Jadi Jalur Sutera Penyelundupan, Asia Tenggara Darurat Narkoba
Jum'at, 06 November 2020 - 10:11 WIB
loading...
A
A
A
Penyelidikan, pelacakan, dan penyitaan sabu-sabu dalam skala besar dilakukan di seluruh kawasan Asia Tenggara. Produksinya diyakini terletak di negara bagian Shan State, Myanmar, wilayah yang bergejolak menyusul banyaknya militan dan gembong narkoba . Kelompok bersenjata di sana ingin memisahkan diri dari Myanmar.
Pemerintah Barat sering menuduh kelompok bersenjata di Shan State menggalang kekuatan ekonomi dari penjualan narkoba karena merupakan tempat yang subur dengan penegakan hukum yang lemah. Namun, kelompok bersenjata di Shan State membantah menjadikan narkoba sebagai sumber utama pendapatan. (Baca juga: Serangan Meningkat, Prancis Tingkatkan Keamanan di Perbatasan)
Sejumlah tokoh di Shan State menyatakan tanaman opium sudah lama dimusnahkan dan diganti dengan tanaman lain, seperti kopi, karet, dan teh. PBB juga menyatakan produksi dan distribusi heroin di Segitiga Emas menurun. Bagaimanapun para ahli menerangkan bisnis heroin di Shan State diganti dengan sabu-sabu.
“Hal itu didukung dengan banyak bukti,” kata Douglas. Keputusan itu tidak hanya dipaksa perubahan pasar tapi juga dimotivasi keuntungan yang tinggi dan produksi yang mudah. Tidak seperti heroin, sabu-sabu dapat dibuat di laboratorium yang dapat dipindah-pindahkan tanpa memerlukan pengolahan organik.
Sejak China mengeluarkan inisiatif One Belt One Road, proyek pembangunan infrastruktur dalam skala global, distribusi sabu-sabu juga dinilai menjadi lebih mudah dan cepat di Segitiga Emas. Saat ini sabu-sabu dari Shan State, baik dalam bentuk pil atau kristal, menyebar hingga Jepang, Selandia Baru, dan Australia.
Sabu-sabu senilai ASD1,04 miliar yang disita di Australia pada akhir 2017 juga diyakini berasal dari Shan State. Tahun ini pemerintah di Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia menggalakkan pemberantasan sabu-sabu. Dalam lima bulan penyitaan, totalnya melampaui penyitaan pada 2017. (Lihat videonya: Status Gunung Merapi Naik ke Level Siaga)
Pemerintah mengatakan para pengedar narkoba menggunakan jaringan keuangan yang rumit untuk menyembunyikan keuntungan dari penjualan sabu-sabu. Sejauh ini jaringan itu tidak diterangkan. Namun, aliran uangnya bermuara hingga Hong Kong yang sibuk dengan pergerakan uang, orang, dan barang.
“Bagi saya, hal itu terdengar masuk akal. Sebab, Hong Kong merupakan tempat yang tepat untuk proses tersebut,” kata pengamat intelijen dari Statfor, Evan Rees. Sejumlah pengedar juga diduga bekerja sama dengan perusahaan barang untuk menyelundupkan uang. Tapi, tidak ada seorang pun yang berani angkat bicara. (Muh Shamil)
Pemerintah Barat sering menuduh kelompok bersenjata di Shan State menggalang kekuatan ekonomi dari penjualan narkoba karena merupakan tempat yang subur dengan penegakan hukum yang lemah. Namun, kelompok bersenjata di Shan State membantah menjadikan narkoba sebagai sumber utama pendapatan. (Baca juga: Serangan Meningkat, Prancis Tingkatkan Keamanan di Perbatasan)
Sejumlah tokoh di Shan State menyatakan tanaman opium sudah lama dimusnahkan dan diganti dengan tanaman lain, seperti kopi, karet, dan teh. PBB juga menyatakan produksi dan distribusi heroin di Segitiga Emas menurun. Bagaimanapun para ahli menerangkan bisnis heroin di Shan State diganti dengan sabu-sabu.
“Hal itu didukung dengan banyak bukti,” kata Douglas. Keputusan itu tidak hanya dipaksa perubahan pasar tapi juga dimotivasi keuntungan yang tinggi dan produksi yang mudah. Tidak seperti heroin, sabu-sabu dapat dibuat di laboratorium yang dapat dipindah-pindahkan tanpa memerlukan pengolahan organik.
Sejak China mengeluarkan inisiatif One Belt One Road, proyek pembangunan infrastruktur dalam skala global, distribusi sabu-sabu juga dinilai menjadi lebih mudah dan cepat di Segitiga Emas. Saat ini sabu-sabu dari Shan State, baik dalam bentuk pil atau kristal, menyebar hingga Jepang, Selandia Baru, dan Australia.
Sabu-sabu senilai ASD1,04 miliar yang disita di Australia pada akhir 2017 juga diyakini berasal dari Shan State. Tahun ini pemerintah di Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia menggalakkan pemberantasan sabu-sabu. Dalam lima bulan penyitaan, totalnya melampaui penyitaan pada 2017. (Lihat videonya: Status Gunung Merapi Naik ke Level Siaga)
Pemerintah mengatakan para pengedar narkoba menggunakan jaringan keuangan yang rumit untuk menyembunyikan keuntungan dari penjualan sabu-sabu. Sejauh ini jaringan itu tidak diterangkan. Namun, aliran uangnya bermuara hingga Hong Kong yang sibuk dengan pergerakan uang, orang, dan barang.
“Bagi saya, hal itu terdengar masuk akal. Sebab, Hong Kong merupakan tempat yang tepat untuk proses tersebut,” kata pengamat intelijen dari Statfor, Evan Rees. Sejumlah pengedar juga diduga bekerja sama dengan perusahaan barang untuk menyelundupkan uang. Tapi, tidak ada seorang pun yang berani angkat bicara. (Muh Shamil)
(ysw)
Lihat Juga :