Thailand Bekukan Stasiun Televisi karena Liputan Demonstrasi

Rabu, 21 Oktober 2020 - 11:15 WIB
loading...
Thailand Bekukan Stasiun...
Puluhan ribu demonstran prodemokrasi dan antimonarki menyalakan lampu ponsel saat unjuk rasa diBangkok, Thailand, kemarin. Foto/Reuters
A A A
BANGKOK - Pengadilan Thailand memerintahkan pembekuan stasiun televisi online, Voice TV, yang kerap mengkritik pemerintah. Voice TV dituding kerap melaporkan aksi demonstrasi antimonarki yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

“Voice TV dinyatakan melanggar Undang-Undang Kejahatan Komputer dengan mengunggah informasi palsu,” kata juru bicara Pemerintah Thailand, Putchapong Nodthaisong, dilansir Reuters. Voice TV menjadi korban kebijakan dekrit darurat yang mewajibkan stasiun televisi dan media untuk tidak menyebarkan informasi terkait demonstrasi antimonarki. (Baca: Pentingnya Mengajarkan Anak Secara Lisan)

Thailand pun mendapatkan kritikan tajam dari kelompok pemerhati hak asasi manusia (HAM) karena melarang publikasi berita yang berisi informasi merusak citra pemerintah. Bangkok memang berusaha keras untuk mengakhiri demonstrasi antipemerintahan Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-ocha dan kekuasaan kerajaan.

Rittikorn Mahakhachabhorn, pemimpin redaksi Voice TV, mengatakan, mereka akan terus bersiaran hingga surat perintah pengadilan tiba. “Kita bekerja berdasarkan prinsip jurnalistik dan kita akan melanjutkan pekerjaan kita saat ini,” katanya.

Pemerintah Thailand menyatakan, tiga organisasi media tengah dalam penyelidikan karena dinilai melanggar dekrit darurat. Voice TV dimiliki oleh keluarga mantan PM Thaksin Shinawatra dan adiknya, Yingluck, yang digulingkan Prayuth pada kudeta 2014. Baik Thaksin maupun Yingluck telah melarikan diri dari Thailand karena dijerat skandal korupsi. (Baca juga: Dunia Pendidikan Indonesia Belum Memiliki Peta Jalan yang Jelas)

Gelombang demonstrasi antimonarki dan antipemerintah terus berkembang. Mereka mengabaikan larangan demonstrasi yang ditujukan untuk melawan Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-ocha dan kekuasaan kerajaan.

Demonstrasi itu seperti aksi balas dendam setelah penangkapan puluhan demonstran dan para pemimpin mereka. Polisi pun menggunakan mobil meriam air dan menghentikan layanan sistem kereta api Bangkok.

Lokasi demonstrasi pun kerap berpindah-pindah dari satu titik ke titik lain di lokasi yang berbeda. Lokasi demonstrasi terkini biasanya diumumkan melalui media sosial. “Kita akan bertahan hingga semuanya berakhir atau berpindah ke lokasi lain bersama dengan para aktivis lainnya,” kata Dee, 25, demonstran yang berada di Asok, salah satu pusat kota di Bangkok. Ratusan demonstran lainnya berkumpul di Monumen Kemenangan, sekitar lima kilometer dari Asok.

Para demonstran kerap menggunakan bahasa kasar untuk mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap monarki. “Apakah rasa menjilat sepatu diktator memang enak?” demikian bunyi poster yang ditampilkan para demonstran. Hal menarik, para demonstran juga mengungkapkan wacana tentang berdirinya “Republik Thailand”.

Polisi Thailand kini tidak terlalu reaktif dan mengintervensi pelaksanaan demonstrasi. “Kita tetap mempertahankan perdamaian dan ketertiban,” kata juru bicara kepolisian Kissana Phathanacharoen. Dia mengatakan, aparat kepolisian tetap memperhatikan hukum, standar internasional, dan hak asasi manusia. (Baca juga: Liburan Aman dan Nyaman di Masa Pandemi)

Sementara itu, para demonstran menggunakan bahasa isyarat sebagai langkah koordinasi dengan anggotanya. Itu sebagai langkah agar tidak diketahui oleh polisi. “Banyak orang yang saling membantu satu sama lain,” kata Riam, 19, pengunjuk rasa. Dia mengungkapkan, aksi saling bantu itu dilakukan dengan bahasa isyarat.

Bahasa isyarat dengan jari itu juga pernah dilakukan para demonstran di Hong Kong. Hal itu kini menjadi hal yang lumrah dalam perlawanan melawan kekuasaan. Itu digunakan untuk meminta perlindungan dan bantuan logistik.

“Semua orang yang berpendidikan akan belajar untuk bertahan tanpa para pemimpin,” kata Tangmae, demonstran yang berusia 20 tahun. Dia juga menunjukkan beberapa bahasa isyarat dengan jari. “Kita berkomunikasi sehingga demonstrasi bisa berlangsung dengan tertib,” paparnya. (Lihat videonya: Dua Polisi yang Kawal Jogging Kena Sanksi Administratif)

Para demonstran mengungkapkan, kemenangan Prayuth pada pemilu tahun lalu memang merupakan skenario untuk mengamankan kudeta pada 2014. (Muh Shamil)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Media Asing Soroti Aksi...
Media Asing Soroti Aksi Demo Mahasiswa terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
Ironi Kekayaan Raja...
Ironi Kekayaan Raja Thailand Vajiralongkorn Rp778 Triliun: Hampir 3 Kali Anggaran MBG, tapi Pewarisnya Tak Jelas
Presiden Prabowo: Saya...
Presiden Prabowo: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo
Mantan Menteri Kehakiman...
Mantan Menteri Kehakiman Korsel Divonis 25 Tahun Penjara Terkait Peran dalam Darurat Militer
Gempa M7,2 di Jepang:...
Gempa M7,2 di Jepang: Gedung-Gedung di Tokyo Berguncang, Korban Nihil
Rekomendasi
Fany Sulf Sentil Fenomena...
Fany Sulf Sentil Fenomena Netizen Suka Komentar Lewat Lagu Orang-Orang
MNC Sekuritas Hadirkan...
MNC Sekuritas Hadirkan Menu Tools dengan Fitur Screener, Stock Alert, dan Comparison di MotionTrade Lite
Mulai 1 Juli 2026, Keberangkatan...
Mulai 1 Juli 2026, Keberangkatan Jemaah Umrah di Bandara Soekarno-Hatta Terpusat di Terminal 2F: Cek Tahapannya!
Berita Terkini
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Tolak Klaim AS, Iran...
Tolak Klaim AS, Iran Tegaskan Aset yang Dicairkan Tidak untuk Beli Produk Pertanian Amerika
Pemimpin Hizbullah Tegaskan...
Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Tinggalkan Lebanon Tanpa Syarat
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Awas, Virus Ebola Sudah...
Awas, Virus Ebola Sudah Masuk Prancis, Dibawa Seorang Dokter
Infografis
15 Perang yang Melibatkan...
15 Perang yang Melibatkan Tentara AS, Pernah Kalah karena 60.000 Pasukan Tewas Sia-sia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved