Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Selasa, 30 Juni 2026 - 11:04 WIB
loading...
Iran telah luncurkan serangan siber hingga tiga kali lipat terhadap Israel sejak perang pecah akhir Februari lalu. Foto/Cyber Defense Magazine
A
A
A
TEL AVIV - Iran telah meluncurkan serangan siber besar-besaran terhadap Israel. Menurut rezim Zionis, jumlah serangan tersebut telah meningkat tiga kali lipat sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan agresi gabungan akhir Februari lalu.
Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel, Yossi Karadi, mengatakan kepada surat kabar Jerman; Die Welt, bahwa pada Juni 2025 selama operasi militer Israel melawan Iran, otoritas Israel mencatat sekitar 1.600 insiden siber yang bermusuhan.
Baca Juga: Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Menurutnya, pada bulan yang sama di tahun 2026, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 4.800 insiden.
"Beberapa kelompok sangat terampil," kata Karadi. "Kami dapat menanganinya, tetapi kami harus menanggapinya dengan serius. Tidak seperti di ranah kinetik, tidak ada gencatan senjata di dunia maya," paparnya, yang dikutip The New Arab, Selasa (30/6/2026).
Karadi mengatakan serangan siber Iran ditujukan terhadap sistem yang digunakan oleh infrastruktur penting Israel, organisasi pusat, perusahaan kecil hingga menengah, dan masyarakat umum, dengan menyebutkan kantor hukum dan firma akuntansi sebagai beberapa perusahaan kecil yang terkena dampak.
"Sejauh ini—dan semoga tetap seperti itu—kami telah berhasil menangkis serangan terhadap infrastruktur penting," klaim Karadi.
Perusahaan yang lebih mudah ditembus seringkali berakhir dengan penghapusan data sistem komputer mereka, kata Karadi, tanpa menyebutkan nama.
Iran biasanya menyangkal melakukan kampanye peretasan terhadap negara lain sambil melaporkan serangan terhadap dirinya sendiri.
Ini termasuk serangan Israel, di mana Iran menyalahkan Israel atas serangan siber yang mengganggu layanan perbankan utama pada 23 Juni, serta serangan siber skala besar pada tahun 2021 dan 2023 terhadap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Iran.
Direktur Jenderal Direktorat Siber Nasional Israel, Yossi Karadi, mengatakan kepada surat kabar Jerman; Die Welt, bahwa pada Juni 2025 selama operasi militer Israel melawan Iran, otoritas Israel mencatat sekitar 1.600 insiden siber yang bermusuhan.
Baca Juga: Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Menurutnya, pada bulan yang sama di tahun 2026, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 4.800 insiden.
"Beberapa kelompok sangat terampil," kata Karadi. "Kami dapat menanganinya, tetapi kami harus menanggapinya dengan serius. Tidak seperti di ranah kinetik, tidak ada gencatan senjata di dunia maya," paparnya, yang dikutip The New Arab, Selasa (30/6/2026).
Karadi mengatakan serangan siber Iran ditujukan terhadap sistem yang digunakan oleh infrastruktur penting Israel, organisasi pusat, perusahaan kecil hingga menengah, dan masyarakat umum, dengan menyebutkan kantor hukum dan firma akuntansi sebagai beberapa perusahaan kecil yang terkena dampak.
"Sejauh ini—dan semoga tetap seperti itu—kami telah berhasil menangkis serangan terhadap infrastruktur penting," klaim Karadi.
Perusahaan yang lebih mudah ditembus seringkali berakhir dengan penghapusan data sistem komputer mereka, kata Karadi, tanpa menyebutkan nama.
Iran biasanya menyangkal melakukan kampanye peretasan terhadap negara lain sambil melaporkan serangan terhadap dirinya sendiri.
Ini termasuk serangan Israel, di mana Iran menyalahkan Israel atas serangan siber yang mengganggu layanan perbankan utama pada 23 Juni, serta serangan siber skala besar pada tahun 2021 dan 2023 terhadap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Iran.
(mas)
Lihat Juga :