Oposisi Seoul: Intelijen Tunjukkan Korut Perintahkan Bakar Jasad Pejabat Korsel
Selasa, 29 September 2020 - 16:26 WIB
loading...
A
A
A
Namun, rezim Pyongyang yang diperintah Kim Jong-un membantah telah membakar jasad pejabat Korea Korea Selatan. Rezim Kim hanya mengakui bahwa tentaranya membakar perangkat apung sebagai bagian dari tindakan pencegahan penyebaran virus corona baru (Covid-19).
Pada hari Senin, Korea Selatan memperluas pencarian jenazah pejabat tersebut. Sedikitnya enam pesawat dan 45 kapal ikut serta dalam operasi tersebut. Pyongyang menuduh Seoul menggunakan pencarian sebagai dalih untuk memasuki perairan teritorialnya dan mengatakan bahwa pihaknya melakukan pencarian sendiri untuk menemukan jenazah pejabat tersebut.
"Intrusi dapat menyebabkan eskalasi ketegangan di kawasan ini," kata pemerintah Korea Utara melalui medianya kemarin.
Insiden itu menyebabkan permintaan maaf yang langka dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang mengatakan pembunuhan itu seharusnya tidak terjadi. Seoul telah mendesak Pyongyang untuk menyelidiki lebih lanjut masalah tersebut dan menyarankan kemungkinan penyelidikan bersama. (Baca juga: Trump Klaim Kim Jong-un Tunjukkan Kepala Paman usai Mengeksekusinya )
Kedua Korea menandatangani kesepakatan pada 2018 yang menyerukan kerja sama ekonomi yang lebih erat dan perbatasan yang tidak terlalu termiliterisasi. Perjanjian penting itu diikuti dengan pembicaraan denuklirisasi tahun 2019. Namun, negosiasi ini gagal setelah Korea Utara menolak rencana AS yang akan mencabut sanksi dengan imbalan pelucutan senjata nuklir.
Dalam beberapa bulan terakhir, upaya rekonsiliasi memburuk antara Seoul dan Pyongyang. Pada bulan Juni, Korea Utara meledakkan kantor penghubung antar-Korea yang terletak di wilayahnya, setelah Korea Utara menuduh Seoul tidak berbuat cukup untuk menghentikan para pembelot menyelundupkan selebaran dan literatur anti-pemerintah lainnya melintasi perbatasan.
Pada hari Senin, Korea Selatan memperluas pencarian jenazah pejabat tersebut. Sedikitnya enam pesawat dan 45 kapal ikut serta dalam operasi tersebut. Pyongyang menuduh Seoul menggunakan pencarian sebagai dalih untuk memasuki perairan teritorialnya dan mengatakan bahwa pihaknya melakukan pencarian sendiri untuk menemukan jenazah pejabat tersebut.
"Intrusi dapat menyebabkan eskalasi ketegangan di kawasan ini," kata pemerintah Korea Utara melalui medianya kemarin.
Insiden itu menyebabkan permintaan maaf yang langka dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang mengatakan pembunuhan itu seharusnya tidak terjadi. Seoul telah mendesak Pyongyang untuk menyelidiki lebih lanjut masalah tersebut dan menyarankan kemungkinan penyelidikan bersama. (Baca juga: Trump Klaim Kim Jong-un Tunjukkan Kepala Paman usai Mengeksekusinya )
Kedua Korea menandatangani kesepakatan pada 2018 yang menyerukan kerja sama ekonomi yang lebih erat dan perbatasan yang tidak terlalu termiliterisasi. Perjanjian penting itu diikuti dengan pembicaraan denuklirisasi tahun 2019. Namun, negosiasi ini gagal setelah Korea Utara menolak rencana AS yang akan mencabut sanksi dengan imbalan pelucutan senjata nuklir.
Dalam beberapa bulan terakhir, upaya rekonsiliasi memburuk antara Seoul dan Pyongyang. Pada bulan Juni, Korea Utara meledakkan kantor penghubung antar-Korea yang terletak di wilayahnya, setelah Korea Utara menuduh Seoul tidak berbuat cukup untuk menghentikan para pembelot menyelundupkan selebaran dan literatur anti-pemerintah lainnya melintasi perbatasan.
(min)
Lihat Juga :