Penjualan Senjata AS Meroket di Tengah Pandemi, Kerusuhan dan Pemilu

loading...
Penjualan Senjata AS Meroket di Tengah Pandemi, Kerusuhan dan Pemilu
Andreyah Garland membuka tas senjata Mossberg 590M 12 saat mau latihan di Newburgh, New York, AS, 13 Oktober 2020. Foto/REUTERS
A+ A-
NEW YORK - Andreyah Garland, 44, seorang ibu tunggal dengan tiga putri, membeli shotgun pada Mei untuk perlindungan di kota kelas menengah Fishkill, New York, Amerika Serikat (AS).

Dia bergabung klub senjata lokal baru untuk belajar cara menembak. Sejak saat itu dia mengajukan untuk izin memiliki pistol dan terus mencari peluru yang langka di pasaran karena diserbu pembeli.

Garland pun harus datang ke Walmart lokal tiga kali per pekan untuk membeli peluru. “Mereka selalu habis,” kata dia pada Reuters.





Seperti kelompok para pembeli pertama yang berkontribusi pada rekor penjualan untuk industri senjata Amerika Serikat (AS) tahun ini, keputusan Garland untuk membeli senjata itu didorong berbagai berita meresahkan tentang pandemi virus corona, kerusuhan sosial karena polisi membunuh warga kulit hitam dan pemilu sengit yang dikhawatirkan memicu kekerasan.

“Dengan segalanya berada di sekitar kita, Anda melihat kebutuhan itu,” papar dia.

Meningkatnya penjualan senjata api di AS telah terjadi selama beberapa dekade terakhir karena berbagai kejadian yang memicu kekhawatiran legislasi kontrol senjata, seperti terpilihnya presiden dari Partai Demokrat atau insiden penembakan massal, dan pemeriksaan data latar belakang pembeli.



Para pakar industri dan akademisi yang mempelajari kepemilikan senjata menyatakan peningkatan penjualan senjata itu terjadi pada basis inti industri senjata yakni warga kulit putih, pria dan pembeli dengan pandangan politik konservatif yang telah memiliki satu atau beberapa senjata api.
halaman ke-1 dari 2
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top