Hindari Konflik dengan 'Penguasa' Senat, Biden Bentuk Kabinet Moderat
Selasa, 10 November 2020 - 09:31 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan, sebelum pilpres, tak ada satu pun yang memprediksi anggota sayap kiri akan diangkat Biden, termasuk untuk posisi treasury secretary yang mungkin dapat diisi Elizabeth Warren. Beberapa kandidat yang kini kemungkinan besar meraih jabatan itu adalah Lael Brainard, Sarah Bloom, dan Roger Ferguson.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan aktivis di Washington mengatakan tidak ada alasan bagi Biden untuk membatasi agendanya ataupun penyusunan kabinet kerja, sekalipun Senat dikuasai Partai Republik. Partai Demokrat juga masih memiliki peluang menguasai upper chamber.
“Penunjukan kabinet ini sebenarnya akan menceritakan kepada kita siapa saja yang berperan penting dalam kemenangan Biden,” kata Alexandria Ocasio-Cortez, anggota DPR dari New York. “Kami semua yang mendukung Biden sebenarnya kesulitan membujuk pencoblos jika tidak ada perubahan,” tambahnya.
Keterlambatan penghitungan suara menciptakan polemik. Donald Trump yang kembali mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2020 menuduh pilpres kali ini dipenuhi kecurangan. Dia mengatakan sebagian pendukungnya dihadang sekelompok orang sehingga tidak dapat turut serta dalam pencoblosan. (Baca juga: 7 Cara Sederhana Atasi Masalah Lambung)
“Jutaan orang (warga AS) telah mendukung kami,” kata Trump, di East Room, Gedung Putih, Washington, AS, Rabu (4/11) pagi waktu lokal. “Tapi, sekelompok orang mencoba menghambat suara mereka dengan berbagai cara.” Saat itu, Trump tertinggal dengan perolehan suara 213 berbanding 238 di 40 negara bagian.
Trump mengakui ketertinggalannya dari Biden di beberapa negara bagian. Padahal, sebelumnya, dia sangat percaya diri dapat unggul dari Biden di negara bagian tertentu dan kembali menjabat sebagai presiden. Pebisnis yang beralih menjadi politikus itu bahkan sudah menyiapkan pesta selebrasi pada Rabu (4/11) malam.
“Upaya kecurangan merupakan sebuah kerugian besar bagi masyarakat AS. Ini merupakan tindakan yang memalukan bagi negeri ini (AS). Terus terang saja, kami memenangi pilpres ini,” kata Trump. Trump kemudian mengatakan akan mengadu kepada Mahkamah Agung agar perhitungan suara dapat dihentikan.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan aktivis di Washington mengatakan tidak ada alasan bagi Biden untuk membatasi agendanya ataupun penyusunan kabinet kerja, sekalipun Senat dikuasai Partai Republik. Partai Demokrat juga masih memiliki peluang menguasai upper chamber.
“Penunjukan kabinet ini sebenarnya akan menceritakan kepada kita siapa saja yang berperan penting dalam kemenangan Biden,” kata Alexandria Ocasio-Cortez, anggota DPR dari New York. “Kami semua yang mendukung Biden sebenarnya kesulitan membujuk pencoblos jika tidak ada perubahan,” tambahnya.
Keterlambatan penghitungan suara menciptakan polemik. Donald Trump yang kembali mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2020 menuduh pilpres kali ini dipenuhi kecurangan. Dia mengatakan sebagian pendukungnya dihadang sekelompok orang sehingga tidak dapat turut serta dalam pencoblosan. (Baca juga: 7 Cara Sederhana Atasi Masalah Lambung)
“Jutaan orang (warga AS) telah mendukung kami,” kata Trump, di East Room, Gedung Putih, Washington, AS, Rabu (4/11) pagi waktu lokal. “Tapi, sekelompok orang mencoba menghambat suara mereka dengan berbagai cara.” Saat itu, Trump tertinggal dengan perolehan suara 213 berbanding 238 di 40 negara bagian.
Trump mengakui ketertinggalannya dari Biden di beberapa negara bagian. Padahal, sebelumnya, dia sangat percaya diri dapat unggul dari Biden di negara bagian tertentu dan kembali menjabat sebagai presiden. Pebisnis yang beralih menjadi politikus itu bahkan sudah menyiapkan pesta selebrasi pada Rabu (4/11) malam.
“Upaya kecurangan merupakan sebuah kerugian besar bagi masyarakat AS. Ini merupakan tindakan yang memalukan bagi negeri ini (AS). Terus terang saja, kami memenangi pilpres ini,” kata Trump. Trump kemudian mengatakan akan mengadu kepada Mahkamah Agung agar perhitungan suara dapat dihentikan.
Lihat Juga :