706 Paus dan Lumba-lumba Dibantai, Laut Ini Berubah Jadi Perairan Darah

Kamis, 04 Juni 2026 - 14:10 WIB
loading...
A A A
"Skala pembunuhan ini belum pernah terjadi sebelumnya, melampaui dua pertiga dari semua mamalia laut yang dibunuh di pulau-pulau tersebut sepanjang tahun sebelumnya," kata LSM tersebut.

"Perburuan berubah menjadi kekacauan karena para pemburu paus mengakui adanya kekurangan tombak tulang belakang, yang wajib digunakan untuk membunuh lumba-lumba. Banyak mamalia laut malah dibunuh menggunakan pisau, yang hanya membuat hewan-hewan tersebut stres dalam waktu lama sebelum akhirnya mati kehabisan darah," paparnya.

Valentina Crast, direktur kampanye untuk Kepulauan Faroe di Sea Shepherd, mengatakan "tidak ada yang dapat membenarkan" tingkat penderitaan hebat yang ditimbulkan pada hewan-hewan yang tidak bersalah itu. Dia mendesak pemerintah di seluruh Eropa untuk melarang pembantaian tahunan tersebut.

“Lumba-lumba dibunuh tanpa persyaratan wajib peralatan. Hewan-hewan dihancurkan di antara bebatuan dan dihantam baling-baling kapal. Dan ketika pembantaian ketiga yang rahasia dimulai, yang sengaja disembunyikan dari saluran publik, para konservasionis kelautan ditangkap karena mendokumentasikannya," kata Crast, seperti dikutip NDTV, Kamis (4/6/2026).

Tradisi Era Viking


Dianggap oleh para pendukungnya sebagai tradisi era Viking berusia 1.000 tahun, pembantaian massal paus telah memicu reaksi keras dari para aktivis hak-hak hewan, yang menganggapnya sebagai praktik barbar dan ketinggalan zaman yang tidak diperlukan untuk kelangsungan hidup modern.

Namun, Kepulauan Faroe—wilayah otonom Denmark—membela tradisi tersebut, menyatakan bahwa itu adalah praktik budaya penting yang menyediakan makanan bagi masyarakat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Denmark Rogoh Rp757...
Denmark Rogoh Rp757 Miliar untuk Beli Rudal AS, Agar Greenland Tak Dicaplok Trump
PM Denmark: Trump Masih...
PM Denmark: Trump Masih Ngotot Ingin Caplok Greenland
Siapa Suku Inuit? Penduduk...
Siapa Suku Inuit? Penduduk Asli Greenland yang Suka Berburu Paus
Mengapa Tidak Ada Bukti...
Mengapa Tidak Ada Bukti Greenland Menghadapi Ancaman Asing?
Greenland Merespons...
Greenland Merespons Kesepakatan Trump dan Bos NATO: Kedaulatan Adalah Garis Merah!
Trump Umumkan Kesepakatan...
Trump Umumkan Kesepakatan dengan NATO: AS Dapat Akses Total dan Permanen di Greenland
Parlemen Denmark Serius...
Parlemen Denmark Serius Pertimbangkan Boikot Piala Dunia 2026
Iran Tembakkan 7 Rudal...
Iran Tembakkan 7 Rudal Balistik ke Kuwait, Balas Serangan AS di Pulau Qeshm dan Goruk
Israel Larang Wartawan...
Israel Larang Wartawan Rilis Video Rudal Iran Seliweran di Langit
Rekomendasi
Hari Ini, Timnas Indonesia...
Hari Ini, Timnas Indonesia vs Australia Berebut Tiket Final di Piala AFF U-19 2026
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Ruben Onsu Soroti Live...
Ruben Onsu Soroti Live TikTok Anak hingga Malam Hari, Hak Asuh Jadi Pertimbangan Serius
Berita Terkini
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
Ini Bukti Biadabnya...
Ini Bukti Biadabnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat
Trump: 49 Rudal Tomahawk...
Trump: 49 Rudal Tomahawk Gempur Iran, AS Akan Bombardir Habis-habisan
Iran Balas Bombardir...
Iran Balas Bombardir 18 Target Militer AS, Termasuk Sistem Rudal Patriot
Sistem Rudal Iran Tembaki...
Sistem Rudal Iran Tembaki Jet Tempur F-16 AS
AS Menyerang Lagi, Iran...
AS Menyerang Lagi, Iran Tutup Total Selat Hormuz
Infografis
Penerima Bansos 2026...
Penerima Bansos 2026 Wajib Tahu! Ini Penjelasan Desil yang Jadi Penentu Kelayakan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved