Oposisi Kyrgyzstan Terpecah Cari Pengganti Perdana Menteri

Kamis, 08 Oktober 2020 - 06:10 WIB
loading...
Oposisi Kyrgyzstan Terpecah...
Oposisi Kyrgyzstan terpecah saat menentukan pengganti Perdana Menteri. Foto/Yahoo
A A A
BISHKEK - Partai-partai oposisi di Kyrgyzstan gagal membentuk pemerintahan baru pada hari Rabu setelah terpecah dalam menunjuk pengganti perdana menteri yang mengundurkan diri sehari sebelumnya dan pemilu parlemen negara itu dibatalkan.

Pengunduran diri Perdana Menteri Kubatbek Boronov telah mengisolasi Presiden Sooronbai Jeenbekov, yang meminta semua pihak untuk memulai negosiasi. Jeenbekov juga menegaskan kembali kesediaannya untuk menengahi perselisihan.

Para juru runding dari delapan partai mencoba untuk mengatasi perbedaan mereka pada Rabu malam di markas besar pemerintah, tetapi beberapa faksi besar tidak bergabung dalam pembicaraan tersebut, sementara dua kandidat yang bersaing untuk menjadi penerus Boronov muncul.

Sekelompok legislator mencalonkan mantan anggota parlemen Sadyr Zhaparov pada Selasa malam, tetapi baik Boronov maupun Jeenbekov tidak mendukungnya, dan beberapa partai oposisi menolak pencalonannya.

Seorang pengusaha muda, Tilek Toktogaziyev, muncul sebagai kandidat lain sehari kemudian setelah dinominasikan oleh salah satu dari beberapa "dewan koordinasi" yang dibentuk oleh partai oposisi dan aktivis sejak Senin.

Anggota partai oposisi Ata Meken, Zhanar Akayev, mengatakan kepada layanan bahasa Kyrgyzstan di Radio Free Europe/Radio Liberty bahwa seorang perdana menteri baru dan pemerintah rakyat perlu ditunjuk, diikuti dengan pemilihan umum seperti dilansir dari VOA, Kamis (8/10/2020).

Pendukung kedua kandidat kemudian berunjuk rasa di ibu kota, Bishkek, ketika anggota parlemen bertemu lagi pada Rabu malam untuk membahas kekacauan politik yang meletus minggu ini.

Komisi Pemilihan Umum Pusat Kyrgyzstan membatalkan hasil pemilu parlemen negara itu pada hari Selasa karena kelompok oposisi mengambil kendali gedung-gedung pemerintah saat memprotes hasil pemilihan tersebut.(Baca juga: Usai Serbu Gedung Pemerintah, Oposisi Kyrgyzstan Klaim Rebut Kekuasaan )

Anggota dari beberapa partai oposisi mengatakan mereka berencana untuk menggulingkan Jeenbekov dan membentuk pemerintahan baru di negara Asia Tengah yang strategis dan vital, yang menampung pangkalan udara Rusia dan tambang emas besar yang dikendalikan oleh Kanada.

Pembatalan komisi pemilihan menyusul protes massal yang meletus di Bishkek dan kota-kota lain, di mana ratusan orang terluka dan satu orang meninggal.

Ketua komisi pemilu Kyrgyzstan Nurzhan Shaildabekova mengatakan kepada kantor berita Interfax bahwa hasil pemilu dibatalkan untuk mencegah ketegangan di negara itu.

Otoritas Kyrgyzstan mengatakan pemilihan itu menyerahkan sebagian besar kursi kepada dua partai yang terkait dengan elit yang berkuasa. Pengamat Barat mengatakan pemilihan itu tampaknya telah dicurangi dengan membeli suara dan terjadi pelanggaran lainnya.(Baca juga: Demonstran Serbu Penjara, Bebaskan Mantan Presiden Kyrgyzstan yang Korupsi )

Bekas republik Soviet, yang berbatasan dengan China, adalah sekutu dekat Rusia yang selama bertahun-tahun menjadi subjek persaingan geopolitik antara Moskow, Beijing, dan Washington.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa para pejabat Rusia sedang berkomunikasi dengan semua pihak dalam konflik dan menyuarakan harapan proses demokrasi akan segera pulih.

Sedangkan Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing sangat prihatin dengan ketidakpastian politik dan kerusuhan.
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tak Lagi Relevan, Kyrgyzstan...
Tak Lagi Relevan, Kyrgyzstan Robohkan Patung Lenin yang Menjulang Tinggi
Negara Mayoritas Muslim...
Negara Mayoritas Muslim Ini Perintahkan Tutup Seluruh Rumah Bordil
Sudah Jadi Basis Rusia,...
Sudah Jadi Basis Rusia, Kyrgyzstan Ogah Jadi Pangkalan AS
Seorang Pengantin Perempuan...
Seorang Pengantin Perempuan Diculik dan Dibunuh, Protes Besar Guncang Kyrgyzstan
Hindari Pertumpahan...
Hindari Pertumpahan Darah, Presiden Kyrgyzstan Mengundurkan Diri
Parlemen Kyrgyzstan...
Parlemen Kyrgyzstan Tunjuk PM Baru Saat Pasukan Dikerahkan ke Bishkek
Kisah Pasukan Daulah...
Kisah Pasukan Daulah Abbasiyah Melawan Tentara China dalam Perang Talas
MoU Ditandatangani,...
MoU Ditandatangani, Iran Nyatakan Kemenangan Atas AS
Selat Hormuz Ditutup...
Selat Hormuz Ditutup Lagi, Trump Ancam Lenyapkan Iran
Rekomendasi
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Mau Nyaman Liburan ke...
Mau Nyaman Liburan ke Bali? Perhatikan Ini Sebelum Memilih Tour Wisata
Adhyaksa FC Pindah Homebase...
Adhyaksa FC Pindah Homebase ke Kalimantan Tengah, Buka Peluang Ganti Nama Jadi Kalteng FC
Berita Terkini
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Infografis
Pete Hegseth, Menteri...
Pete Hegseth, Menteri Perang AS yang Dikenal Rasis, Radikal, dan Pemabuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved