Pertama Kalinya, Paus Francis Sebut Muslim Uighur Teraniaya
Selasa, 24 November 2020 - 17:17 WIB
loading...
Paus Fransiskus. Foto/NBC News
A
A
A
VATICAN CITY - Pemimpin gereja Katolik, Paus Francis , untuk pertama kalinya secara terbukan menyebut kelompok minoritas Muslim Uighur di antara daftar orang-orang yang teraniaya di dunia. Pernyataan Paus Francis ini memecah kebungkamannya atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas di wilayah Xinjiang barat jauh negara itu.
"Saya sering berpikir tentang orang-orang yang teraniaya: Rohingya, Uighur yang malang, Yazidi - apa yang ISIS lakukan kepada mereka benar-benar kejam - atau orang Kristen di Mesir dan Pakistan dibunuh oleh bom yang meledak saat mereka berdoa di gereja," kata Paus Francis dalam buku baru, 'Let Us Dream: The Path to A Better Future,' yang diterbitkan pada hari Senin seperti dilansir dari CNN, Selasa (24/11/2020).
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan sebanyak dua juta orang Uyghur, yang sebagian besar Muslim, dan kelompok minoritas lainnya telah dibawa ke pusat-pusat penahanan besar di Xinjiang, di mana mantan tahanan digambarkan mengalami indoktrinasi, pelecehan fisik, dan sterilisasi.
Beijing menegaskan kamp-kamp itu adalah pusat pelatihan kejuruan yang dibangun untuk mengatasi ancaman ekstremisme agama dan menyangkal tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas di Xinjiang.
Paus tidak merinci lebih lanjut tentang masalah yang berkaitan dengan Uighur dalam buku di luar penyebutan singkat, sementara dia berbicara tentang kelompok teraniaya lainnya seperti Rohingya secara lebih rinci.
Buku, refleksi luas tentang visi Paus Fransiskus tentang dunia pasca-virus Corona, ditulis bersama dengan penulis biografi kepausan Austen Ivereigh selama musim panas 2020.
"Saya sering berpikir tentang orang-orang yang teraniaya: Rohingya, Uighur yang malang, Yazidi - apa yang ISIS lakukan kepada mereka benar-benar kejam - atau orang Kristen di Mesir dan Pakistan dibunuh oleh bom yang meledak saat mereka berdoa di gereja," kata Paus Francis dalam buku baru, 'Let Us Dream: The Path to A Better Future,' yang diterbitkan pada hari Senin seperti dilansir dari CNN, Selasa (24/11/2020).
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan sebanyak dua juta orang Uyghur, yang sebagian besar Muslim, dan kelompok minoritas lainnya telah dibawa ke pusat-pusat penahanan besar di Xinjiang, di mana mantan tahanan digambarkan mengalami indoktrinasi, pelecehan fisik, dan sterilisasi.
Beijing menegaskan kamp-kamp itu adalah pusat pelatihan kejuruan yang dibangun untuk mengatasi ancaman ekstremisme agama dan menyangkal tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas di Xinjiang.
Paus tidak merinci lebih lanjut tentang masalah yang berkaitan dengan Uighur dalam buku di luar penyebutan singkat, sementara dia berbicara tentang kelompok teraniaya lainnya seperti Rohingya secara lebih rinci.
Buku, refleksi luas tentang visi Paus Fransiskus tentang dunia pasca-virus Corona, ditulis bersama dengan penulis biografi kepausan Austen Ivereigh selama musim panas 2020.
Lihat Juga :