Blok Rusia Tekan Armenia: Pilih Tetap Jadi Sekutu atau Hengkang ke Uni Eropa!

Selasa, 02 Juni 2026 - 14:22 WIB
loading...
Blok Rusia Tekan Armenia:...
Blok Uni Ekonomi Eur-Asia (EAEU) pimpinan Rusia menekan anggotanya, Armenia, untuk memilih tetap jadi sekutu atau beralih jadi anggota Uni Eropa. Foto/Caucasus Watch
A A A
MOSKOW - Uni Ekonomi Eur-Asia (EAEU), sebuah blok ekonomi pimpinan Rusia, telah menekan anggotanya; Armenia, untuk mengadakan referendum nasional guna memilih tetap berada di EAUE atau beralih ke Uni Eropa (UE). Tekanan ini muncul setelah perseteruan antara Rusia dan Armenia semakin meruncing.

Pada pertemuan Supreme Eurasian Economic Council di Astana pada 29 Mei, presiden dari empat negara anggota EAEU—Rusia, Kazakhstan, Belarusia, dan Kyrgyzstan—mengadopsi pernyataan mengenai Armenia.

Baca Juga: Putin Ragu Drone Rusia Serang Negara NATO, Presiden Rumania Sodorkan Bukti

“Kami sepakat bahwa Republik Armenia harus mengadakan referendum nasional sesegera mungkin mengenai bergabung dengan Uni Eropa atau tetap menjadi anggota Uni Ekonomi Eur-Asia,” bunyi pernyataan tersebut.

Para penandatangan mengatakan posisi mereka mencerminkan langkah-langkah yang telah diambil Armenia menuju keanggotaan Uni Eropa.

Dokumen tersebut secara khusus menyebutkan pengesahan undang-undang “Tentang Peluncuran Proses Aksesi Armenia ke Uni Eropa” oleh parlemen Armenia pada tahun 2025, dan dukungan Uni Eropa terhadap aspirasi Eropa Armenia dalam deklarasi bersama yang dikeluarkan setelah KTT Armenia–UE pertama pada 5 Mei 2026.

Para pemimpin negara anggota EAEU mengatakan persiapan Armenia untuk kemungkinan aksesi Uni Eropa menciptakan risiko signifikan terhadap keamanan ekonomi negara-negara anggota EAEU.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa Belarusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Rusia telah memutuskan untuk menyiapkan laporan tentang penangguhan penerapan Perjanjian EAEU terhadap Armenia. Mereka berencana untuk mempresentasikan laporan tersebut pada Desember 2026.

Perdana Menteri (PM) Armenia Nikol Pashinyan telah menolak seruan agar segera mengadakan referendum tentang keluar Armenia dari EAEU untuk bergabung dengan UE.

Penolakan dari Pashinyan terjadi pada hari Senin ketika Presiden Rusia Vladimir Putin menelepon, yang dilaporkan media setempat, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

Putin menegaskan bahwa keanggotaan UE dan EAEU sekaligus tidak mungkin bagi Armenia. Putin juga memberikan ancaman terselubung, memperingatkan Armenia agar tidak mengejar ambisi Baratnya, dan mencatat bahwa "skenario Ukraina" telah dimulai dengan aspirasi Kyiv untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Dalam pidato video yang disiarkan di media sosial, Pashinyan menyatakan bahwa pemerintah di ibu kota Yerevan akan terus bekerja dalam kerangka EAEU hingga pilihan antara kedua blok tersebut "menjadi tak terhindarkan", dan mencatat bahwa referendum apa pun sebelum Armenia secara resmi mengajukan status kandidat Uni Eropa tetap murni teoretis.

"Mengadakan referendum untuk pilihan teoretis tentu saja tidak masuk akal dan tidak dapat dibenarkan," kata Pashinyan, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/6/2026), menggambarkan hubungan dengan Rusia berada dalam "fase transformasi".

Baik Kremlin maupun Yerevan mengatakan bahwa Putin telah menelepon Pashinyan untuk membahas hasil KTT, dan untuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya.

Namun, Rusia telah meningkatkan tekanan pada Armenia secara signifikan menjelang pemilihan parlemen di negara Kaukasus tersebut pada 7 Juni.

Pada akhir pekan, Moskow memanggil pulang duta besarnya untuk Armenia untuk konsultasi.

Pada hari Senin, badan pengawas pertanian Rusia menangguhkan impor ikan dan makanan laut dari Armenia, dengan alasan pelanggaran kesehatan.

Embargo tersebut menghantam sektor vital yang mengirimkan 30 persen ekspornya ke Rusia, dan menyusul larangan perdagangan terhadap produk pertanian Armenia, bunga, air mineral, dan alkohol—taktik umum yang digunakan Moskow yang tidak senang dengan bekas koloninya.

Di sisi lain, Uni Eropa menuduh Moskow mencoba melumpuhkan ekonomi Armenia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Pemerintah Arab Saudi...
Pemerintah Arab Saudi Cuci Ka'bah Hari Ini, Gunakan Air Zamzam dan Wewangian
Rekomendasi
Merger Enam BPR Dapat...
Merger Enam BPR Dapat Restu OJK, Lintas 5 Provinsi di Sumatera
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama The Extraordinary House of Broken Hearts Eksklusif di V+Short
Dilaporkan Balik Oleh...
Dilaporkan Balik Oleh Penyanyi Muda Syahravi, Begini Tanggapan Fariz RM
Berita Terkini
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Infografis
Serahkan Kendali ke...
Serahkan Kendali ke Uni Eropa, Israel Mundur dari Perlintasan Rafah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved