Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Jum'at, 24 Juli 2026 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Yang lain lebih kritis. Mantan menteri pertahanan Israel Avigdor Lieberman, mengatakan: "Setiap program nuklir militer dimulai dengan program sipil."
Israel sendiri secara luas diyakini memiliki senjata nuklir, tetapi mereka tidak mengonfirmasi atau membantahnya.
Kesepakatan AS-Arab Saudi digambarkan sebagai perjanjian kerja sama nuklir damai yang akan memberikan akses besar bagi perusahaan Amerika dalam program energi nuklir Arab Saudi oleh Departemen Energi AS.
Isu nuklir telah menjadi pusat konflik AS-Israel dengan Iran yang berlangsung selama berbulan-bulan, di mana Teheran selama bertahun-tahun membantah tuduhan Barat bahwa mereka bertujuan untuk memperoleh senjata nuklir.
Penguasa de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, mengatakan kepada CBS News pada tahun 2018 bahwa negaranya sendiri tidak berencana untuk memperoleh senjata nuklir. "Tetapi tanpa ragu jika Iran mengembangkan bom nuklir, kami akan mengikutinya sesegera mungkin," katanya.
Laporan media-media AS sebelumnya menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut dapat memungkinkan Arab Saudi untuk memperkaya uranium di masa depan—yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik, tetapi juga berpotensi untuk membuat bom nuklir. Namun, pernyataan Trump tampaknya membantah hal ini.
Rosemary Kelanic, direktur program Timur Tengah di lembaga think tank Defense Priorities yang berbasis di AS, mengatakan akan sangat mengejutkan jika AS mengizinkan Arab Saudi membangun fasilitas pengayaan uranium.
"AS belum pernah melakukan itu sebelumnya. Kami belum pernah membantu negara lain melakukan pengayaan di tanah mereka sendiri," katanya. "Jika Anda dapat memproduksi bahan bakar nuklir Anda sendiri, Anda menjadi risiko yang jauh lebih besar," imbuh dia, mengacu pada jalan untuk membangun senjata nuklir.
Israel sendiri secara luas diyakini memiliki senjata nuklir, tetapi mereka tidak mengonfirmasi atau membantahnya.
Kesepakatan AS-Arab Saudi digambarkan sebagai perjanjian kerja sama nuklir damai yang akan memberikan akses besar bagi perusahaan Amerika dalam program energi nuklir Arab Saudi oleh Departemen Energi AS.
Isu nuklir telah menjadi pusat konflik AS-Israel dengan Iran yang berlangsung selama berbulan-bulan, di mana Teheran selama bertahun-tahun membantah tuduhan Barat bahwa mereka bertujuan untuk memperoleh senjata nuklir.
Penguasa de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, mengatakan kepada CBS News pada tahun 2018 bahwa negaranya sendiri tidak berencana untuk memperoleh senjata nuklir. "Tetapi tanpa ragu jika Iran mengembangkan bom nuklir, kami akan mengikutinya sesegera mungkin," katanya.
Laporan media-media AS sebelumnya menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut dapat memungkinkan Arab Saudi untuk memperkaya uranium di masa depan—yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik, tetapi juga berpotensi untuk membuat bom nuklir. Namun, pernyataan Trump tampaknya membantah hal ini.
Rosemary Kelanic, direktur program Timur Tengah di lembaga think tank Defense Priorities yang berbasis di AS, mengatakan akan sangat mengejutkan jika AS mengizinkan Arab Saudi membangun fasilitas pengayaan uranium.
"AS belum pernah melakukan itu sebelumnya. Kami belum pernah membantu negara lain melakukan pengayaan di tanah mereka sendiri," katanya. "Jika Anda dapat memproduksi bahan bakar nuklir Anda sendiri, Anda menjadi risiko yang jauh lebih besar," imbuh dia, mengacu pada jalan untuk membangun senjata nuklir.
(mas)
Lihat Juga :