kampanye anti-korupsi berusia 44 tahun itu setelah dia kembali ke Rusia pada 17 Januari dari Jerman, di mana dia telah pulih dari dugaan serangan racun Novichok, racun saraf yang dirancang Soviet.
Panggilan darurat di sebuah kantor polisi pekan lalu memerintahkan Navalny ditahan hingga 15 Februari.
Lebih dari 4.000 pengunjuk rasa ditahan akhir pekan lalu dan pihak berwenang meluncurkan sejumlah penyelidikan kriminal. Beberapa rekan Navalny, termasuk Sobol, ditahan menyusul penggerebekan polisi di apartemen dan kantor mereka.
Komite Investigasi kemarin mengumumkan bahwa Leonid Volkov, kepala jaringan regional Navalny yang berbasis di Ibu Kota Lithuania; Vilnius, dicari dengan tuduhan menyerukan anak di bawah umur untuk bergabung dengan demonstrasi yang tidak sah.
Seorang juru bicara kepolisian Moskow menolak memberikan rincian lebih lanjut tentang pembatasan pergerakan yang direncanakan hari ini ketika dihubungi oleh AFP.
Moskow melonggarkan pembatasan terkait pencegahan virus corona minggu ini tetapi para pejabat menahan diri untuk tidak mencabut larangan pertemuan massal.
Peringatan 'Kerusuhan Massal'
Jaksa dan polisi telah berulang kali memperingatkan orang Rusia agar tidak berpartisipasi dalam acara "tidak sah". Kemarin, Kejaksaan Agung mengatakan bahwa para demonstran dapat menghadapi tuduhan kerusuhan massal jika protes berubah menjadi kekerasan.
Baca juga: Putin Bantah Memiliki Istana Mewah Senilai Miliaran Dollar
Dalam pesan dari penjara, Navalny pada hari Kamis mendesak orang-orang Rusia untuk menggelar aksi unjuk rasa baru.
“Mayoritas ada di pihak kami. Ayo bangunkan mereka," tulis dia.
Polisi menahan juru kampanye anti-korupsi berusia 44 tahun itu setelah dia kembali ke Rusia pada 17 Januari dari Jerman, di mana dia telah pulih dari dugaan serangan racun Novichok, racun saraf yang dirancang Soviet.
Panggilan darurat di sebuah kantor polisi pekan lalu memerintahkan Navalny ditahan hingga 15 Februari.
Lihat Juga :