Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
Kamis, 04 Juni 2026 - 09:20 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump (kiri) akui telah mendamparat PM Israel Benjamin Netanyahu dengan kata-kata kasar dalam pertengkaran di telepon. Foto/NDTV
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Rabu mengonfirmasi bahwa mencaci maki Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dengan kata-kata kasar dalam percakapan telepon. Dia membenarkan pertengkaran verbal itu terkait eskalasi Israel di Lebanon.
Berbicara di podcast "Pod Force One" The New York Post pada Rabu, Trump mengakui bahwa dia menyebut Netanyahu "benar-benar gila" dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih.
Baca Juga: Trump Damprat Netanyahu: 'Kau Benar-benar Gila, Kau Sudah Dipenjara Kalau Bukan karena Aku'
"Ya," kata Trump, mengakui pertengkaran tersebut.
"Saya tidak akan mengatakan marah. Saya sedikit terganggu dengan pertengkaran terus-menerus antara dia dan Lebanon, Anda tahu. Pada suatu saat saya berkata, 'Bibi, kita harus menghentikan ini. Kita harus menghentikannya'," paparnya.
Namun, dia dengan cepat menyatakan bahwa dia memiliki hubungan dekat dengan Netanyahu meskipun terjadi pertengkaran tersebut, dengan mengatakan, "Kami telah bekerja sama dengan baik...Saya sangat menyukai Bibi."
Pertengkaran tersebut menggarisbawahi hubungan yang goyah antara dua sekutu sayap kanan yang memulai perang dengan melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian meluas dengan Israel menginvasi Lebanon.
Menurut laporan Axios, yang mengutip pejabat AS dan sumber ketiga yang diberi pengarahan tentang percakapan tersebut, Trump mengeklaim telah membantu menyelamatkan Netanyahu dari penjara—merujuk pada dukungannya selama persidangan korupsi pemimpin Israel tersebut.
"Kau gila. Kau akan dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," kata Trump kepada Netanyahu dalam percakapan telepon tersebut, menurut laporan Axios.
Pada satu titik, seorang sumber mengatakan Trump marah kepada Netanyahu dan bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan?"
Sebelum percakapan tersebut, Trump dilaporkan mengetahui bahwa Hizbullah, milisi pro-Iran yang beroperasi dari Lebanon, telah menembaki Israel dan bahwa Tel Aviv perlu membela diri. Tetapi sumber-sumber Amerika mengatakan bahwa Trump merasa, dalam beberapa hari terakhir, Netanyahu telah meningkatkan eskalasi secara tidak proporsional.
Setelah percakapan telepon dengan Netanyahu, yang dia sebut sebagai "produktif", Trump mengatakan bahwa tidak ada pasukan Israel yang akan menuju Ibu Kota Lebanon, Beirut.
"Saya berbicara dengan Bibi Netanyahu hari ini, memintanya untuk tidak melakukan serangan besar-besaran ke Beirut, Lebanon. Dia memutar balik pasukannya. Terima kasih, Bibi!" tulisnya di platform Truth Social miliknya.
Pemimpin AS itu menambahkan, "Saya juga berbicara dengan perwakilan para pemimpin Hizbullah, dan mereka setuju untuk berhenti menembak Israel dan tentaranya. Demikian pula, Israel setuju untuk berhenti menembak mereka. Mari kita lihat berapa lama itu akan bertahan—Semoga itu akan berlangsung SELAMANYA!"
Netanyahu juga mengonfirmasi percakapan telepon tersebut tetapi menganggapnya bukan sebagai pengekangan, melainkan lebih sebagai peringatan, dengan mengatakan bahwa dia memberi tahu Trump bahwa Israel akan menyerang target di Beirut jika serangan Hizbullah tidak berhenti.
Berbicara di podcast "Pod Force One" The New York Post pada Rabu, Trump mengakui bahwa dia menyebut Netanyahu "benar-benar gila" dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih.
Baca Juga: Trump Damprat Netanyahu: 'Kau Benar-benar Gila, Kau Sudah Dipenjara Kalau Bukan karena Aku'
"Ya," kata Trump, mengakui pertengkaran tersebut.
"Saya tidak akan mengatakan marah. Saya sedikit terganggu dengan pertengkaran terus-menerus antara dia dan Lebanon, Anda tahu. Pada suatu saat saya berkata, 'Bibi, kita harus menghentikan ini. Kita harus menghentikannya'," paparnya.
Namun, dia dengan cepat menyatakan bahwa dia memiliki hubungan dekat dengan Netanyahu meskipun terjadi pertengkaran tersebut, dengan mengatakan, "Kami telah bekerja sama dengan baik...Saya sangat menyukai Bibi."
Pertengkaran tersebut menggarisbawahi hubungan yang goyah antara dua sekutu sayap kanan yang memulai perang dengan melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian meluas dengan Israel menginvasi Lebanon.
Di Balik Pertengkaran Trump-Netanyahu
Menurut laporan Axios, yang mengutip pejabat AS dan sumber ketiga yang diberi pengarahan tentang percakapan tersebut, Trump mengeklaim telah membantu menyelamatkan Netanyahu dari penjara—merujuk pada dukungannya selama persidangan korupsi pemimpin Israel tersebut.
"Kau gila. Kau akan dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," kata Trump kepada Netanyahu dalam percakapan telepon tersebut, menurut laporan Axios.
Pada satu titik, seorang sumber mengatakan Trump marah kepada Netanyahu dan bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan?"
Sebelum percakapan tersebut, Trump dilaporkan mengetahui bahwa Hizbullah, milisi pro-Iran yang beroperasi dari Lebanon, telah menembaki Israel dan bahwa Tel Aviv perlu membela diri. Tetapi sumber-sumber Amerika mengatakan bahwa Trump merasa, dalam beberapa hari terakhir, Netanyahu telah meningkatkan eskalasi secara tidak proporsional.
Setelah percakapan telepon dengan Netanyahu, yang dia sebut sebagai "produktif", Trump mengatakan bahwa tidak ada pasukan Israel yang akan menuju Ibu Kota Lebanon, Beirut.
"Saya berbicara dengan Bibi Netanyahu hari ini, memintanya untuk tidak melakukan serangan besar-besaran ke Beirut, Lebanon. Dia memutar balik pasukannya. Terima kasih, Bibi!" tulisnya di platform Truth Social miliknya.
Pemimpin AS itu menambahkan, "Saya juga berbicara dengan perwakilan para pemimpin Hizbullah, dan mereka setuju untuk berhenti menembak Israel dan tentaranya. Demikian pula, Israel setuju untuk berhenti menembak mereka. Mari kita lihat berapa lama itu akan bertahan—Semoga itu akan berlangsung SELAMANYA!"
Netanyahu juga mengonfirmasi percakapan telepon tersebut tetapi menganggapnya bukan sebagai pengekangan, melainkan lebih sebagai peringatan, dengan mengatakan bahwa dia memberi tahu Trump bahwa Israel akan menyerang target di Beirut jika serangan Hizbullah tidak berhenti.
(mas)
Lihat Juga :