China Minta Asia Waspada atas Kebijakan AS di Kawasan
Selasa, 13 Oktober 2020 - 17:11 WIB
loading...
Wang Yi mendesak negara-negara di Asia untuk waspada terhadap kebijakan AS, yang menurutnya memicu persaingan geopolitik di Laut China Selatan dan bagian lain kawasan itu. Foto/REUTERS
A
A
A
BEIJING - Menteri Luar Negeri China , Wang Yi mendesak negara-negara di Asia untuk waspada terhadap kebijakan Amerika Serikat (AS) di kawasan. Wang Yi menyebut, itu memicu persaingan geopolitik di Laut China Selatan dan bagian lain kawasan itu.
Berbicara saat melakukan konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Malaysia, Hishammuddin Hussein, Wang Yi menuturkan, China dan ASEAN harus bekerja sama untuk menghilangkan "gangguan eksternal" di Laut China Selatan.
"Kami (China dan Malaysia) sama-sama berpandangan bahwa Laut China Selatan seharusnya tidak menjadi tempat bagi kekuatan besar yang bergulat dengan kapal perang," ucapnya dalam sebuah pernyataan. ( Baca juga: Negara Lain Masih Terjebak dalam Resesi, Ekonomi China Bangkit Lebih Awal )
"China dan ASEAN memiliki kapasitas dan kebijaksanaan penuh, serta tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan ketenangan di Laut China Selatan," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Selasa (13/8/2020).
Wang Yi menggambarkan strategi "Indo-Pasifik" Washington, yang bertujuan untuk menjadikan AS sebagai mitra yang dapat dipercaya di kawasan itu, sebagai risiko keamanan untuk Asia Timur.
"Apa yang dikejar adalah untuk meneriakkan mentalitas perang dingin kuno dan memulai konfrontasi di antara berbagai kelompok dan blok, dan memicu persaingan geopolitik. Saya yakin semua pihak melihat ini dengan jelas dan akan tetap waspada terhadapnya," ungkapnya.
Hishammuddin pada giliranya mengatakan bahwa sengketa Laut China Selatan harus diselesaikan secara damai melalui dialog regional, antara China dan ASEAN. ( Baca juga: Epidemiolog UI Memprediksi Vaksinasi Baru Selesai Akhir 2021 )
Dia juga mengatakan bahwa China telah berkomitmen untuk membeli 1,7 juta ton minyak sawit hingga 2023 dan telah berjanji untuk mendorong peningkatan pengiriman minyak sawit Malaysia yang diproduksi secara berkelanjutan.
Berbicara saat melakukan konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri Malaysia, Hishammuddin Hussein, Wang Yi menuturkan, China dan ASEAN harus bekerja sama untuk menghilangkan "gangguan eksternal" di Laut China Selatan.
"Kami (China dan Malaysia) sama-sama berpandangan bahwa Laut China Selatan seharusnya tidak menjadi tempat bagi kekuatan besar yang bergulat dengan kapal perang," ucapnya dalam sebuah pernyataan. ( Baca juga: Negara Lain Masih Terjebak dalam Resesi, Ekonomi China Bangkit Lebih Awal )
"China dan ASEAN memiliki kapasitas dan kebijaksanaan penuh, serta tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dan ketenangan di Laut China Selatan," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Selasa (13/8/2020).
Wang Yi menggambarkan strategi "Indo-Pasifik" Washington, yang bertujuan untuk menjadikan AS sebagai mitra yang dapat dipercaya di kawasan itu, sebagai risiko keamanan untuk Asia Timur.
"Apa yang dikejar adalah untuk meneriakkan mentalitas perang dingin kuno dan memulai konfrontasi di antara berbagai kelompok dan blok, dan memicu persaingan geopolitik. Saya yakin semua pihak melihat ini dengan jelas dan akan tetap waspada terhadapnya," ungkapnya.
Hishammuddin pada giliranya mengatakan bahwa sengketa Laut China Selatan harus diselesaikan secara damai melalui dialog regional, antara China dan ASEAN. ( Baca juga: Epidemiolog UI Memprediksi Vaksinasi Baru Selesai Akhir 2021 )
Dia juga mengatakan bahwa China telah berkomitmen untuk membeli 1,7 juta ton minyak sawit hingga 2023 dan telah berjanji untuk mendorong peningkatan pengiriman minyak sawit Malaysia yang diproduksi secara berkelanjutan.
(esn)
Lihat Juga :