Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Jum'at, 26 Juni 2026 - 13:27 WIB
loading...
Malaysia tuntut kompensasi lebih dari Rp4,6 triliun dari KDA Norwegia setelah pembatalan kesepakatan pengadaan rudal NSM untuk kapal perangnya. Foto/US Navy
A
A
A
KUALA LUMPUR - Malaysia telah menuntut kompensasi sebesar €226,13 juta (lebih dari Rp4,6 triliun) dari Kongsberg Defence & Aerospace (KDA) Norwegia setelah pembatalan kesepakatan pengadaan Naval Strike Missiles (NSM) untuk Kapal Tempur Pesisir (LCS) Angkatan Laut-nya. Nilai tuntutan itu disampaikan Menteri Pertahanan Mohamed Khaled Nordin, Jumat (26/6/2026).
Total nilai tuntutan itu terdiri dari €129,86 juta kerugian langsung, yang mencakup pembayaran yang telah dilakukan oleh pemerintah, dan €96,26 juta kerugian tidak langsung untuk biaya tambahan dan kerusakan konsekuensial yang timbul dari kegagalan pengiriman sistem rudal canggih tersebut.
Baca Juga: 5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN, Termasuk Kapal Malaysia yang Batal Miliki NSM
“Biaya tambahan sebenarnya, atau ‘biaya yang melebihi anggaran’, yang akan ditanggung oleh pemerintah belum dapat dipastikan karena bergantung pada metode penyelesaian yang disepakati dan sistem senjata pengganti yang saat ini sedang dievaluasi,” kata Mohamed Khaled dalam jawaban tertulisnya kepada parlemen, yang dilansir MalayMail.
Dia menjawab pertanyaan dari anggota parlemen; Ikmal Hisham Abdul Aziz, yang menanyakan tentang status Sea Trial (Uji Coba Laut) untuk kapal tempur pesisir KD Maharaja Lela dan potensi biaya yang melebihi anggaran akibat pembatalan kontrak NSM.
Mengenai KD Maharaja Lela, Mohamed Khaled mengatakan kapal tersebut sedang menjalani serangkaian uji dan evaluasi bertahap untuk memverifikasi kinerja platform, navigasi, propulsi, dan sistem penting lainnya sebelum diterima secara resmi oleh Angkatan Laut Kerajaan Malaysia.
Dia mengatakan Uji Coba Laut yang dilakukan oleh LUNAS (Lumut Naval Shipyard) pada 29 April berjalan sesuai jadwal dan menunjukkan “kemajuan positif”.
“Penerimaan resmi kapal tersebut masih bergantung pada keberhasilan penyelesaian Sea Acceptance Trial (Uji Penerimaan Laut), perbaikan temuan teknis apa pun, dan verifikasi akhir oleh Angkatan Laut Kerajaan Malaysia,” katanya.
Sekadar diketahui, Norwegia telah membatalkan izin ekspor untuk rudal anti-kapal NSM dan sistem peluncur terkaitnya ke Malaysia dengan alasan keamanan nasional. Padahal Malaysia sudah membayar 95 persen dari nilai kontrak.
NSM adalah rudal anti-kapal jarak jauh yang mampu melakukan misi serangan maritim dengan kecepatan subsonik tinggi dengan jangkauan melebihi 300 km.
Menteri Pertahanan Norwegia Tore O Sandvik telah meminta maaf kepada Malaysia atas keputusan Norwegia untuk mencabut izin ekspor NSM yang ditujukan untuk Angkatan Laut Kerajaan Malaysia. Permintaan maaf tersebut disampaikan selama pertemuan dengan Mohamed Khaled di sela-sela forum Shangri-La Dialogue di Singapura pada 31 Mei lalu.
Saat itu, Mohamed Khaled mengatakan bahwa Sandvik sudah menjelaskan alasan di balik keputusan Norwegia untuk membatalkan izin ekspor NSM. Meskipun Malaysia menerima penjelasan tersebut, Mohamed Khaled mengatakan pemerintah tetap kecewa.
“Kami menyampaikan kekecewaan kami dengan jujur dan terus terang,” katanya, mencatat bahwa Malaysia dan Norwegia telah menjalin hubungan yang erat selama bertahun-tahun.
Kesepakatan rudal tersebut ditandatangani pada tahun 2018 antara Angkatan Laut Kerajaan Malaysia dan KDA Norwegia. Kontrak senilai €124 juta tersebut dimaksudkan untuk melengkapi enam Kapal Tempur Pesisir Malaysia dengan sistem NSM.
Norwegia kemudian mencabut izin ekspor tersebut, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional.
Pembatalan kontrak secara sepihak tersebut telah menjadi titik ketegangan yang jarang terjadi dalam hubungan pertahanan antara Norwegia dan Malaysia, dengan kedua pihak mengisyaratkan keinginan untuk mempertahankan hubungan jangka panjang mereka meskipun ada perselisihan tersebut.
Total nilai tuntutan itu terdiri dari €129,86 juta kerugian langsung, yang mencakup pembayaran yang telah dilakukan oleh pemerintah, dan €96,26 juta kerugian tidak langsung untuk biaya tambahan dan kerusakan konsekuensial yang timbul dari kegagalan pengiriman sistem rudal canggih tersebut.
Baca Juga: 5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN, Termasuk Kapal Malaysia yang Batal Miliki NSM
“Biaya tambahan sebenarnya, atau ‘biaya yang melebihi anggaran’, yang akan ditanggung oleh pemerintah belum dapat dipastikan karena bergantung pada metode penyelesaian yang disepakati dan sistem senjata pengganti yang saat ini sedang dievaluasi,” kata Mohamed Khaled dalam jawaban tertulisnya kepada parlemen, yang dilansir MalayMail.
Dia menjawab pertanyaan dari anggota parlemen; Ikmal Hisham Abdul Aziz, yang menanyakan tentang status Sea Trial (Uji Coba Laut) untuk kapal tempur pesisir KD Maharaja Lela dan potensi biaya yang melebihi anggaran akibat pembatalan kontrak NSM.
Mengenai KD Maharaja Lela, Mohamed Khaled mengatakan kapal tersebut sedang menjalani serangkaian uji dan evaluasi bertahap untuk memverifikasi kinerja platform, navigasi, propulsi, dan sistem penting lainnya sebelum diterima secara resmi oleh Angkatan Laut Kerajaan Malaysia.
Dia mengatakan Uji Coba Laut yang dilakukan oleh LUNAS (Lumut Naval Shipyard) pada 29 April berjalan sesuai jadwal dan menunjukkan “kemajuan positif”.
“Penerimaan resmi kapal tersebut masih bergantung pada keberhasilan penyelesaian Sea Acceptance Trial (Uji Penerimaan Laut), perbaikan temuan teknis apa pun, dan verifikasi akhir oleh Angkatan Laut Kerajaan Malaysia,” katanya.
Sekadar diketahui, Norwegia telah membatalkan izin ekspor untuk rudal anti-kapal NSM dan sistem peluncur terkaitnya ke Malaysia dengan alasan keamanan nasional. Padahal Malaysia sudah membayar 95 persen dari nilai kontrak.
NSM adalah rudal anti-kapal jarak jauh yang mampu melakukan misi serangan maritim dengan kecepatan subsonik tinggi dengan jangkauan melebihi 300 km.
Menteri Pertahanan Norwegia Tore O Sandvik telah meminta maaf kepada Malaysia atas keputusan Norwegia untuk mencabut izin ekspor NSM yang ditujukan untuk Angkatan Laut Kerajaan Malaysia. Permintaan maaf tersebut disampaikan selama pertemuan dengan Mohamed Khaled di sela-sela forum Shangri-La Dialogue di Singapura pada 31 Mei lalu.
Saat itu, Mohamed Khaled mengatakan bahwa Sandvik sudah menjelaskan alasan di balik keputusan Norwegia untuk membatalkan izin ekspor NSM. Meskipun Malaysia menerima penjelasan tersebut, Mohamed Khaled mengatakan pemerintah tetap kecewa.
“Kami menyampaikan kekecewaan kami dengan jujur dan terus terang,” katanya, mencatat bahwa Malaysia dan Norwegia telah menjalin hubungan yang erat selama bertahun-tahun.
Kesepakatan rudal tersebut ditandatangani pada tahun 2018 antara Angkatan Laut Kerajaan Malaysia dan KDA Norwegia. Kontrak senilai €124 juta tersebut dimaksudkan untuk melengkapi enam Kapal Tempur Pesisir Malaysia dengan sistem NSM.
Norwegia kemudian mencabut izin ekspor tersebut, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional.
Pembatalan kontrak secara sepihak tersebut telah menjadi titik ketegangan yang jarang terjadi dalam hubungan pertahanan antara Norwegia dan Malaysia, dengan kedua pihak mengisyaratkan keinginan untuk mempertahankan hubungan jangka panjang mereka meskipun ada perselisihan tersebut.
(mas)
Lihat Juga :