Lebih Kental Atmosfir Kebersamaannya
Minggu, 04 Oktober 2020 - 23:04 WIB
loading...
Perayaan Galungan Kuningan di Bern, Swiss. FOTO/Krisna Diantha
A
A
A
BERN - Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak punya Pura, gedung serba guna pun tak apa. Lebih penting dari itu semua, adalah kekhidmatan dalam beribidah. Begitulah yang terlihat dalam upacara perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Swiss, pekan lalu.
Sedikitnya 60-an sameton Bali di Heidiland tampak bahagia merayakan hari raya yang diselenggarakan saban enam bulan sekali itu. Meskipun dalam suasana sederhana, namun suasana kebersamaan lebih terasa. “Bahkan, lebih kental kebersamaannya di sini ketimbang di Bali,” tutur Desak Sri Satriani.
(Baca: Perayaan Galungan di Tengah Pandemi Covid-19 )
Bertempat di Bausaal, Desa Gasel, Bern, sejak pagi kesibukan terlihat nyata. Ada yang menyiapkan banten, ada pula yang mengatur tempat sembahyang. “Intinya, kami gotong royong,” kata Komang Suherman, warga Bali asal Altdorf, Uri, Swiss.
Tugas dibagi-bagi. Menu makanan, yang juga menjadi kerelaan anggota sameton Bali, dibagi rata. “Saya mengordinasikan saja, agar tidak ada yang membawa makanan yang sama,” ujar Desak.
Maka, dari semua makanan yang tersedia, menunya beragam. Dari sate lilit, tum (pepes bali), hingga plecing kangkung. “Kami semua gotong royong, karena ini juga untuk bersama,” kata Komang Suherman.
Di Bali, perayaan Kuningan dan Galungan dimulai dari rumah masing masing, atau tepatnya di Merajan, bersama keluarga. Lalu kemudian dilanjutkan ke pura desa. Di Heidiland, Swiss, semua dipusatkan di gedung serba guna desa Gasel, Bern. Dari sembahyang, hingga ditambah acara makan makan dan tari tarian.
Sedikitnya 60-an sameton Bali di Heidiland tampak bahagia merayakan hari raya yang diselenggarakan saban enam bulan sekali itu. Meskipun dalam suasana sederhana, namun suasana kebersamaan lebih terasa. “Bahkan, lebih kental kebersamaannya di sini ketimbang di Bali,” tutur Desak Sri Satriani.
(Baca: Perayaan Galungan di Tengah Pandemi Covid-19 )
Bertempat di Bausaal, Desa Gasel, Bern, sejak pagi kesibukan terlihat nyata. Ada yang menyiapkan banten, ada pula yang mengatur tempat sembahyang. “Intinya, kami gotong royong,” kata Komang Suherman, warga Bali asal Altdorf, Uri, Swiss.
Tugas dibagi-bagi. Menu makanan, yang juga menjadi kerelaan anggota sameton Bali, dibagi rata. “Saya mengordinasikan saja, agar tidak ada yang membawa makanan yang sama,” ujar Desak.
Maka, dari semua makanan yang tersedia, menunya beragam. Dari sate lilit, tum (pepes bali), hingga plecing kangkung. “Kami semua gotong royong, karena ini juga untuk bersama,” kata Komang Suherman.
Di Bali, perayaan Kuningan dan Galungan dimulai dari rumah masing masing, atau tepatnya di Merajan, bersama keluarga. Lalu kemudian dilanjutkan ke pura desa. Di Heidiland, Swiss, semua dipusatkan di gedung serba guna desa Gasel, Bern. Dari sembahyang, hingga ditambah acara makan makan dan tari tarian.
Lihat Juga :