Strategi Trump dan Republik Dinilai Bisa Merusak Demokrasi AS
Rabu, 06 Januari 2021 - 07:07 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: Eks Bos Mossad Sebut Aksi Balas Dendam Kematian Soleimani Tunggu Pelantikan Biden )
Trump menciptakan politik fantasi pada kampanye tersebut. Itu menjadikan sebagian pihak khawatir ketika Trump akan menyalahgunakan kekuasaannya. Trump juga tidak mampu menjelaskan bagaimana dia bisa menggagalkan proses konstitusi dalam pemilu AS di mana Biden adalah pemenang pemilu presiden.
Sebelumnya Trump dan Partai Republik juga berusaha menghalangi sertifikasi pemilu oleh Kongres pada Rabu (hari ini waktu setempat). Itu dilakukan setelah sejumlah hakim di negara bagian dan hakim agung menggagalkan gugatan tudingan kecurangan pemilu. “Logika yang ditawarkan Trump tidak menunjukkan bahwa dia menawarkan bukti yang kredibel mengenai pemilu curang. Ketika Republik kalah dan menyatakan Demokrat melakukan kecurangan, bagaimana kebenarannya?” ungkap Stephen Collinson, analis politik CNN.
Apa yang dilakukan Trump dengan agenda populisme sebenarnya merusak sistem demokrasi. Seperti diungkapkan pakar politik Universitas Stanford, AS menghadapi krisis karena sistem demokrasi yang terancam. “Pemerintah kita melakukan pekerjaan yang tidak efektif dalam mengatasi masalah karena meningkatnya kemarahan populisme,” katanya.
Bertarung di Georgia
Pemilu senat di negara bagian Georgia memang menjadi penentu apakah presiden terpilih Joe Biden akan mengontrol senat atau tidak. Jika Partai Demokrat bisa memenangkan pemilu senat di Georgia dengan menambah dua kursi, Biden bisa mengontrol Kongres baik Senat maupun DPR. Maka, agenda progresif Biden bisa didukung penuh parlemen.
Langkah Biden itu berusaha dijegal oleh Trump yang mengatakan bahwa pemilu Georgia sebagai kesempatan terakhir untuk menyelamatkan AS. Pada pemilu senat yang digelar November lalu, tidak ada kandidat senat Kelly Loeffler dan David Perdue dari Partai Republik, serta Reverend Raphael Warnock dan Jon Ossoff dari Demokrat, berhasil meraih suara lebih dari 50% sehingga digelar putaran kedua.
Hasil pemilu senat di Georgia akan menentukan keseimbangan kekuasaan di Capitol Hill. Saat ini, Partai Republik menguasai 52 dari 100 kursi senat. Jika Demokrat berhasil memenangkan pemilu senat di Georgia, maka kekuatan akan menjadi seimbang.
Trump menciptakan politik fantasi pada kampanye tersebut. Itu menjadikan sebagian pihak khawatir ketika Trump akan menyalahgunakan kekuasaannya. Trump juga tidak mampu menjelaskan bagaimana dia bisa menggagalkan proses konstitusi dalam pemilu AS di mana Biden adalah pemenang pemilu presiden.
Sebelumnya Trump dan Partai Republik juga berusaha menghalangi sertifikasi pemilu oleh Kongres pada Rabu (hari ini waktu setempat). Itu dilakukan setelah sejumlah hakim di negara bagian dan hakim agung menggagalkan gugatan tudingan kecurangan pemilu. “Logika yang ditawarkan Trump tidak menunjukkan bahwa dia menawarkan bukti yang kredibel mengenai pemilu curang. Ketika Republik kalah dan menyatakan Demokrat melakukan kecurangan, bagaimana kebenarannya?” ungkap Stephen Collinson, analis politik CNN.
Apa yang dilakukan Trump dengan agenda populisme sebenarnya merusak sistem demokrasi. Seperti diungkapkan pakar politik Universitas Stanford, AS menghadapi krisis karena sistem demokrasi yang terancam. “Pemerintah kita melakukan pekerjaan yang tidak efektif dalam mengatasi masalah karena meningkatnya kemarahan populisme,” katanya.
Bertarung di Georgia
Pemilu senat di negara bagian Georgia memang menjadi penentu apakah presiden terpilih Joe Biden akan mengontrol senat atau tidak. Jika Partai Demokrat bisa memenangkan pemilu senat di Georgia dengan menambah dua kursi, Biden bisa mengontrol Kongres baik Senat maupun DPR. Maka, agenda progresif Biden bisa didukung penuh parlemen.
Langkah Biden itu berusaha dijegal oleh Trump yang mengatakan bahwa pemilu Georgia sebagai kesempatan terakhir untuk menyelamatkan AS. Pada pemilu senat yang digelar November lalu, tidak ada kandidat senat Kelly Loeffler dan David Perdue dari Partai Republik, serta Reverend Raphael Warnock dan Jon Ossoff dari Demokrat, berhasil meraih suara lebih dari 50% sehingga digelar putaran kedua.
Hasil pemilu senat di Georgia akan menentukan keseimbangan kekuasaan di Capitol Hill. Saat ini, Partai Republik menguasai 52 dari 100 kursi senat. Jika Demokrat berhasil memenangkan pemilu senat di Georgia, maka kekuatan akan menjadi seimbang.
Lihat Juga :