Serangan Meningkat, Prancis Tingkatkan Keamanan di Perbatasan
Kamis, 05 November 2020 - 22:14 WIB
loading...
Presiden Prancis, Emanuel Macron mengatakan, Prancis akan memperkuat kendali atas perbatasan di dalam kawasan bebas visa Schengen. Foto/REUTERS
A
A
A
PARIS - Presiden Prancis , Emanuel Macron mengatakan, Prancis akan memperkuat kendali atas perbatasan di dalam kawasan bebas visa Schengen. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya serangan , baik di Prancis ataupun di sejumlah negara Eropa lainnya.
Macron, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (5/11/2020), mengatakan Prancis akan meningkatkan jumlah pasukan keamanan, baik itu tentara ataupun polisi, di sepanjang wilayah perbatasan.
Kami telah memutuskan untuk secara signifikan meningkatkan kontrol perbatasan kami di wilayah Schengen. Kami telah memutuskan untuk menggandakan pasukan yang kami miliki di sana sebagai bagian dari kontrol, dari 2.400 menjadi 4.800 personel polisi dan militer," ucapnya.
Dia mengatakan bahwa kontrol ini akan menyasar para imigran ilegal. Ia menegaskan bahwa jaringan perdagangan migran ilegal seringkali memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris. ( Baca juga: Polri Himbau Masyarakat Tidak Terprovokasi Ajakan Sweeping Produk Prancis di Medsos )
Pemimpin Prancis kemudian mengatakan bahwa Paris akan membuat proposal kepada sesama negara anggota Uni Eropa (UE) mengenai reformasi zona Schengen.
Menurut Macron, ancaman yang dihadirkan oleh terorisme Islamis merupakan ancaman jangka panjang. Dia melanjutkan, serangan terbaru di Austria menunjukkan bahaya terorisme bisa datang dari mana-mana, termasuk dari agen yang dikirim dari negara lain.
Pernyataan ini datang tidak lama setelah adanya laporan bahwa Prancis telah meluncurkan 187 penyelidikan terhadap dugaan ekstremisme kekerasan sejak pembunuhan Samuel Paty di Paris pada pertengahan Oktober. ( Baca juga: Mau Ikutan Boikot Produk Prancis? Cek Dulu Meteran Listrik di Rumah, Bos! )
Paty dipenggal di pinggiran kota Paris oleh seorang remaja Chechnya berusia 18 tahun setelah dia menggunakan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran kebebasan berbicara. Pembunuhan itu diikuti oleh serangan teroris lainnya di sebuah gereja katolik di Nice pada 29 Oktober, di mana tiga orang ditikam oleh seorang radikal berusia 21 tahun asal Tunisia.
Macron, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (5/11/2020), mengatakan Prancis akan meningkatkan jumlah pasukan keamanan, baik itu tentara ataupun polisi, di sepanjang wilayah perbatasan.
Kami telah memutuskan untuk secara signifikan meningkatkan kontrol perbatasan kami di wilayah Schengen. Kami telah memutuskan untuk menggandakan pasukan yang kami miliki di sana sebagai bagian dari kontrol, dari 2.400 menjadi 4.800 personel polisi dan militer," ucapnya.
Dia mengatakan bahwa kontrol ini akan menyasar para imigran ilegal. Ia menegaskan bahwa jaringan perdagangan migran ilegal seringkali memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris. ( Baca juga: Polri Himbau Masyarakat Tidak Terprovokasi Ajakan Sweeping Produk Prancis di Medsos )
Pemimpin Prancis kemudian mengatakan bahwa Paris akan membuat proposal kepada sesama negara anggota Uni Eropa (UE) mengenai reformasi zona Schengen.
Menurut Macron, ancaman yang dihadirkan oleh terorisme Islamis merupakan ancaman jangka panjang. Dia melanjutkan, serangan terbaru di Austria menunjukkan bahaya terorisme bisa datang dari mana-mana, termasuk dari agen yang dikirim dari negara lain.
Pernyataan ini datang tidak lama setelah adanya laporan bahwa Prancis telah meluncurkan 187 penyelidikan terhadap dugaan ekstremisme kekerasan sejak pembunuhan Samuel Paty di Paris pada pertengahan Oktober. ( Baca juga: Mau Ikutan Boikot Produk Prancis? Cek Dulu Meteran Listrik di Rumah, Bos! )
Paty dipenggal di pinggiran kota Paris oleh seorang remaja Chechnya berusia 18 tahun setelah dia menggunakan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran kebebasan berbicara. Pembunuhan itu diikuti oleh serangan teroris lainnya di sebuah gereja katolik di Nice pada 29 Oktober, di mana tiga orang ditikam oleh seorang radikal berusia 21 tahun asal Tunisia.
(esn)
Lihat Juga :