Mengapa Amerika Tak Pernah Mengusik Nuklir Pakistan? Ini Alasan Sebenarnya

Senin, 20 Juli 2026 - 15:11 WIB
loading...
Mengapa Amerika Tak...
Amerika Serikat tak pernah mengusik senjata nuklir yang dimiliki Pakistan. Foto/X/@igeldard
A A A
JAKARTA - Pakistan merupakan satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki senjata nuklir. Meski Amerika Serikat dikenal sebagai pendukung kuat rezim nonproliferasi nuklir, Washington justru tidak pernah memaksa Islamabad melucuti seluruh persenjataan nuklirnya. Sikap ini berbeda dengan kebijakan AS terhadap Iran atau Korea Utara.

Apalagi, banyak negara-negara Arab, seperti Arab Saudi ikut bergabung dengan payung nuklir Pakistan. "Meskipun Pakistan berhati-hati untuk menekankan bahwa mereka tidak memberikan payung nuklir kepada Arab Saudi, perjanjian tersebut menandakan pencegahan regional dan kemampuan kedua negara untuk berkolaborasi melawan lawan," kata Samina Yasmeen, pakar geopolitik dari Universitas Western Australia, dilansir The Conversation.

Perjanjian tersebut diikuti oleh Perjanjian Pertahanan Strategis antara Arab Saudi dan AS selama kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke Washington pada November 2025. Bahkan, yang terbaru adalah Kuwait juga ingin ikut bergabung.

Lantas, mengapa Amerika tampak lebih lunak terhadap Pakistan?

1. Pakistan adalah Sekutu Strategis Amerika

Sejak era Perang Dingin, Pakistan telah menjadi mitra penting Amerika Serikat. Ketika Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada 1979, Pakistan menjadi pangkalan utama bagi operasi AS dalam mendukung kelompok Mujahidin.

Hubungan itu kembali menguat setelah serangan 11 September 2001. Dalam perang melawan terorisme, Pakistan menjadi jalur logistik dan mitra intelijen utama bagi operasi militer Amerika di Afghanistan.

Karena alasan tersebut, Washington memilih menjaga hubungan dengan Islamabad daripada mengambil langkah yang berpotensi memutus kerja sama strategis.


2. Pakistan Sudah Terlalu Jauh Memiliki Nuklir

Pakistan resmi menjadi negara bersenjata nuklir setelah melakukan uji coba pada Mei 1998 sebagai respons atas uji coba nuklir India.

Sejak saat itu, Amerika menyadari bahwa peluang memaksa Pakistan menyerahkan senjata nuklirnya nyaris mustahil. Fokus Washington pun berubah, bukan lagi menghentikan program nuklir, melainkan memastikan senjata tersebut tetap aman dan tidak jatuh ke tangan kelompok teroris.

3. Menjaga Keseimbangan Kekuatan dengan India

India dan Pakistan telah lama menjadi rival, terutama sejak kedua negara merdeka pada 1947.

Kepemilikan senjata nuklir oleh kedua negara justru dianggap menciptakan efek deterrence atau saling menghalangi untuk memulai perang besar. Amerika khawatir jika hanya Pakistan yang ditekan, keseimbangan militer di Asia Selatan akan terganggu dan meningkatkan risiko konflik terbuka.

4. Pakistan Terlalu Penting untuk Dibiarkan Tidak Stabil

Dengan populasi lebih dari 240 juta jiwa, Pakistan merupakan salah satu negara Muslim terbesar di dunia sekaligus pemilik senjata nuklir.

Bagi Amerika, ancaman terbesar bukan hanya keberadaan nuklir Pakistan, melainkan kemungkinan negara itu mengalami kekacauan politik sehingga persenjataan nuklirnya berisiko direbut kelompok ekstremis.

Karena itulah Washington lebih memilih bekerja sama dalam pengamanan fasilitas nuklir Pakistan dibanding mendorong pelucutan senjata secara paksa.

5. Pengaruh China Membuat Amerika Berhitung

Dalam dua dekade terakhir, hubungan Pakistan dan China semakin erat. Beijing menjadi investor terbesar melalui proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) yang bernilai puluhan miliar dolar.

Amerika menyadari bahwa tekanan berlebihan terhadap Pakistan justru bisa membuat Islamabad semakin dekat dengan Beijing. Oleh karena itu, Washington cenderung mengambil pendekatan yang lebih pragmatis.

Amerika Pernah Menjatuhkan Sanksi

Meski terlihat lunak, Amerika sebenarnya pernah memberikan sanksi kepada Pakistan.

Pada 1990, Washington menghentikan bantuan militer melalui Pressler Amendment karena program nuklir Pakistan. Setelah uji coba nuklir tahun 1998, sanksi ekonomi kembali dijatuhkan.

Namun sebagian besar sanksi tersebut mulai dilonggarkan setelah tragedi 11 September 2001 karena Amerika membutuhkan dukungan Pakistan dalam operasi militer di Afghanistan.

Amerika Serikat bukan berarti menyetujui kepemilikan senjata nuklir Pakistan. Namun, kepentingan geopolitik membuat Washington memilih bersikap realistis.

Bagi Amerika, menjaga Pakistan tetap stabil, mempertahankan kerja sama keamanan, mengimbangi pengaruh China, serta mencegah senjata nuklir jatuh ke tangan kelompok ekstremis dinilai jauh lebih penting daripada memaksakan pelucutan senjata yang peluang keberhasilannya sangat kecil.

Keputusan inilah yang membuat Pakistan hingga kini tetap menjadi salah satu negara berkekuatan nuklir, meski bukan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump: Syarat Arab Saudi...
Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Israel Ketakutan
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Kemenangan Besar bagi Riyadh
Jika Arab Saudi Punya...
Jika Arab Saudi Punya Senjata Nuklir, Kenapa Banyak Negara Khawatir?
Trump Setujui Arab Saudi...
Trump Setujui Arab Saudi Perkaya Uranium, Mungkinkan Riyadh Memiliki Bom Nuklir?
Tugas Berat PM Inggris...
Tugas Berat PM Inggris Baru, Memutuskan Apa yang Terjadi jika Ada Perang Nuklir
Eropa Luncurkan Perisai...
Eropa Luncurkan Perisai Udara yang Bakal Jadi Lawan Tangguh Drone
Protes 'Kecoa'...
Protes 'Kecoa' di India Meluas, Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Reformasi Pemerintah
Ngeri! Macan Tutul Masuk...
Ngeri! Macan Tutul Masuk Toko Miras, Serang Pegawai lalu Acak-Acak Minuman
Rekomendasi
Alasan Hotman Paris...
Alasan Hotman Paris Tidak Khawatir soal Ucapannya 'Lu Punya Otak Gak?' Dilaporkan ke Polisi
Gugatan terhadap Waketum...
Gugatan terhadap Waketum dan Sekjen PPP Dicabut, Kader Pilih Fokus Konsolidasi Partai
4 Negara Bebas Kewajiban...
4 Negara Bebas Kewajiban Parkir DHE SDA di Himbara, Pemerintah Beri Kelonggaran
Berita Terkini
Menteri Israel Gabung...
Menteri Israel Gabung 4.000 Massa Yahudi Serbu Kompleks Masjid Al-Aqsa
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Kebakaran Hutan Paksa...
Kebakaran Hutan Paksa 10.000 Orang Mengungsi, Spanyol Nyatakan Darurat Nasional
Seorang Pangeran Arab...
Seorang Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel Kensington usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved