Yordania: Penyelesaian Konflik Israel-Palestina Bergantung pada Solusi Dua Negara

loading...
Yordania: Penyelesaian Konflik Israel-Palestina Bergantung pada Solusi Dua Negara
Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi sebut penyelesaian damai untuk konflik Israel-Palestina bergantung pada solusi dua negara. Foto/REUTERS
AMMAN - Yordania sebut penyelesaian damai untuk konflik Israel-Palestina bergantung pada solusi dua negara. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi saat berbicara di konferensi keamanan tahunan, IISS Manama Dialogue.

"Konflik Israel-Palestina adalah sumber ketegangan terbesar yang kami lihat di wilayah ini dan ini telah dimasukkan ke dalam konflik lain yang terus ada," katanya, seperti dilansir Al Arabiya pada Minggu (6/12/2020).

Dia mengatakan, kesepakatan Abraham Accords antara Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Israel harus dimanfaatkan untuk menciptakan daya tarik dalam menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel. ( Baca juga: Dipukuli Tentara Israel di Tahanan, Anak Palestina Patah Rahang )

Safadi juga mengatakan seluruh negara di kawasan perlu berpikir bersama, merencanakan bersama dan bertindak bersama untuk menyelesaikan berbagai konflik yang terus mendominasi kawasan.



Pernyataan serupa sebelumnya disampaikan Presiden Majelis Umum PBB, Volkan Bozkir. Di mana, dia mengatakan eskipun ada upaya untuk mengurangi solusi dua negara, itu tetap satu-satunya pilihan yang layak untuk mencapai perdamaian antara Palestina dan Israel.

Berbicara kepada komite legislatif tentang hak-hak rakyat Palestina tengah pekan ini, Bozkir mengatakan, PBB telah menetapkan prinsip tersebut sebagai landasan perdamaian di wilayah tersebut sejak 1947. ( Baca juga: Arab Saudi-Israel 'Mesra', Yordania Cemaskan Nasib Masjid al-Aqsa )

"Solusi dua negara yang diakui oleh Resolusi 181 adalah satu-satunya premis untuk perdamaian yang adil, langgeng dan komprehensif antara Israel dan Palestina, untuk membawa keamanan dan kemakmuran bagi semua," kata Bozkir, mengacu pada resolusi Sidang Umum 1947.

Dia dengan tajam mengkritik apa yang dia sebut upaya untuk mengikis status Yerusalem, ancaman aneksasi, dan blokade tidak manusiawi di Gaza yang menggambarkan mereka sebagai bagian dari pola berulang, yang sangat membatasi hak-hak dasar dan kebebasan rakyat Palestina.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top