Pendukung Raja Thailand Tolak Reformasi Konstitusi
Rabu, 18 November 2020 - 11:12 WIB
loading...
A
A
A
Bukan hanya pendukung monarki yang menggelar aksi di parlemen, para pengunjuk rasa anti-monarki juga beraksi. Namun, kehadiran mereka membuat tidak nyaman aparat keamanan. Polisi menembakkan gas air mata dan memasak barikade kawat berduri agar mereka tidak bisa masuk ke parlemen.
Para pengunjuk rasa tersebut meminta perubahan konstitusi yang ditulis pemerintahan mantan junta militer. Mereka juga ingin menggulingkan PM Prayuth, mantan pemimpin junta, dan mereformasi kekuasaan kerajaan.
Polisi memasang barikade di luar gedung parlemen di mana ratusan pendukung kerajaan juga berdemonstrasi agar anggota parlemen tidak mengubah konstitusi. Para demonstran anti-monarki yang mengenakan helm dan masker mencoba merusak barikade polisi. Mereka juga melembarkan bom asap berwarna kepada polisi.
“Antek diktator!”demikian seruan kelompok demonstran Free Youth menggambarkan bentrokan dengan aparat kepolisian. Polisi menyatakan demonstrasi di larang dengan jarak 50 meter dari gedung parlemen. Tapi, ratusan demonstran justru tetap berkumpul dan terus mendekati gedung parlemen. (Baca juga: Tetap Jaga Berat Badan Selama Pandemi)
Prayuth yang didesak agar resign oleh pengunjuk rasa anti-Kerajaan dituduh hanya memilih Senat yang mendukung dirinya berkuasa. Namun, tuduhan itu tidak dapat diverifikasi. Prayuth juga mengatakan pertimbangan yang dilakukan Senat di dalam rapat besar selalu adil, termasuk hasil suara yang seimbang.
Para pengunjuk rasa tersebut meminta perubahan konstitusi yang ditulis pemerintahan mantan junta militer. Mereka juga ingin menggulingkan PM Prayuth, mantan pemimpin junta, dan mereformasi kekuasaan kerajaan.
Polisi memasang barikade di luar gedung parlemen di mana ratusan pendukung kerajaan juga berdemonstrasi agar anggota parlemen tidak mengubah konstitusi. Para demonstran anti-monarki yang mengenakan helm dan masker mencoba merusak barikade polisi. Mereka juga melembarkan bom asap berwarna kepada polisi.
“Antek diktator!”demikian seruan kelompok demonstran Free Youth menggambarkan bentrokan dengan aparat kepolisian. Polisi menyatakan demonstrasi di larang dengan jarak 50 meter dari gedung parlemen. Tapi, ratusan demonstran justru tetap berkumpul dan terus mendekati gedung parlemen. (Baca juga: Tetap Jaga Berat Badan Selama Pandemi)
Prayuth yang didesak agar resign oleh pengunjuk rasa anti-Kerajaan dituduh hanya memilih Senat yang mendukung dirinya berkuasa. Namun, tuduhan itu tidak dapat diverifikasi. Prayuth juga mengatakan pertimbangan yang dilakukan Senat di dalam rapat besar selalu adil, termasuk hasil suara yang seimbang.
Lihat Juga :