Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia

Senin, 29 Juni 2026 - 07:52 WIB
loading...
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris saat ini tanpa kapal selam serang bertenaga nuklir yang aktif di laut, membuatnya terlihat tak berdaya dalam melawan Rusia. Foto/Wikipedia
A A A
LONDON - Inggris saat ini tidak memiliki satu pun kapal selam serang bertenaga nuklir yang aktif di laut. Musababnya, hampir seluruh kapal selam serangnya sedang menjalani perbaikan besar-besaran.

Mengutip laporan dari UK Defense Journal, Senin (29/6/2026), armada kapal selam serang Angkatan Laut Kerajaan Inggris kesulitan mengerahkan kapal di laut, dan masalahnya kini telah mencapai titik di mana tidak ada satu pun kapal selam yang tersedia saat ini yang sedang berpatroli. Akibatnya, negara NATO ini untuk sementara kehilangan salah satu kemampuan Angkatan Laut-nya yang paling kuat.

Baca Juga: Langka! AS Bocorkan Lokasi Kapal Selam Nuklirnya di Gibraltar, Diduga untuk Gertak Iran

Situasi serupa pernah terjadi sebelumnya, termasuk baru-baru ini. Namun, tren menunjukkan bahwa sebagian besar armada sekarang menghabiskan lebih banyak waktu berlabuh daripada beroperasi di perairan terbuka.

Menurut data pelacakan sumber terbuka, kelima kapal selam kelas Astute yang beroperasi saat ini berada di pangkalan. Dua di antaranya praktis tidak beroperasi di Faslane, dua lainnya sedang menjalani perbaikan besar-besaran di Devonport, dan yang kelima baru saja kembali dari penugasan.

"Hanya satu kapal dari seluruh armada yang telah kembali dari laut dalam beberapa minggu terakhir, dan sekarang kapal tersebut berada di Devonport dalam rutinitas yang mengikuti penugasan daripada dalam keadaan siap siaga, sehingga kembalinya kapal tersebut tidak banyak mengurangi tekanan pada Angkatan Laut yang, secara praktis, telah kehabisan kapal selam untuk dikirim," bunyi laporan media pertahanan Inggris tersebut.

Kapal selam kelas Astute keenam telah beroperasi tetapi masih menjalani uji coba dan belum siap untuk penugasan garis depan. Sementara itu, yang ketujuh—kapal selam terakhir yang direncanakan dalam program ini—masih dalam pembangunan.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa kekurangan kapal selam serang di laut terkait dengan fakta bahwa perbaikan besar dan pekerjaan modernisasi hanya dapat dilakukan di satu fasilitas.

Keterbatasan ini diperparah oleh kekurangan suku cadang, spesialis teknik, dan awak kapal selam. Menurut laporan tersebut, satu kapal selam bahkan dilucuti komponen-komponen tertentu agar kapal selam lainnya tetap beroperasi.

Publikasi tersebut menyimpulkan bahwa konsekuensinya serius, karena kapal selam ini termasuk di antara alat paling berharga Angkatan Laut Kerajaan Inggris untuk pengawasan rahasia terhadap kapal-kapal Rusia di Atlantik Utara.

Mantan komandan Angkatan Laut, Ryan Ramsey, yang dikutip oleh The Telegraph, mengatakan situasi tersebut membuat Inggris tampak tidak berdaya melawan Rusia. Menurutnya, ini merupakan peringatan serius, menambahkan bahwa masalah tersebut telah disembunyikan selama beberapa dekade tetapi dialihkan ke orang berikutnya yang bertanggung jawab.

Hambatan infrastruktur menjadi begitu mencolok sehingga The Times melaporkan pada bulan Februari bahwa militer Inggris gagal membelanjakan lebih dari £500 juta (USD660 juta) yang dialokasikan untuk pemeliharaan kapal selam sejak tahun 2018, dengan penundaan terus-menerus dalam pekerjaan yang dijadwalkan.

Pada bulan Desember, Laksamana Muda (Purnawirawan) Philip Mathias, mantan direktur kebijakan nuklir di Kementerian Pertahanan Inggris, memperingatkan bahwa Inggris tidak lagi mampu menjalankan program kapal selam nuklir, dengan alasan ketersediaan yang sangat rendah yang disebabkan oleh pemotongan anggaran dan salah urus personel.

"Ini adalah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di era kapal selam nuklir. Ini adalah kegagalan besar dalam perencanaan suksesi dan kepemimpinan," katanya saat itu.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Trump: Komunisme, Ancaman...
Trump: Komunisme, Ancaman Terbesar bagi AS
Rekomendasi
PDIP Nonaktifkan Anggota...
PDIP Nonaktifkan Anggota DPRD TTU Imbas Dugaan Intimidasi Dokter Icha
OTT di Kuansing, KPK...
OTT di Kuansing, KPK Minta Bupati dan Sekda Menyerahkan Diri
Jerman Tersingkir, Klopp...
Jerman Tersingkir, Klopp Masuk Radar Der Panzer
Berita Terkini
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Infografis
Iran: 2 Kapal Induk...
Iran: 2 Kapal Induk Nuklir AS Tak akan Berani Menyerang!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved