AS Tuding China dan Rusia Bekerja Sama Sebar Hoaks Corona
Sabtu, 09 Mei 2020 - 09:08 WIB
loading...
A
A
A
"China semakin banyak menggunakan jaringan bot untuk memperkuat pesannya," imbuh Gabrielle.
Ia mengatakan bahwa akun diplomatik resmi China tiba-tiba terjadi peningkatan pada akhir Maret, dengan menambahkan sekitar 30 pengikut baru setiap hari menjadi lebih dari 720, seringkali berasal dari akun yang baru dibuat.
Ia mengatakan bahwa China pertama kali diamati menggunakan metode online seperti itu untuk "menabur perselisihan politik" di wilayah otonomnya di Hong Kong, yang telah menyaksikan demonstrasi besar pro-demokrasi.
China membuat marah AS ketika seorang juru bicara Kementerian Luar Negerinya mentweet konspirasi bahwa militer AS membawa virus ke Wuhan. Namun perang retorika keduanya mereda setelah pembicaraan telepon antara Presiden Donald Trump dan rekannya asal China, Xi Jinping.
Ketegangan kembali melonjak ketika Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mendorong teori bahwa virus itu berasal dari laboratorium China, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia dan ahli epidemiologi top pemerintah AS mengatakan tidak ada bukti mengenai hal ini.
Ia mengatakan bahwa akun diplomatik resmi China tiba-tiba terjadi peningkatan pada akhir Maret, dengan menambahkan sekitar 30 pengikut baru setiap hari menjadi lebih dari 720, seringkali berasal dari akun yang baru dibuat.
Ia mengatakan bahwa China pertama kali diamati menggunakan metode online seperti itu untuk "menabur perselisihan politik" di wilayah otonomnya di Hong Kong, yang telah menyaksikan demonstrasi besar pro-demokrasi.
China membuat marah AS ketika seorang juru bicara Kementerian Luar Negerinya mentweet konspirasi bahwa militer AS membawa virus ke Wuhan. Namun perang retorika keduanya mereda setelah pembicaraan telepon antara Presiden Donald Trump dan rekannya asal China, Xi Jinping.
Ketegangan kembali melonjak ketika Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mendorong teori bahwa virus itu berasal dari laboratorium China, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia dan ahli epidemiologi top pemerintah AS mengatakan tidak ada bukti mengenai hal ini.
(ber)
Lihat Juga :