Sidang Pemakzulan Digelar, Nasib Wakil Presiden di Ujung Tanduk
Senin, 06 Juli 2026 - 12:19 WIB
loading...
A
A
A
"Jalan yang Sulit"
Senat yang bertugas menimbang kasus terhadap Sara Duterte telah mengalami kekacauan selama dua bulan, dengan perubahan kepemimpinan yang drastis, di mana dua sekutu utama Sara Duterte didakwa korupsi, dan satu lagi melarikan diri dari surat perintah Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Pada bulan Mei, 13 anggota parlemen yang bersekutu dengan Sara Duterte mengambil alih kendali Senat hanya beberapa menit sebelum pemungutan suara pemakzulan di DPR, sebuah langkah yang kemudian dibatalkan di tengah boikot oleh sekutu wakil presiden.
Salah satu sekutu tersebut, Senator Ronald Dela Rosa—penegak hukum dalam pemberantasan narkoba berdarah yang dilakukan era Presiden Duterte—sempat berlindung di gedung Senat ketika petugas berusaha mengeksekusi surat perintah ICC.
Dia menghilang setelah kebuntuan tegang yang menyebabkan petugas keamanan Senat melepaskan tembakan.
Senator pro-Sara Duterte lainnya, Jose “Jinggoy” Estrada, kemudian ditangkap karena diduga menerima suap senilai lebih dari 573 juta peso terkait proyek pengendalian banjir, sementara Senator Rodante Marcoleta didakwa dengan tuduhan korupsi pada hari Jumat lalu.
Konstitusi Filipina mensyaratkan suara bersalah dari “dua pertiga dari seluruh anggota” Senat untuk menjatuhkan hukuman, tetapi jaksa penuntut pemakzulan; anggota Parlemen Gerville “Jinky” Luistro, berpendapat bahwa ambang batas tersebut seharusnya hanya mencakup senator yang hadir secara fisik.
Namun, bahkan jika rumusnya disesuaikan, Cleve Arguelles dari lembaga survei WR Numero mengatakan kepada AFP bahwa dia tidak percaya jumlahnya cukup untuk menjatuhkan hukuman.
“Saya pikir cukup jelas bahwa ada jalan yang sangat sulit menuju vonis bersalah,” katanya.
“Baik kita berbicara tentang 16 (senator)...atau interpretasi lain, itu masih jauh dari ambang batas vonis bersalah," imbuh dia.
Lihat Juga :