Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Senin, 15 Juni 2026 - 08:23 WIB
loading...
A
A
A
Meski Taiwan bukan agenda utama dalam pertemuan Xi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Brar menilai pulau tersebut tetap menjadi bagian penting dari konteks regional yang sedang dibentuk Beijing.
Dia mengutip pandangan Sydney Seiler dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang menilai Xi ingin menunjukkan peran kepemimpinan global yang dinamis, terutama dalam kelompok negara yang terdiri dari China, Rusia, Iran, dan Korea Utara.
Menurut Brar, pertemuan tersebut juga mengirimkan pesan yang lebih luas mengenai siapa yang sedang membangun dan mengoordinasikan aliansi politik di Asia.
Selama bertahun-tahun, pengaruh China terhadap Korea Utara sebagian besar bertumpu pada status Beijing sebagai pendukung utama Pyongyang.
Namun posisi tersebut, menurut Brar, kini mulai menghadapi tantangan.
Kim Jong-un disebut berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rusia untuk memperoleh bantuan ekonomi dan pengakuan politik tanpa harus bergantung sepenuhnya pada persetujuan China.
“Beijing ingin menunjukkan bahwa bahkan Korea Utara yang lebih independen tetap melihat manfaat untuk tetap dekat dengan China,” ungkap Brar.
Dia menilai hal itu penting karena Beijing memandang Asia Timur bukan sebagai kumpulan hubungan bilateral yang terpisah, melainkan sebagai arena persaingan strategis yang lebih besar dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Brar juga menyoroti dimensi nuklir yang berkembang menjelang pertemuan tersebut.
Beberapa hari sebelum kunjungan Xi, Korea Utara mengungkap fasilitas pengayaan uranium baru, sementara Kim Jong-un mengumumkan rencana memperluas kekuatan nuklir negaranya secara eksponensial.
Menurut Brar, apabila China secara diam-diam menerima status nuklir Korea Utara sebagai harga politik untuk menjaga hubungan yang erat, hal itu dapat menunjukkan kesediaan Beijing untuk mengakomodasi realitas yang berpotensi mengganggu stabilitas demi mempertahankan kohesi politik dengan sekutunya.
“Kalkulasi seperti itu tidak terbatas pada Semenanjung Korea,” katanya.
Dia mengutip pandangan Sydney Seiler dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang menilai Xi ingin menunjukkan peran kepemimpinan global yang dinamis, terutama dalam kelompok negara yang terdiri dari China, Rusia, Iran, dan Korea Utara.
Hubungan Bilateral dan Dimensi Nuklir
Menurut Brar, pertemuan tersebut juga mengirimkan pesan yang lebih luas mengenai siapa yang sedang membangun dan mengoordinasikan aliansi politik di Asia.
Selama bertahun-tahun, pengaruh China terhadap Korea Utara sebagian besar bertumpu pada status Beijing sebagai pendukung utama Pyongyang.
Namun posisi tersebut, menurut Brar, kini mulai menghadapi tantangan.
Kim Jong-un disebut berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rusia untuk memperoleh bantuan ekonomi dan pengakuan politik tanpa harus bergantung sepenuhnya pada persetujuan China.
“Beijing ingin menunjukkan bahwa bahkan Korea Utara yang lebih independen tetap melihat manfaat untuk tetap dekat dengan China,” ungkap Brar.
Dia menilai hal itu penting karena Beijing memandang Asia Timur bukan sebagai kumpulan hubungan bilateral yang terpisah, melainkan sebagai arena persaingan strategis yang lebih besar dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Brar juga menyoroti dimensi nuklir yang berkembang menjelang pertemuan tersebut.
Beberapa hari sebelum kunjungan Xi, Korea Utara mengungkap fasilitas pengayaan uranium baru, sementara Kim Jong-un mengumumkan rencana memperluas kekuatan nuklir negaranya secara eksponensial.
Menurut Brar, apabila China secara diam-diam menerima status nuklir Korea Utara sebagai harga politik untuk menjaga hubungan yang erat, hal itu dapat menunjukkan kesediaan Beijing untuk mengakomodasi realitas yang berpotensi mengganggu stabilitas demi mempertahankan kohesi politik dengan sekutunya.
“Kalkulasi seperti itu tidak terbatas pada Semenanjung Korea,” katanya.
Lihat Juga :