Perayaan Kuningan Galungan Komunitas Bali Swiss

Lebih Kental Atmosfir Kebersamaannya

loading...
Lebih Kental Atmosfir Kebersamaannya
Perayaan Galungan Kuningan di Bern, Swiss. FOTO/Krisna Diantha
BERN - Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak punya Pura, gedung serba guna pun tak apa. Lebih penting dari itu semua, adalah kekhidmatan dalam beribidah. Begitulah yang terlihat dalam upacara perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Swiss, pekan lalu.

Sedikitnya 60-an sameton Bali di Heidiland tampak bahagia merayakan hari raya yang diselenggarakan saban enam bulan sekali itu. Meskipun dalam suasana sederhana, namun suasana kebersamaan lebih terasa. “Bahkan, lebih kental kebersamaannya di sini ketimbang di Bali,” tutur Desak Sri Satriani.

(Baca: Perayaan Galungan di Tengah Pandemi Covid-19 )

Bertempat di Bausaal, Desa Gasel, Bern, sejak pagi kesibukan terlihat nyata. Ada yang menyiapkan banten, ada pula yang mengatur tempat sembahyang. “Intinya, kami gotong royong,” kata Komang Suherman, warga Bali asal Altdorf, Uri, Swiss.



Tugas dibagi-bagi. Menu makanan, yang juga menjadi kerelaan anggota sameton Bali, dibagi rata. “Saya mengordinasikan saja, agar tidak ada yang membawa makanan yang sama,” ujar Desak.

Maka, dari semua makanan yang tersedia, menunya beragam. Dari sate lilit, tum (pepes bali), hingga plecing kangkung. “Kami semua gotong royong, karena ini juga untuk bersama,” kata Komang Suherman.

Di Bali, perayaan Kuningan dan Galungan dimulai dari rumah masing masing, atau tepatnya di Merajan, bersama keluarga. Lalu kemudian dilanjutkan ke pura desa. Di Heidiland, Swiss, semua dipusatkan di gedung serba guna desa Gasel, Bern. Dari sembahyang, hingga ditambah acara makan makan dan tari tarian.



“Inilah khasnya kalau di Swiss, ada tambahan tari-tarian atau musik, serta makan makan,” imbuh Desak. Kebersamaan dalam merayakan Galungan dan Kuningan, imbuh Desak, lebih terasa di Swiss. Di Bali, katanya, makan-makan ya di rumah saja.

(Baca: Ribuan Umat Hindu Rayakan Galungan di Pura Agung Jagatnatha, Bali )

Komunitas Hindu Darma Bali di Swiss berjumlah sekitar 200 orang. Dari pantauan Koran Sindo, komunitas ini terlihat rukun dan semarak. Meskipun tidak memiliki organisasi yang resmi, komunitas ini rutin menyelenggarakan kegiatan keagamaannya. Jika tidak bersama-sama di gedung besar, mereka biasanya melaksanakannya di halaman rumah pribadi, dengan tamu teman dekatnya.

“Covid 19 juga membatasi kami melaksanakan secara bersama dalam jumlah tertentu,” kata Komang Suherman. Setelah new normal, pembatasan yang ketat, mulai di longgarkan di Swiss. Kini, mereka agak bebas kumpul bersama, termasuk melaksanakan upacara Galungan dan Kuningan.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top