Kebijakan Timur Tengah Obama Mungkin Kembali 'Hidup' di Masa Pemerintahan Biden

Selasa, 24 November 2020 - 02:30 WIB
loading...
Kebijakan Timur Tengah...
Presiden AS Terpilih Joe Biden. FOTO/Reuters
A A A
WASHINGTON - Sejumlah pengamat memprediksi bahwa kebijakan Timur Tengah era Barack Obama mungkin akan kembali diterapkan di masa pemerintahan Joe Biden . Hal yang sama juga mungkin akan berlaku pada kebijakan terkait Afrika Utara.

"Secara global, pemerintahan Biden akan mendorong untuk meredakan ketegangan dengan China dan Uni Eropa, serta negara-negara NATO. Meningkatkan retorika terhadap Korea Utara (Korut) dan memberlakukan lebih banyak sanksi pada Rusia, Iran, dan Suriah untuk alasan apa pun yang dapat mereka bayangkan," kata Ghassan Kadi, seorang pakar Timur Tengah dan analis politik keturunan Suriah.

(Baca: Strategi Diplomasi Biden Cenderung Bipartisan )

Tim kebijakan luar negeri Biden telah mengumpulkan lebih dari 2.000 orang, termasuk 20 kelompok kerja, untuk menentukan agenda kebijakan luar negerinya dan "membalikkan" beberapa kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump.

Sementara Senator Bernie Sanders telah menyatakan keprihatinan atas lingkaran dalam Biden yang sebagian besar terdiri dari veteran pemerintahan Clinton dan Obama, yang sebelumnya mendukung intervensi militer AS di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah.

Kadi menuturkan, selama masa pemerintaha Biden, AS kemungkina besar akan membatalkan rencana mundur dari Suriah, Irak, atau Afghanistan dalam waktu dekat. Dia tidak mengesampingkan peningkatan kontingen militer AS di Suriah di bawah pemerintahan Biden.


"Jawaban sederhananya adalah tidak, bukan karena mereka tidak seharusnya, tetapi karena mereka akan terlalu sombong untuk menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari jalan buntu tanpa negosiasi," ucapnya.

"Jika ada, penasihat atau tim penasihat baru yang akan mendorong untuk menunjukkan bahwa kebijakan Donald Trump di Suriah salah, mereka kemungkinan akan menganjurkan pengiriman lebih banyak pasukan ke Suriah," sambungnya, seperti dilansir Sputnik.

Misalnya, Kadi mecontohkan, adalah Colin Kahl, seorang penasihat informal untuk kampanye Biden, dikenal karena strategi "keterlibatan progresif" yang membayangkan penempatan jangka panjang dari kontingen militer AS ke negara-negara Timur Tengah setelah pemberontakan Arab untuk mengawasi "reformasi demokrasi" di sana.

(Baca: Biden Akan Umumkan Kabinet Pertamanya pada Selasa )

Kahl, yang menjabat sebagai direktur di Kementerian Pertahanan AS yang mengurusi masalah Timur Tengah dari 2009 sampai akhir 2011, sebagian besar dianggap sebagai arsitek tanggapan Pentagon terhadap "Arab Spring" di awal 2010-an dan kemudian dibajak oleh kelompok teroris, seperti Ikhwanul Muslimin, al-Qaeda, dan kemudian ISIS di beberapa negara Arab.

Menanggapi kritik Partai Republik terhadap strategi Obama di Timur Tengah dan Afrika Utara, Kahl bersikeras pada tahun 2012 bahwa pemberontakan militan pada akhirnya akan digantikan oleh aliansi antara "Islamis moderat" dan partai-partai Arab sekuler, sesuatu yang belum pernah terjadi, hampir satu dekade setelah peristiwa awal.

Dia juga dikenal sebagai pengkritik utama Trump, khususnya terkait kebijakan Timur Tengah. Dia mengecam Trump atas keputusannya untuk segera menarik diri dari Suriah setelah kekalahan teroris Daesh. Menurut Kahl, tujuan Washington di Republik Arab tidak terbatas untuk menggagalkan ancaman teror.

(Baca: Iran: Biden Bisa Cabut Sanksi dengan Tiga Perintah Eksekutif )

Sebaliknya, mantan Penasihat Keamanan Nasional AS itu memuji rencana Biden untuk mempertahankan kontingen militer terbatas di Timur Tengah dan Afghanistan.

Namun, menurut Kadi, situasi di Timur Tengah dan sekitarnya telah berubah secara dramatis selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, Suriah bukan lagi negara yang runtuh seperti lima tahun lalu.

"Jika (Kahl) benar-benar ingin memiliki 'keterlibatan progresif' dengan rakyat Suriah, ia kemudian harus mendukung gagasan menarik diri dari Suriah tanpa syarat karena Amerika tidak memiliki bisnis di Suriah atau legitimasi kehadirannya," tegasnya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
Presiden FIFA Dicecar...
Presiden FIFA Dicecar Jurnalis soal Kekacauan Piala Dunia 2026, Jawaban Infantino Terkesan Meremehkan
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Ngeri! Suhu Paris Lebih...
Ngeri! Suhu Paris Lebih Panas daripada Makkah
Rekomendasi
Kecam Dugaan Intimidasi...
Kecam Dugaan Intimidasi Dokter di NTT, Ninik: Sanksi Disiplin Jika Kader PKB Terlibat
Aljazair dan Austria...
Aljazair dan Austria Lolos Dramatis usai Bermain Imbang 3-3 di Laga Penuh Drama
Superkomputer LineShine...
Superkomputer LineShine China Raih Status Superkomputer Tercepat di Dunia
Berita Terkini
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved